Ibtila’; Tentang Hijrah atau kembali lagi ke Mekah

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu (memberimu ibtila’), siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (al-Mulk:2)”

Saya masih percaya bahwa hampir tak ada orang yang sengaja melenceng dari hidayah, atau menemukan hidayah murni karena hasil pergolakan intelektual semata. Selalu ada guncangan-guncangan batin di sana, lalu ia temukan justifikasi intelektual, ia dapati serangkai teori pembenar bagi pilihannya untuk membelakangi peri hidup ala din-Nya atau malah mengikutinya.

Mungkin goncangan batin, benturan hidup itu tak ia tampakkan, tak ditulisnya di autobiografi, atau bahkan ia sendiri tak sadar. Namun goncangan itu ada.  Sebab jika hanya murni sebab ia belajar dan menemukan kebenaran, tentulah tiap pembaca Qur’an akan langsung beriman, tiap pembaca Nietzche yang intens akan menjadi Ateis, dan seterusnya.

 Mungkin faktor goncangan batin sebab getir hidup yang kadang sangat subtil dan samar itu adalah “faktor X” dalam bab hidayah. Mungkin itulah esensi ujian yang oleh Qur’an disebutkan sebagai stimulus dan fungsinya adalah untuk melihat sesiapakah yang paling baik responnya.

Bila benar bahwa dalam tiap tiap perubahan kiblat hidup, baik mendekat atau menjauh dari hidayah ada faktor subjektif yang samar namun vital, maka ada beberapa konsekuensi ikutan.

Pertama, tentu tak layaklah timbul tanya semisal; mengapa si tokoh yang baik itu dibiarkan tetap tak mengucap kesaksian iman hingga kelak ia layak di neraka. Sebab tak pernah kita tahu dengan ibtila’ seperti apa Allah menjamahnya, tak pula kita tahu, bagaimana responnya.

Kedua, tak bijaklah jika begitu cepat kita menghakimi seseorang, entah menetapkannya sebagai penyandang kursi mulia, atau memvonisnya layak dinista. Sebab hingga ajal tiba, hujan ibtila’ masih akan terus mengguyur deras, menawar pintu pilihan yang tak habis-habisnya. Sangat mungkin seorang tergelincir, semungkin ia memilih titian yang aman.

Ketiga, oleh karena poin kedua itu, maka merasa aman itu sungguh tak pantas dan justru berbahaya. Melihat mereka yang kau anggap salah jalan, segeralah ingat perjalananmu sendiri. Tak ada jaminan di serbuan pilihan dan kemungkinan berikutnya, kau masih diizinkan memilih dengan benar.

Keempat, mereka yang merasa telah melewati pergolakan intelektual dan sampai di titik simpulan, sebenarnya tak layak kemudian mencoba memaksakan orang lain meniti jalannya, menduplikasi persis tiap langkahnya. Apalagi jika ia cuma menampakan langkah-langkah yang membanggakan, tiap buku haibat yang mencerahkan pikirah, tiap guru bestari yang mencengangkan, tiap lingkar diskusi yang memelekkan. Sedang motivasi-motivasi batiniah yang lahir dari benturannya dengan semesta hidup ia tak sebut. Dicitrakan seolah-olah hanya pelengkap kisah semata. Padahal sangat mungkin benturan-benturan itulah yang membentuknya, membimbingnya membuka buku itu, guru itu, diskusi itu; Mendiktenya merajut tiap simpulan-simpulan baru.

Maka, hijrah adalah perjalanan sepi dan sunyi, ia milikmu sendiri, tak perlu kau jejalkan ke orang lain, berharap mereka maklum atau kagum. Sebab tujuanmu hanyalah Dia. Sang Penyayang yangmembalaimu dengan serangkai ibtila’ yang demikian teramat personal. Begitupula kau yang berbalik lagi dari Madinah ke halaqah-halaqah Lahabiyah di Mekah, rengkuh pilihanmu, jalan yang kau tempuh sebab habis diremuk dunia. Tidak perlu kau mencari-cari dalil indah, alibi-alibi untuk kau beritahukan kepada semua, sebab penilaian manusia tak bernilai. Ingatlah saja, bahwa Dia yang memberimu ibtila’ masih setia menunggu dengan ampun dan maafnya yang tak bertepi tak pernah usai.

Kelima, keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tinggalkan komentar

%d bloggers like this: