Tentang Rasa Takut (Al Baqarah 155 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah : 155)

 

            Allah ‘azza wa jalla mencantumkan rasa takut pada urutan pertama dari jenis-jenis ujian yang Allah berikan kepada manusia. Mengapa rasa takut? Ada apa dengan rasa takut?

            Karena dengan rasa takut seseorang bisa berkhianat. Dengan rasa takut seseorang tega mengorbankan orang lain. Dengan rasa takut seseorang bisa membunuh. Dengan rasa takut seseorang bisa melakukan sesuatu di luar akal sehat. Dengan rasa takut seseorang bisa mencuri dan merampas harta milik orang lain. Dengan rasa takut seseorang bisa menjadi orang yang paling bakhil. Dengan rasa takut seseorang bisa berbuat syirik dan terjerumus pada kekafiran.

            Seorang sahabat Rasulullah yang bernama Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith Pernah menjadi sebab turunnya surat Al-Hujurat ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Di karenakan beliau mendapatkan tugas dari Rasulullah untuk mengambil zakat kepada Bani Musthaliq. Namun di karenakan rasa takut mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari kabilah tersebut, sahabat ini kembali lagi ke madinah dan mengarang cerita bahwa Bani Musthaliq tak mau membayar zakat dan mengancam akan membunuhnya. Untung tak lama setelah sahabat itu kembali madinah, perwakilan kaum tersebut datang dan segera memberi klarifikasi. Mereka justru menunggu begitu lama perwakilan muslimin namun tak kunjung datang. Akhirnya mereka berinisiatif untuk menyusul ke madinah dan menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Maka turunlah ayat ini.

            Dalam surat Al-Ahzab ayat 10-11 Karena perasaan yang mencekam, Allah ‘azza wa jallan menggambarkan kondisi orang-orang beriman yang berprasangka kepada Allah dengan berbagai macam prasangka. Rasa takut bisa menggoyang aqidah. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat (Al-Ahzab : 10-11)

            Rasa takut kehilangan ghanimah, membuat pasukan pemanah di perang uhud bubar dari post hingga tersisa kurang dari 10 orang. Kondisi ini yang akhirnya dimanfaatkan kaum kafir Qurasiy untuk menjungkir balikan keadaan setelah mereka sempat terpukul oleh pasukan muslimin. Rasa takut kehilangan harta membuat satu pasukan muslimin hampir kalah.

            Rasa takut bisa membuat Fir’aun gelap mata dan memunculkan kebijakan untuk membunuh bayi laki-laki yang tak bersalah dari Bani Israil. Rasa takut kehilangan tahta membuat orang mudah untuk menghabisi nyawa manusia.

            Tanpa mengurangi kemuliaan beliau sebagai seorang sahabat Rasulullah dan seorang ahli Badar. Karena rasa takut dan khawatir terhadap keselamatan keluarga beliau, Hatib bin Abi Balta’ah ra sampai mengirim seorang kurir wanita untuk menyampaikan surat yang berisi pesan bahwa Rasulullah dan para sahabat akan segera berjalan ke arah makkah untuk melakukan futuhat. Untunglah Rasulullah mendapatkan wahyu dan berita ghaib dari Allah melalui Jibril as sehingga Ali dan Zubair pun ditugaskan untuk menangkap wanita tersebut dan mencegah bocornya rencana besar Rasulullah terhadap makkah.

            Tentu masih banyak lagi dan tak terhitung berbagai kejadian buruk yang terjadi akibat rasa takut yang tidak mungkin untuk dijabarkan di sini. Terkadang rasa takut itu, bisa lebih besar dari hal yang ditakutkan itu sendiri. Misalnya, orang tak mau bersedekah karena takut miskin lah, takut nafkah untuk keluarga berkuranglah, padahal ternyata yang selama ini lebih banyak menghabiskan perbendaharaan rumah tangga kita adalah kebiasaan buruk kita untuk berfoya-foya. Tak ada kita mendengar orang hidup miskin dan sengsara karena sedekah. “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (Al-Baqarah : 268)

            Hanya saja yang menarik, dari sekian banyak kisah buruk yang diakibatkan oleh rasa takut. Allah menyebut ujian rasa takut ini hanya dengan “min syai’ “ (dari sebagian kecil). Apa hikmahnya? Sungguh rasa takut yang hakiki dan paling dahsyat adalah rasa takut bagi mereka yang menyaksikan dan merasakan siksa di akhirat nanti. Di akhirat kelak, besarnya rasa takut orang-orang kafir kepada adzab Allah, membuat orang-orang kafir rela menukar keselamatan kita dengan orang-orang yang pernah kita cintai di dunia ini. “Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. (Al-Ma’arij : 11-14)

            Allah hendak memberikan isyarat kepada kita, jangan sampai rasa takut kita di dunia, sampai membuat kita melakukan tindakan dan hal-hal yang justru mengundang murka Allah ‘azza wa jalla di akhirat. Berperang di jalan Allah misalnya, butuh keberanian dan kesabaran yang sangat tinggi, wajar jika terkadang muncul rasa takut. Namun, ingatlah, jika rasa takut itu tak kita lawan dan kita memilih berlari dari peperangan, sungguh kita telah kembali dengan murka Allah bersama kita. Dan itu justru sesungguhnya yang wajib kita takutkan. Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al-Anfal : 16)

Semoga Allah senantiasa menguatkan hati-hati kita dan melindungi kita dari rasa takut yang membinasakan.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar

%d bloggers like this: