Pemuda, Masa diantara 2 Kelemahan (Ar-Rum 54)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum 54)

 

     Menurut Ustad Budi Ashari, Dari surat Ar-Rum 54 tadi, Allah memberikan kita isyarat, bahwa fase pemuda/ syabab adalah fase dimana manusia berada di antara dua kelemahan. Kelemahan kita di usia kanak-kanak, dan kelemahan kita di usia senja. Kelemahan ilmu, pengalaman, dan fisik di usia kanak-kanak, dan kelemahan fisik di usia senja. Dengan kata lain, pemuda itu identik dengan kekuatan, baik kekuatan prinsip, pemikiran, ghirah, hingga kekuatan fisiknya.

     Berikut penulis tampilkan data dari usia 10 sahabat yang dijamin masuk surga ketika mereka memutuskan untuk masuk islam. [1]

 

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (37 tahun)
  2. Umar bin Khattab (25 tahun)
  3. Ustman bin Affan (34 tahun)
  4. Ali bin Abi Thalib (10 tahun)
  5. Abdurrahman bin Auf (30 tahun)
  6. Zubair bin Awwam (16 tahun)
  7. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah (27 tahun)
  8. Thalhah bin Ubaidilah (14 tahun)
  9. Sa’id bin Zaid (15 tahun)
  10. Sa’ad bin Abi Waqash. (7 tahun)

     Ada yang menarik, semua sahabat yang di atas, berusia dibawah 40 tahun, sehingga mereka semua masuk islam dimana usianya masih berada dalam kategori syabab (pemuda). Begitulah sunnatullah perjuangan dakwah ini, mereka akan senantiasa ditopang oleh para pemuda-pemuda yang kuat dan masih segar pemikirannya.

     Ibnu Katsir pun, di dalam kita tafsir Al-Quran Al-Azhim ketika membahas surat Al-Kahfi ayat 10, “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)…”, memberikan penjelasan bahwa orang-orang kafir quraisy yang akhirnya menerima seruan dakwah Nabi mayoritas terdiri dari para pemuda. Sedangkan generasi tua Quraisy kebanyakan mati dalam keadaan kafir.[2]

     Maka yang masih muda, jangan pernah hidup dengan prinsip, “mudah hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga”. Karena masa mudah hendaknya banyak diisi upaya-upaya untuk meningkatkan kesolehan dan ketaqwaan. Karena menurut Ibnu Abbas ra “Barang siapa ketika sampai di usia 40, kemaksiatannya masih lebih banyak dari pada amal solehnya, maka hendaklah ia bersiap-siap menyiapkan tempatnya di neraka”. Jangan dipikir, mudah begitu saja bertaubat ketika sampai usia tua. Karena usia tua kita, adalah penuaian benih dan pupuk yang kita tanam di masa muda.

    Lagi pula, siapa pula yang pernah mendengar jaminan dari Allah bahwa syarat mati itu harus tua dulu? Atau syarat mati harus soleh dulu? Mati tak memandang tua muda, tak memang soleh dan durhaka. Siap tak siap, maka kematian akan menghampiri kita kapanpun Allah berkehendak. (ayat)

     Selain itu, beberapa penjelasan tentang pemuda di atas, hendaknya menjadi renungan dan teguran keras bagi para pemuda di setiap jaman, khususnya di jaman ini. Di mana sekarang level dan kualitas pemuda-pemuda kita benar-benar bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan para pemuda di era sahabat hingga ke generasi tabi’in. Para pemuda di jaman itu, adalah mereka yang ledakan-ledakan potensinya mudanya di arahkan di jalan Allah. Maka tak heran ada Ibnu Abbas yang menjadi staff ahli pemerintahan di usia 15 tahun di jaman Kekhalifahan Umar bin Khattab. Ada Zaid bin Tsabit yang menguasai bahasa ibrani hanya dalam waktu 15 hari. Ada Usamah bin Zaid yang menjadi penglima perang melawan romawi di usianya yang menginjak 17 tahun. Di mana para pemuda kita pada usia itu?

       Sedang pemuda kita sekarang, sedang sibuk mengoleksi sepatu-sepatu kesayangannya, sedang sibuk menghadiri konser sana-sini. Sibuk memodif motor dan mobilnya dengan uang orang tuanya. Sibuk bergalau dan bercumbu ria menikmati hubungan haram dan semunya dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Sibuk naik turun gunung tanpa visi yang jelas. Sibuk menonton dari satu film ke film yang lain. Sibuk bermain game-game di gadgetnya. Bahkan tak sedikit yang sudah sibuk bekerja siang malam, masih muda namun macam orang tua yang sudah tak punya lagi mimpi atau warna warni dalam hidupnya.

       Bukankah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan adalah salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan di yaumul mahsyar? Bukankah masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggung jawabannya tersendiri di hari kiamat? “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskantentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya. (HR. at-Tirmidzi).

     Maka hendaknya kita paham, membuang masa muda, seolah membuang setengah atau bahkan lebih dari seluruh bagian hidup kita. Jangan sia-siakan usia kita, karena tak akan bangkit lagi peradaban islam jika tak bangkit para pemudanya.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

Referensi :

[1] Budi Ashari Lc, “Remaja, antara Hijaz dan Amerika”

[2] Ibnu Katsir, “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim”

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: