Wasiat Terbaik untuk Anak-anak Kita (Al-Baqarah 132 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan Ibrahim telah mewasiatkan( ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri”. (Al-Baqarah : 132)

     Hanya dua orang Nabi Allah yang mendapatkan gelar di dalam Al-Qur’an sebagai seorang uswatun hasanah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Ibrahim as. Juga hanya dua orang Nabi ini juga yang kita shalawati di setiap duduk tahiyat di dalam salat-salat kita. Ini berarti, baik Rasulullah maupun Nabi Ibrahim pasti memiliki keteladanan yang bercahaya di setiap liku kisah hidupnya. Salah satu keteladanan itu pun Allah hadirkan dalam surat ini. Surat yang sangat perlu menjadi renungan bagi seluruh insan, khususnya bagi kita yang sudah diamanahi Allah sebagai orang tua.

    Dalam surat ini, disampaikan bahwa Nabi Ibrahim memberikan wasiat kepada anak-anaknya. Walaupun sebenarnya washiat ini berlaku hingga ke jaman diangkatnya Rasulullah sebagai Nabi terakhir. Adapun mengapa dalam ayat ini juga menyebutkan nama Nabi Ya’qub, itu karena surat ini diperuntukan untuk Bani Israil yang mengaku-aku mengikuti millah Ibrahim dan Ya’qub (Israil) nenek moyang mereka, padahal mereka sudah jauh melenceng dari millah Ibrahim dan Ya’qub yang lurus dan tegak itu. Hanya saja, untuk hal ini akan dibahas pada lain kesempatan, insyaAllah.

       Kata Washsha (berwasiat) itu memiliki makna yang lebih kuat dari pada berpesan. Menurut Ustad Rusdi Malik, sesuatu dikatakan “washiat” apabila pemilik kuasa atas sesuatu memberikan atau memindahtangankan atau mendelegasikan kuasa atas sesuatu itu kepada pihak lain yang dipilihnya secara prerogatif dan otoritatif. Lalu apa yang sebenarnya apa yang sudah diwashiatkan Ibrahim kepada anak dan cucunya? Yang kelak akan sampai hingga kepada jaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “ Berserahdirilah!” Dia (Ibrahim) menjawab: “Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam (Al-Baarah : 31)

     Ibrahim mewasiatkan kalimat tauhid. Kalimat yang menyatakan penyerahan diri kepada Rabb semesta alam. Ibrahim mendelegasikan dan memindah tangankan kalimat tauhid ini kepada anak dan cucunya, agar tauhid tetap tegak meskipun Ibrahim sudah tiada. Ini pesan dan tamparan yang sangat keras kepada seluruh keluarga di jaman ini, yang ketika sudah mendengar kata washiat, yang diingat adalah harta gono-gini. Bukan! Bukan itu! Bahwa washiat terbaik yang bisa orang tua berikan kepada anak-anaknya adalah washiat untuk senantiasa mentauhidkan Allah, serta menegakan dan menyebarkan tauhid itu di muka bumi.

     Dalam pesan Ibrahim ini, ada pesan kesalehan pribadi maupun sosial. Kesalehan pribadi untuk membangun tauhid di dalam diri, dan kesalehan sosial untuk kelak melanjutkan washiat tauhid ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Maka kita patut berkaca, kita lebih sering khawatir tentang jenjang pendidikan formal anak-anak kita, kita lebih sering khawatir tentang bagaimana keadaan ekonomi anak kita nanti, apakah dia bekerja di perusahaan yang besar atau kecil. Kita lebih sering khawatir tentang nilai-nilai raport dan ranking akademik anak kita. Kita lebih sering bangga terhadap pencapaian-pencapaian dunia mereka. Kita lega dan merasa sudah sukses jika mereka berhasil menggenggam dunia di tangan mereka. Namun kita lalai memantau perkembangan tauhid mereka. Bagaimana islamic worldview mereka. Bagaimana mereka menilai dan menimbang yang salah dan yang benar. Bagaimana ghirah mereka terhadap islam. Bagaimana semangat mereka untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Bagaimana loyalitas mereka terhadap islam. Akhirnya kita menjadi orang tua yang jahal murakkab. Merasa sukses sebagai orang tua, Namun Allah murka kepada kita.

     Bagaimana tidak murka? Sudah merasa sukses menguliahkan anak di kampus negeri ternama, padahal salat 5 waktu saja belum sempurna. Sudah merasa sukses anak mapan dan berlebih secara finansial, tapi alih-alih mengerti apa itu sedekah, infaq, zakat, duit malah terhambur di jalan maksiat. Sudah merasa sukses karena sempurna gelar akademis anak bertingkat-tingkat, padahal sudah tak jelas lagi kemana aqidahnya. Sudah merasa sukses anak sekolah di negeri orang, padahal akhlak baik sudah hilang entah kemana.

     Jangan sampai perhatian dan pikiran kita soal anak melulu urusan tetek bengek seputar dunia. Yang harusnya mendapat perhatian terbesar kita adalah urusan aqidahnya, bagaimana tauhidnya. Penulis banyak melihat orang tua yang begitu besar perhatiannya terhadap urusan dunia si anak, namun agamanya entah bagaimana. Karena apabila kita sudah berhasil mewashiatkan tauhid dengan baik kepada anak-anak kita, insyaAllah anak-anak kita akan mampu mengarungi dan menghadapi fitnah-fitnah di kehidupannya dengan baik. Kebaikannya pun, tentu akan menjadi pahala tersendiri untuk kita di akhirat. Maka dengan tauhid, kita menyelamatkan anak-anak kita dan diri kita sendiri.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: