Bertanya Tentang Sikap Politik NU pada “Orientalis”

Semoga celoteh saya ini tidak dikutuk oleh kawan dari NU, apalagi mereka yang gemar mengaji bab Islam di Nusantara dengan pendekatan rasa poskolonial  ala Kiyai Ahmad Baso. Ah saya rasa tidak, toh saya cuma mau berbagi cerita sembari menunggu hujan reda. Ini sekedar pikiran lewat, jika salah silakan ditunjukan saja salahnya. Anggaplah ini perspektif outsider sok tau, yang didapati dari bertanya pada outsider lain yang meski sok tau, sudah melalukan riset demi menambah pengetahuannya. Outsider pertama tentu saya, outsider kedua itu adalah si “Orientalis”.

Bagi orang luar baik struktural apalagi kultural, ada satu sikap politis ormas Islam terbesar di Nusantara ini yang kerap menjadi perhatian khusus, yakni sikap untuk sering “memihak” penguasa. Diambillah contoh keikutsertaannya dalam NASAKOM, fusi ideologi-ideologi besar pendiri bangsa hasil kebijaksanaan Bung Karno itu, hingga mungkin absennya PKB dari barisan koalisi partai (mengaku) Islam dalam pemilu lalu. Jika melihat ke belakang juga, bahkan Gus Dur pernah mengundang jendral yang dituding mendalangi peristiwa berdarah Tanjung Priok ke pesantren. Sebuah manuver yang pada masanya cukup disoroti.

Saat ini pun, setidaknya dalam amatan pribadi saya, di media sosial dan diskusi lepas sembari menikmati kekerean, ada sentimen demikian di kalangan orang di luar NU bahwa keakraban pada rezim membuat mereka malah jadi garang pada kelompok lain yang kritis pada rezim. Akhir-akhir ini tuduhan anti-NKRI gampang sekali dilempar kesana-kemari. Bila diperhatikan, jelaslah polanya, siapa tertuduh siapa penuduh. Sebagai balasan, ejekan tak kalah pahit pun banyak dilontarkan, hingga ada kawan NU yang bertanya, kok selalu jadi bulliyan?

Harus diaku, di satu sisi, semua Muslim Indonesia yang kakinya masih menyentuh realitas pastilah kagum dan bangga pada barisan ulama NU. Bebaris auliya’ yang berkiprah untuk bangsa sejak sebelum merdeka hingga detik ini. Tapi di sisi lain, ada sikap-sikapnya yang sulit dipahami dan membuat tidak sabar. Terutama oleh mereka yang menghendaki adanya satu entitas Islam di panggung politik, dengan sikap dan pandangan monolitik. Apalagi yang menginingkan agar sikap dan pandangan itu harus “keras pada kezhaliman terhadap ummat”, dimana definisi “kezhaliman” dan siapa itu “ummat” pun maunya harus sesuai selera mereka.

Manifestasi dari ketidakpahaman dan ketidak sabaran ini mungkin salah satunya adalah munculnya elemen NU yang mendaku diri bergaris lurus; sebuah gerakan serba anonim yang membawa nama NU tapi bersikap mengikuti maunya mereka yang tidak paham itu. Sialnya, tak kalah banyak juga penjaja opini di media sosial yang memasang label NU di baju-baju mereka sembari mengoceh tidak jelas memperkeruh keadaan. Wallahu a’lam, apakah memang mereka bicara atas nama NU, ataukah cuma menumpang saja.

Sebagai outsider, semakin bingunglah saya. Saya sebenarnya menunggu ada dialog yang ihlas dari pihak-pihak yang memperebutkan klaim penjaga NKRI ini. Saya menunggu dengan cemas sebab polarisasinya malah semakin tidak enak dilihat. Ada kawan NU yang merasa jadi sasaran terus, ada pula kawan diluar NU yang punya persepsi sendiri soal elit ormas ini dan relasi mereka dengan penguasa. Sembari menunggu dialog itu terjadi, sebagai seorang lelaki baik-baik, saya pun bertanya pada “Orientalis” Londo soal sikap NU itu tadi. Saya memakai tanda kutip di kata itu sebab tidak bisa dipungkiri, kata ini jadi terdengar pejorative, padahal mungkin kedua ilmuwan yang saya kutip di sini tidak sejahat para Orientalis yang ilmunya diabolis itu.

“Orientalis” pertama adalah Martin van Bruinessen, peneliti Belanda yang sudah bolak-balik bertandang ke Indonesia sejak sebelum kids jaman now brojol. Tujuannya tentu bukan sekedar plesiran dan hasilnya tak sekedar selfie di Instagram. Dari kegiatannya itu lahirlah karya-karya yang bahkan akhirnya menjadi rujukan orang Indonesia sendiri ketika bicara soal pesantren dan kitab kuning, tradisi yang sangat erat kaitannya dengan NU. Di karyanya tentang kitab kuning, Bruinessen mengingatkan;

“The political “opportunism” for which NU is often criticised by other committed Muslims is, in the case of many kyai, a conscious emulation of the Sunni tradition’s political conservatism, which considers one hour of political chaos (fitna) worse than a century of tyranny. Political accommodation is almost a matter of principle in the Sunni tradition, not just one of expediency”  

Jadi dalam amatan Bruinessen, memang NU sudah sejak dulu sering dikritik oleh komunitas Muslim lainnya karena dianggap oportunis dalam manuver politiknya. Padahal dari kajian Bruinessen terhadap tradisi berpikir para kiyai di balik setiap manuver tersebut, ia menyimpulkan dengan yakin bahwa semua itu berdasar pada prinsip utama dalam tradisi politik Sunni; “Kekacaan sosial politik (fitnah) yang terjadi sesaat  jauh lebih buruk dari seabad tirani”. Olehnya, kata Bruinessen lagi, hal ini bukanlah oportinistik, tapi lebih pada sebuah “politik akomodatif” demi menghindari mudarat yang lebih banyak; kekacauan sosio-politik.

Tentu di sini Bruinesssen merujuk pada kaidah atau atsar berisi peringatan ulama-ulama salaf yang salih agar tidak bermudah-mudah membuat menentang pemerintah, semisal ucapan Amr bin al-Ash kepada putranya Abdullah;

 يا بني! سلطان عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان غشوم ظلوم خير من فتنة تدوم

Terjemahan bebasnya kira-kira begini; “Hai anakku sayang, penguasa yang adil itu lebih baik dari hujan yang berterusan, singa menerjang lebih baik dari penguasa yang zhalim. Tapi putraku sayang, penguasa zhalim pun masih lebih biak dari fitnah yang berlarut”

Bila melihat manuver-manuver yang mungkin dianggap kontroversial pada zamannya, dengan privilege of hindsight of the kids of nowadays, bisalah kita melihat adanya hikmah-hikmah besar. Mulai dari keputusan untuk gabung ideologi hasil fusian ala Orla, bahkan ke sikap bernulak-lunak ke jendral jagalnya Orba. Jika itu tidak dilakukan ulama-ulama NU, mungkin saja darah ummat akan lebih banyak tertumpah. Begitulah kira-kira alur logikanya, dan sejujurnya saya sangat kagum dan haru merenunginya, apalagi ini lagi hujan, di Jogja pula! Baper begitu cepat melanda.

Lalu Orientalis berikutnya adalah Nico Kaptein, ahli Islam Asia Tenggara dari Leiden. Ya,  orang Belanda lagi. Apa saya jadi terlalu percaya Islamolog Belanda? Oh tunggu dulu, mungkin anti belum kenal Sayyid Usman ya ukhti. Beberapa hari lalu  Kaptein datang ke kampus tempat saya mencuri internet untuk menerangkan isi bukunya. Sebuah karya bagus tentang Sayyid Usman, ulama kontroversial dari Betawi. Poin kontroversialnya juga ternyata satu benang merah dengan ribut-ribut soal menjaga NKRI ini, (yang meski dijaga bahkan  berebut jadi satpamnya, tetap saja habis dicuri koruptor lokal dan korporasi asing hehe). Ini tentang sejauh mana kita bisa bekerja sama dengan pemegang administrasi pemerintahan yang dianggap zhalim pada ummat. Ternyata, setelah saya tanyakan, memang menurut penelitian Kaptein, Sayyid Usman juga kooperatif pada Belanda bahkan marah ketika ada yang berontak sebab ia menganggap kezhaliman Belanda masih lebih baik dari fitnah yang mungkin timbul jika revolusi digulirkan. Ya, kaidah tradisi Sunni itu tadi.

Tentu saja saya tidak sedang menyamakan NU dengan Sayyid Usman, sebab NKRI memang bukan Kerajaan Belanda dan Kabinet Kerja jelas bukan Ratu Wilhelmina. Saya hanya menggaris bawahi bahwa bahkan pada level kezhaliman ala Kolonialis pun, masih ada ulama yang berdasar tradisi Sunni ini masih menerapkan politik akomodatif, apalagi jika “hanya” kezhaliman ala rezim jaman now. Maka wajar jika ulama-ulama dan santri yang menaati mereka di NU tidak mau mengambil langkah terlalu frontal meski rezim oleh sebagian orang sudah dicap anti-ummat Islam. Sebab bahkan apa itu “anti” dan siapa itu “ummat Islam” pun masih bisa dibicarakan sambil minum air hujan. Eh maksudnya kopi. Deim, hujannya nggak reda-reda dari tadi.

Namun, seperti tiap perkara di dunia ini, selalu ada dua atau lebih sisi. Dalam uraian soal atsar di atas tadi, Majelis Fatwa situs islamweb.net (ya saya memang santri google!) menyertakan pula hadis hasan gharib riwayat Abu Dawun dan Ibnu Majah ini;

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر.

“Jihad paling utama adalah menyampaikan aspirasi kebenaran di hadapan penguasa tiran”

Saya yakin, para ulama yang tergabung dalam aksi dengan nomor seri  itu tergerak diantaranya sebab hadis di atas. Ada hal-hal yang terjadi kini yang sudah dinilai zhalim oleh mereka, sehingga bergeraklah mereka menyampaikan aspirasi keadilan itu. Jihad yang mulia, bukan? Soal komitmen mereka pada NKRI-pun seharusnya tidak usah dipertanyakan dengan keterlaluan. Bukanlah dalam Ibtal al-Istihsan al-Syafi’i menguraikan betapa perlunya berpegang pada zahir ucapan mereka yang mengaku beriman, tidak usah diseldiki hatinya cuma untuk menuduh munafik? Bahkan ada hadis tentang ini. Nah, dengan qiyas awlawi bisalah kita katakan; jika dalam perkara iman saja menilai afiliasi seseorang dicukupkan dengan apa yang ia tampakkan, apalagi cuma dalam perkara pro-NKRI? Masa harus dituduh taqiyah?

Pada akhirnya, saya sudah menulis begini panjang dan hujan belum juga reda. Zuhur pun tiba sedang kabut masih melingkupi Jogja. Gema adzan yang dihantar getar udara pastilah bersua dengan bebutir hujan di atas sana, semoga bersatu juga kalbu-kalbu kaum Muslimin. Bilakah mereka yang menghidari fitnah itu mau duduk dengan mereka yang hendak melakoni jihad mulia dan berbicara dari hati ke hati?

Bilapun ini tidak terjadi, saya hanya berharap apapun ijtihad politik kita, semoga selalu didasar pada keihlasan. Sebab ulama yang ihlas mengakomodasi penguasa demi menutup pintu fitnah insyaallah sama mulianya dengan mereka yang bersuara sebab menggap kezhaliman sudah tak mungkin diakomodasi. Begitu juga mereka yang bersuara lantang di medan demonstrasi tapi penuh ambisi duniawi adalah serendah mereka yang menjilati tiap pintu sultan demi sesuap nasi. Terlebih, ingatlah petuah Ki Bagus Hadikusumo, topik apapun jika dirunding tanpa niat ihlas mencari kebaikan, pastilah berakhir menjadi perseteruan.

Wallahu a’lam. Ini bukan copas dari grup sebelah.

Bacaan relevan ;

“Memahami NU saat ini, Harus Baca Sejarahnya” (sumber gambar)

http://www.nu.or.id/post/read/73379/memahami-nu-saat-ini-bacalah-sejarahnya

“Pesantren and kitab kuning: Continuity and change in a tradition of religious learning’,” https://id.scribd.com/document/335398859/Bruinessen-Pesantren-and-kitab-kuning-pdf

مفهوم أثر: سلطان ظلوم غشوم خير من فتنة تدوم

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=149387

 

Ayub
yuk temanan

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.
Ayub
yuk temanan

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tinggalkan komentar

%d bloggers like this: