“Kesalahan” Gramatik dalam al-Quran dan Sikap Quraisy Shihab

Pembahasan apa saja yang menyangkut keagamaan saya kira harus berangkat dari dua konsep ini: dogma dan ilmu. Mengutip Luthfi Assyaukanie, dogma adalah sebuah proses simplifikasi terhadap persoalan yang rumit, sedangkan ilmu adalah sebuah proses sofistifikasi terhadap persoalan yang sederhana.

Tugas dogma adalah menyederhanakan sesuatu yang dipandang rumit menjadi lebih mudah dipahami. Karena itu definisi al-Qur’an bagi orang awam biasanya sederhana, misalnya, al-Quran adalah Kitab Suci yang dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas. Dogma tidak menyentuh proses-proses rumit bagaimana al-Quran terkumpul menjadi satu kitab utuh, tidak pula mengungkap isi kandungannya sampai mendalam. Dogma biasanya berhenti sampai tahap definitif.

Sementara tugas ilmu adalah mengurai kebenaran sebagaimana adanya, mengungkapkan hal-hal yang diabaikan oleh dogma. Bahkan ilmu juga mengungkapkan apa saja yang tidak terpikirkan oleh dogma, seperti konsep Tuhan, kenabian, kausalitas, status pelaku dosa besar, status pemuda yang belum menikah, dan lain-lain. Karena itu, ilmu berusaha mengungkapkan segala sesuatu hingga tahap deskriptif-analitik.

Dalam artikel ini saya bermaksud “mempersoalkan” salah satu ayat di dalam al-Quran yang secara gramatikal bahasa telah “menyimpang”. Saya ingin mencoba memandang al-Quran dari perspektif ilmu. Kaitannya dengan persoalan ini, ilmu yang digunakan adalah ilmu nahwu.

“Kesalahan” Gramatik dalam Quran

Hampir seluruh umat Islam meyakini bahwa al-Quran adalah mukjizat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur. Doktrin mapan yang sering disampaikan oleh para pendakwah online maupun offline semuanya bersepakat bahwa al-Quran tidak mungkin salah. Al-Qur’an adalah rujukan segala bidang ilmu, termasuk ilmu bahasa.

Akan tetapi, bagaimana jika di dalam ayat al-Quran sendiri terdapat sebuah “penyimpangan” secara gramatikal bahasa. Bagaimana jika Kitab Suci yang diyakini sebagai keajaiban ini mengandung kesalahan elementer dari sudut bahasa. Apalagi dengan doktrin yang berkembang di tengah-tengah kaum muslimin bahwa al-Quran merupakan puncak sastra yang melampui pujangga manapun di dunia ini.

Adapun ayat al-Qur’an yang secara kentara “menyimpang” dari kaidah kebahasaan, yaitu QS. Thahaa ayat 63, yang berbunyi:

قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ

Dari sudut pandang dogma, mungkin mempersoalkan satu ayat ini amat sangat remeh-temeh, namun dalam pandangan ilmu (ilmu nahwu), petikan ayat di atas terdapat “penyimpangan” mendasar dari segi kebahasaan.

Kata “in” di dalam kaidah bahasa Arab merupakan salah satu huruf ‘amil jawazim. Yaitu, huruf yang dapat mengubah I’rab suatu kalimat menjadi jazm (dalam hal ini menjadi sukun). Di dalam ketentuan ilmu nahwu, huruf “in” yang merupakan salah satu faktor perubah I’rab menjadi jazm, hanya ada di dalam jumlah fi’liyah. Artinya, lafadz “in” tidak mungkin menjazmkan suatu lafadz selain daripada lafadz  fiil mudhari’.

Di dalam Qs. Thahaa ayat 63 di atas jelas sekali lafadz setelah “in” bukan jumlah fi’ilyah apalagi fiil mudhari’. Lafadz “hadzaani” merupakan jumlah ismiyah, ia adalah mustanna atau ism tastniyah, tandanya diakhiri dengan huruf “alif” dan “nun” (ketika berposisi sebagai rafa’). Sehingga secara gramatikal penggunaan ‘amil jawazim di depan jumlah ismiyah seperti yang ditunjukan ayat di atas menyimpang dari kaidah kebahasaan.

Tetapi bila ada yang membantah anggapan di atas bahwa lafadz “in” bagian dari ‘amil jawazim yang bertugas menjazmkan fiil mudhari’, tetap saja setelah partikel “in” tidak bisa jumlah ismiyah seperti ayat di atas, sebab lafadz “in” ini salah satu Huruf Syarat. Huruf syarat haruslah bergandengan dengan jumlah fi’liyah, sebab fungsinya sebagai pencetus timbulnya Jawab. Karenanya setelah lafadz “in” sekurang-kurangnya harus ada satu sampai dua fiil.

Kejanggalan ini kemudian berlanjut di terjemahan Departemen Agama. Kata “in” diartikan dengan “sesungguhnya” atau sebagai taukid. Padahal lafadz ini tergabung dalam Huruf Syarat yang mana biasanya diartikan dengan “jika”, kadang “apabila”.

Bila harus diterjemahkan dengan “sesungguhnya”, maka lafadz “in” mestinya diganti menjadi “inna”. Akan tetapi pengalihan ini tetap saja menimbulkan persoalan lain. Dalam kaidah gramatikal bahasa Arab, lafadz “inna” (dan saudara-saudaranya) berfungsi menashabkan isimnya (mubtadanya) dan merafa’kan khabarnya. Sehingga lafadz “hadzaani” yang berkedudukan sebagai ism inna harus diganti menjadi “hadzaini”.

Dari penjelasan di atas secara jujur dapat kita katakan terdapat “kesalahan” gramatikal di dalam al-Qur’an. Walau persoalan ini dilihat dari segi dogma bisa jadi amat sepele, tapi dalam pandangan ilmu justru bermasalah sehingga membutuhkan jawaban yang memuaskan.

Jika pun ada variasi antara satu mushaf dengan mushaf yang lain, paling jauh adalah pada level variasi bacaan yang disebut dengan “qira’ah”, yakni variasi bacaan yang sama sekali tak menyalahi kaidah kebahasaan.

Kalau begitu, lantas siapa sesunggunya yang salah atas “penyimpangan” pada Kitab Suci yang diyakini umat muslim tidak terdapat satu pun kecacatan ini. Apakah harus menyalahkan Ustman sebagai penggagas kodifikasi al-Quran. Atau menyalahkan para periwayat Qur’an yang terbilang muttawaitr. Atau mungkin Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris wahyu Nabi SAW telah melakukan typo.

Tidak mungkin Nabi Muhammad SAW salah melafalkan ayat suci al-Qur’an, sebagaimana tidak mungkinnya Allah SWT menurunkan al-Qur’an dengan kecacatannya.

Tapi, siapa yang salah ?

Sikap Quraisy Shihab

Di dalam Tafsir al-Misbah, Quraisy Shihab juga mengakui adanya kesalahan secara gramatikal di dalam QS. Thaha ayat 63. Tentu saja laporan dari pakar tafsir lulusan al-Azhar ini memperlihatkan suatu gejala yang menarik, yakni pengakuan adanya kekeliruan dalam penulisan Qur’an.

Namun Quraisy Shihab sendiri menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan oleh Kinanah dan Bil Harist bin Ka’ab, sejalan dengan bunyi penggalan QS. Thaha ayat 63 di atas. Memang tidak banyak yang menggunakannya, karena itu ia sering kali pula dinamai syadz (janggal), namun kejanggalan dalam penggunaan bahasa oleh para penggunanya yang berkompeten tidak dapat dinilai salah.

Bagi Quraisy Shihab, betapa pun tidaklah tepat menilai bahwa para penulis al-Quran telah keliru menulis penggalan ayat itu. Penulisan ayat-ayat al-Qur’an itu berdasar bacaan yang beredar dan telah dikenal luas dan dihafal oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang demikian banyak. Dan tentu saja mereka adalah orang-orang yang sangat paham tentang bahasa Arab, dan dengan demikian penulisan atau bacaan mereka—walau dinilai tidak sejalan dengan rumusan kaidah—sama sekali tidak dapat dinilai keliru.

Quraisy Shihab menyimpulkan bahwa yang salah adalah perumus kaidah, yang tidak dapat menyusun rumusan yang dapat menampung semua cara para pengguna bahasa yang berkompeten semacam Nabi dan para sahabatnya itu. Sebab kaidah bahasa Arab dirumuskan jauh setelah kelahiran bahasa Arab.

Walaupun paparan Quraisy Shibab bisa kita pandang sebagai penjelasan post-faktual, dengan kata lain justifikasi itu dilakukan setelah suatu “kesalahan” terjadi, bagi saya sangat wagu bila berkesimpulan al-Qur’an yang salah. Hal ini bisa terjadi karena level keilmuan kita yang belum mencapai maqam Qur’ani.

Mohon maaf bila ada kesalahan kata dan isi. Wallahu a’lam.

Ilham Ibrahim

Nax Panah Muhammadiyah

One thought on ““Kesalahan” Gramatik dalam al-Quran dan Sikap Quraisy Shihab

  • 16/11/2017 at 09:04
    Permalink

    in, amil zawajim merupakan khuruf yang mukhtas (khusus masuk pada kalimat fiil) makan tidak bisa dikatakan in itu amil zawajim, adapan in di sana, bisa dimungkinkan in zaidah, atau in mukhaffaf,…!

    Reply

Tinggalkan komentar

%d bloggers like this: