6 Pemuda Pengantar Cahaya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

 

     Tahun 11 Kenabian, tepatnya bulan juli tahun 620 M. jika di dalam buku “Ar-Rahiqul Makhtum, Sirah Nabawiyah” karangan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, maka saat itu Rasulullah sudah memasuki fase dakwah ketiga di makkah, yaitu berdakwah kepada kabilah kabilah yang berasal dari luar makkah. Dengan didampingi oleh sahabat setianya, Abu Bakar ra, Rasulullah memanfaatkan momen haji untuk akvitias dakwah ini.

      Setelah sebelumnya Rasulullah sudah sempat berdakwah kepada Bani Kalb, Bani Syaiban, Bani Amir bin Sha’sha’ah dan kepada berbagai kabilah lainnya dan menemui kebuntuan dan hasil yang nihil. Maka di kesempatan kali ini, Allah ‘azza wa jalla menakdirkan Rasulullah dan Abu Bakar untuk bertemu dengan 6 orang pemuda. 6 orang pemuda yang kelak akan menjadi pengantar cahaya pertama ke sebuah kota penyakitan yang penuh pertumpahan darah dari perang saudara yang tak usai-usai.

        Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin betul-betul mengambil Hikmah dari turunnya surat ‘abasa. Bahwa terkadang penilaian kita tentang objek dakwah bisa salah. Yang terlihat memiliki posisi begitu strategis dan potensial bagi kekuatan dakwah, ternyata malah menjadi musuh abadi bagi dakwah hingga matinya, seperti Abu Jahal. Yang terlihat sekilas lemah dan kurang bisa menopang dakwah, justru menjadi ujung-ujung tombak perjuangan dakwah di masa depan, seperti Bilal, Ibnu Mas’ud, Khabbab bin Arat, Salman Al Farisi.

       Maka melihat 6 pemuda yang sedang berada di Mina itu, Rasulullah tak memicingkan mata dan tetap berdakwah seperti beliau berdakwah kepada kabilah-kabilah lainnya. Ternyata 6 pemuda ini adalah orang-orang yang berasal dari kota yatsrib. Kota yang kelak akan Rasulullah ubah namanya menjadi madinah selepas beliau hijrah ke sana.

          Rasulullah bertanya kepada 6 pemuda itu, “Siapa kalian?”. Mereka menjawab, “kami dari rombongan khazraj”. Rasulullah bertanya lagi, “Apa kalian sekutu orang-orang yahudi?”. “Ya”, jawab mereka. Rasulullah bertanya lagi, “apa kalian mau duduk-duduk dan berbincang-bincang denganku?”. “Ya, baiklah”, jawab mereka. Rasulullah pun duduk bersama mereka dan menyeru mereka kepada Allah dan menawarkan islam serta membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

        Mereka berkata satu sama lain, “Demi Allah, kalian tahu sendiri dia memang benar-benar seorang Nabi seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang yahudi. Janganlah sampai mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuk islam!!”. Mereka berkata lagi, “kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum yang lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka melalui perantaramu. Kami akan menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada dirimu”.

      Lalu 6 orang pemuda ini kembali ke madinah, dan membawa risalah islam dan menyebarkannya di sana. Sehingga tidak ada satu rumahpun di yatsrib melainkan sudah menyebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Singkat cerita, tahun selanjutnya, 6 orang pemuda ini berhasil mengajak 7 orang lagi untuk masuk islam dan melakukan baiat Aqabah pertama. Dan setahun kemudian, setelah Mush’ab bin Umair berdakwah di sana, 70 orang madinah datang lagi ke makkah pada musim haji sebanyak 70 orang untuk melakukan baiat Aqabah kedua. Lalu akhirnya, muslimin pun berhasil melepaskan diri dari cengkraman para kaum kafir Quraisy dan berhijrah menuju madinah untuk memulai membangun sebuah peradaban mulia masih bertahan hingga saat kita hidup sekarang ini.

       Adapun 6 orang pemuda pengantar cahaya ini adalah;

  1. As’ad bin Zurarah, dari Bani An-najjar
  2. Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Afra, dari Bani An-najjar
  3. Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan, dari Bani Zuraiq
  4. Quthbah bin Amir bin Hadidah, dari Bani Salamah
  5. Uqbah bin Amir bin Nabi, dari Bani Ubaid bin Ka’ab
  6. Jabir bin Abdullah bin Ri’ab, dari Bani Ubaid bin Ghanm.

Butir-butir hikmah:

  1. Masa muda bukanlah masa bergalau ria dan mencari jati diri. 6 pemuda dari Yatsrib ini membuktikan bahwa pemuda harus memiliki karakter dan kemampuan mengambil keputusan yang jeli meski tanpa adanya orang-orang tua di sekitar mereka saat itu. Mereka dengan cepat memutuskan untuk menerima seruan dakwah Rasulullah. Dengan cepat juga mereka memutuskan untuk mengantar risalah cahaya itu ke kampung halaman mereka. Akhirnya keputusan singkat dan penting yang mereka ambil, menjadi sejarah panjang peradaban islam dimulai di madinah dan ke seluruh dunia.
  2. Orang-orang madinah adalah orang-orang yang hidup berdampingan dengan ahli kitab. Maka ketika mereka mendengar seruan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak merasa asing dan segera mengambil keputusan untuk masuk islam.. Jika orang-orang musyrik saja bisa cepat menangkap hidayah hanya karena sering berinteraksi dengan orang-orang ahli kitab. Apalah lagi ;kita umat islam yang sering berinteraksi dengan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu di dalamnya. Maka remaja yang tumbuh bersama Al-Qur’an, akan lebih mudah untuk menerima hidayah dan pesan-pesan kebaikan.
  3. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surat Al-kahfi ayat 12, berkata “Dai menceritakan bahwa mereka adalah golongan pemuda. Mereka mau menerima kebenaran dan lebih dan lebih lurus jalannya dari generasi tua dari kalangan kaum Quraisy secara umum lebih memilih untuk tetap memeluk agama mereka dan tidak ada dari mereka yang memeluk islam melainkan hanya sedikit saja”. Maka jangan pernah berprinsip, “masa muda untuk memuaskan hawa nafsu, ketika tua baru bertobat”. Bisa jadi, orang yang terbiasa menghabiskan hidup bermaksiat di masa mudanya, akan sulit untuk kembali ke jalan yang benar. Selain itu, masa muda hendaknya dihabiskan banyak-banyak untuk mencari ilmu, karena ketika tua, manusia cenderung jumud, penuh kepentingan dan pertimbangan, dan sulit menerima hal-hal di luar yang ia pahami selama ini.
  4. Seorang pemuda hendaknya menjadi pelopor untuk memberi manfaat dan kebaikan kepada masyarakatnya. As’ad bin Zurarah dan kawan-kawannya begitu sedih dan gusar melihat masyarakatnya yang menghabiskan hidup hanya untuk berperang satu sama lain. Maka mereka berharap kehadiran Rasulullah dapat menjadi solusi yang tepat untuk menyatukan suku Aus dan Khazraj yang selama ini terus berperang.
  5. Orang yahudi yang lebih mengenal Rasulullah dibandingkan oleh orang orang Aus dan Khazraj, bahkan mengenal Rasulullah seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, ternyata malah hampir seluruhnya menolak beriman kepada Rasulullah. Sedangkan orang-orang madinah yang hanya mendengar sebagian isi kitab orang yahudi justru malah menjadi kaum yang pertama beriman kepada Rasulullah dan memberikan kaum mukminin tempat bernaung. Maka Allah Maha Tahu hidayah lebih pantas datang kepada siapa. Orang yahudi terus mengharapkan kedatangan Nabi terakhir hanya untuk meningkatkan supremasi mereka di tengah-tengah jazirah arab. Niat mereka pragmatis dan bersifat duniawi. Maka di sini kita dapat mengambil hikmah, hati orang-orang yang ikhlas dan tulus, akan lebih mudah untuk menerima hidayah dibanding dengan hati orang-orang yang penuh kepetingan duniawi.
  6. Jangan pernah menjadikan jumlah pejuang dan da’I sebagai parameter keberhasilan dakwah. Siapa sangka hanya dari gerakan 6 orang pemuda. Islam bisa menyebar di madinah dan memulai kisah panjangannya di sana.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

Referensi :

[1] “Sirah Nabawiyah”, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-shallabi

[2] “Ar-Rahiqul Makhtum, Sirah Nabawiyah”, Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury

[3] “Tafisr Al-Qur’an Al-Azhim”, Imam Ibnu Katsir

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: