Santri Cendekia

Seri Fallacy : Ad populum

Seri Fallacy 
 
Ad populum
 
“3 dari 5 perempuan menggunakan sampo ini!”
 
Pernahkah kamu mendengar pernyataan itu di iklan sampo? Pernyataan itu diucapkan agar penonton mendapat kesan sampo tersebut digunakan oleh banyak orang. Kamu yang tidak memakai sampo bermerk sama dengan mereka dibuat merasa bersalah sebagai minoritas, tidak gaul, kaum proletar, tidak ikut trend, atau bahkan lebih kasar lagi; kamu binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.
 
Sekarang coba ingat-ingat kembali iklan Coca Cola. Iklan minuman bersoda itu tidak pernah diisi oleh satu orang, tapi oleh banyak sekali orang. Mereka minum ramai-ramai seolah ritual minum minuman bersoda selalu dilakukan berjama’ah, padahal tidak begitu kan?
 
Pernahkah kamu bertanya, sebenarnya apa sih kerjaan si Yujeng-orang yang duduk di bangku penonton- di acara Ini Talk Show NET TV? Jangan salah kira. Peran Yujeng sangat penting, yaitu menjadi pemicu interaksi antara Sule, penonton di studio, dan di rumah, sehingga acara terkesan seru dan melibatkan diri kita.
 
Contoh-contoh yang disebutkan di atas adalah upaya untuk menarik perhatian kita dengan sihir ad populum. Ad populum adalah pikiran irasional yang disebabkan oleh pengaruh orang banyak.
 
Kita cenderung mengikuti langkah yang diambil oleh orang kebanyakan atau orang yang dianggap populer. Endorsement dan iklan memanfaatkan kecenderungan tersebut untuk membangkitkan demand kita terhadap suatu produk, walaupun seringkali pada kenyataannya kita tidak membutuhkan produk itu. Pada aspek ekonomi, ad populum menjadikan kita orang yang konsumtif.
 
Saat ini banyak yang berusaha merebut perhatian kita, dari masalah politik sampai masalah domestik, dari acara televisi, iklan, sampai linimasa sosial media. Kalau kita tidak hati-hati, kekeliruan Ad populum bisa berpengaruh buruk pada etos kerja dan produktifitas.
 
Sepanjang tahun kita dibanjiri berita dan isu publik sampai kita kelelahan memperhatikan itu semua. Di mana-mana tersebar distraksi perhatian, padahal itu semua bukan masalah kita. Hal ini membuat kita seolah menangani banyak hal padahal tidak satupun hal penting yang kita kerjakan. Atau membuat kita tidak fokus pada tugas dan hal-hal yang mesti kita selesaikan.
 
Steven R Covey, penulis buku 7 Habits of Highly Effective People punya solusi untuk memahami masalah tersebut dengan lebih baik. Ia membuat analogi dua lingkaran yaitu lingkaran perhatian (circle of concern) dan lingkaran pengaruh (circle of influence).
 
Orang yang tidak produktif dan tidak efektif memiliki lingkaran perhatian yang lebih besar dari lingkaran pengaruhnya. Orang macam ini memperhatikan terlalu banyak hal, sampai dia sendiri tidak tahu hal apa yang bisa dan penting dia perbuat.
 
Misalnya seorang pelajar jurusan fisika yang memperhatikan liga Inggris, Itali, Jerman, Spanyol, juga F1 dan Moto GP. Dia setiap minggu tidak ketinggalan semua TV series yang populer. Oh ya, dia juga tidak lupa mengikuti perkembangan politik tanah air. Banyak sekali yang ia perhatikan sampai ia lupa bahwa lingkaran pengaruhnya adalah ilmu fisika. Pada akhirnya orang ini tahu banyak hal tapi tidak sukses di bidangnnya.
 
Lain halnya dengan orang yang produktif dan efektif, lingkaran perhatian orang macam ini begitu kecil dan ia selalu berusaha memperbesar lingkaran pengaruh yang dia punya. Bahkan bisa jadi si orang produktif ini hanya memperhatikan satu hal saja dalam hidupnya.
 
Beberapa tahun lalu pak Habibi ditanya wartawan tentang artis Indonesia yang beliau kenal. Beliau menjawab hanya mengenal Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari karena mereka berdua pemeran utama di film Habibi dan Ainun. Pak Habibi juga mengenal Teuku Wisnu dan Shiren Shungkar karena bu Ainun suka menonton Cinta Fitri. Pak Habibi tidak kenal artis Indonesia lainnya selain 4 artis itu.
 
Coba tanyakan pada pak Habibi siapa pelatih Manchester United sekarang? Bisa jadi beliau tidak tahu. Atau tanya siapa Isyana Sarasvati pada beliau, apa saja lagu hitnya, mungkin beliau juga tidak tahu.
 
Bill Gates sangat pakar dalam memprogram software, tapi dia tidak tahu bagaimana cara membuat hardware komputer dan banyak bidang lainnya yang dia tidak tahu mendalam.
 
Neymar sangat jago bermain bola (ya walau Brazil tidak sukses di Copa Amerika), tapi pada sebuah video dia ditantang untuk bermain bulu tangkis. Gerakkan Neywmar begitu kaku, bahkan untuk serve saja dia tidak bisa. Tonton videonya di sini
 
Penjelasan di atas bukan berarti kita tidak boleh mengetahui banyak hal. Boleh saja kita tahu banyak hal tapi pastikan bahwa lingkaran pengaruh yang kita miliki lebih besar dari lingkaran perhatian kita. Fokuslah pada lingkaran pengaruh dan perkecil lingkaran perhatian.
 
Ad populum adalah racun bagi autentisitas diri. Berhati-hatilah dengan keramaian, keriuhan, dan sesuatu yang diikuti banyak orang. Kebenaran atau kepatutan sebuah tindakan tidak ditentukan oleh kuantitas orang yang mempercayai atau melakukannya.
 
Berhentilah sejenak untuk berpikir dan meneliti, apa yang sebenarnya kita yakini? apa yang penting dilakukan? Jangan hanya membebek dan mengekor jejak-jejak banyak orang yang mungkin salah arah itu. Sebagai seorang muslim, kita harus berjalan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, walau karihal musyrikun, walau karihal munafiquun, walau karihal kaafiruun. Tak peduli apakah orang musyrik, kafir, atau munafik membencinnya, yang penting adalah berjalan ke arah yang benar, bukan untuk jadi populer!

Ginan Aulia Rahman

Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia, dulu nyantren di Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan Ma'had Addauly Damascus, Syria.

Add comment

Tinggalkan komentar