Jangan Jadi Mahasiswa Salah Orientasi!

Impian menjadi sarjana mungkin merupakan salah satu tuntutan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Gelar sarjana pun seakan menjadi tujuan utama saat anak-anak menyelesaikan pendidikan tingkat MA/SMA ataupun sederajatnya. Universitas-universitas ternama menjadi incaran beberapa siswa, maka tak heran jika beribu-ribu orang mendaftarkan diri terhadap instansi yang diidolakan. Padahal hanya beberapa saja yang akan lolos dan diterima.

Dalam hal ini, ada beberapa orientasi yang salah ataupun kurang pas dalam fenomena perkuliahan saat ini. Salah satunya adalah orientasi akan tujuan paska kuliah yaitu bekerja. Selain mengakibatkan ketergesa-gesaan dalam belajar, hal ini juga mengakibatkan sedikitnya penguasaan akan ilmu pengetahuan. Padahal para ulama terdahulu berorientasi akan ilmu dalam belajar, sehingga mereka dapat menguasai dan mengetahui akan bidang studi yang digeluti. Kesalahan orientasi ini juga berdampak pada jurusan-jurusan dengan orientasi kerja yang jelas dan diminati serta jurusan yg kurang berpotensi akan pekerjaan bahkan kurang diminati.

Disusul dengan fakta lain bahwa orientasi akan universitas negri lebih baik daripada swasta. Selain menyebabkan kurang teliti nya dalam memilih kampus “tanpa mencermati kwalitas jurusan dan tenaga-tenaga pengajarnya”, hal ini juga menjadikan beban dan tantangan besar bagi universitas-universitas swata di Indonesia. Mereka harus mampu untuk survive dan bersaing dengan universitas-universitas negri. Bahkan tak jarang universitas swasta menjadi opsi kedua jikalau saja beberapa mahasiswa tidak diterima dalam tahap seleksi di kampus negri.

Padahal output yang dihasilkan oleh alumni-alumni universitas swasta tak sedikit yang memiliki kapasitas yang baik. Bahkan tak jarang dapat menyaingi alumni-alumni universitas negri. Dr Hamid Fahmi Zarkasyi (salah satu cendikiawan muslim di Indonesia) dalam hal ini menyampaikan bahwa “dalam memilih tempat untuk mengambil studi hendaklah kita tidak semerta-merta memilih di mana kita akan belajar, namun yang terpenting adalah dengan siapa kita akan berguru”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, aspek seorang pengajar/guru lebih berperan penting dalam membentuk kepribadian murid dibandingkan lembaga pendidikan itu sendiri. Sebagaimana Imam Hanbali berguru pada Imam Syafii, dan Imam Syafii yang berguru kepada Imam Malik. Ataupun beberapa cendikiawan muslim saat ini, seperti Dr Zakir Naik yang berguru pada Syekh Ahmad Deedat, dan Dr Hamid fahmi Zarkasyi, Dr Adian Husaini yang berguru pada Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas.

 

Mahfud Khoirul Amin

Mahfud Khoirul Amin

Head of Program at UNIRES UMY
Mahfud Khoirul Amin

Latest posts by Mahfud Khoirul Amin (see all)

Tinggalkan komentar

%d bloggers like this: