Narasi Al-Qur’an soal Anak

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Kali ini saya akan coba menyadur dan merangkum inti dari dari kajian Ustad Budi Ashari yang mengupas bagaimana narasi al-Qur’an tentang anak.

Di dalam Al-Qur’an, ketika berbicara soal anak, maka Al-Qur’an setidaknya menyebutkan 4 jenis gambaran

  1. Anak sebagai perhiasan dunia (zinat al-hayat ad-dunya) – (Al-Kahfi ayat 46)
  2. Anak sebagai ujian (fitnah) – (surat Al anfal 28 dan At-Taghabun ayat 15)
  3. Anak sebagai penyejuk pandangan (Qurrota a’yun) – (surat Al-Furqan 74)
  4. Anak sebagai musuh (‘aduw) – (surat At-Taghabun ayat 14)

Lalu bagaimana membuat narasi yang utuh dari sebaran ayat ini?

Baca juga; Gagasan Fikih Perlindungan Anak

Pertama, Allah ‘azza wa jalla berikan pengertian kepada kita bahwa anak pada dasarnya adalah perhiasan dunia. Ia menarik, sedap dipandang, diinginkan, didambakan, dan dinanti banyak orang kehadirannya. Kebanyakan orang berlomba – lomba untuk mendapatkannya, dan juga berlomba-lomba untuk membanggakannya.

Tapi begitulah sifat dari perhiasan, ia akan menjadi fitnah (cobaan) bagi siapapun manapun yang telah memilikinya. Dalam konteks anak, tentu ia menjadi fitnah bagi kedua orang tuanya. Ada yang terlena dan kalah oleh rasa cintanya kepada anak sehingga memanjakannya dengan kebablasan, menuruti semua maunya meski itu baik dan buruk untuk agamanya. Ada yang terlena menjadikan anak hanya sebagai koleksi dan pelengkap kehidupannya, prinsipnya “yang penting punya anak”, hingga tak pernah menyiapkan visi yang matang dan jauh hendak dibawa orientasi hidup sang anak. Ada yang tak pernah sedikitpun berusaha untuk tahu bagaimana seharusnya mereka mendidik anak sesuai syariat, yang mereka tahu anak ku harus juara kelas, pintar bahasa inggris, kuliah di universitas terkenal, kerja di perusahaan terkenal. Tak peduli urusan salatnya, urusan aqidahnya, urusan pemikirannya.

Lalu, yang namanya ujian, pasti hanya ada dua kemungkinannya, yang pertama adalah keberhasilan dan yang kedua adalah kegagalan. Jika fitnah anak berhasil diatasi dengan baik oleh sang orang tua, maka insyaAllah anak-anak itu akan menjadi qurrota a’yun (penyejuk pandangan) bagi orang tua mereka. Anak anak ini akan menjadi amal soleh yang tak putus bagi orang tuanya di hari akhir. Anak-anak ini adalah anak-anak yang kehadirannya senantiasa memberi kebahagian manfaat bagi orang tua maupun di sekitarnya, menegakan tauhid, dan menjalankan tugas sebagai khalifatul ardh dengan baik.

Namun, jika orang tua gagal dalam menghadapai fitnah anak, maka anak-anak ini akan menjadi musuh (‘aduw) bagi orang tuanya. Jangankan bermanfaat untuk kehidupan akhirat orang tuanya, bahkan untuk kehidupan dunia orang tuanya pun ia tak bermanfaat. Kehadirannya memberi kerusakan dan masalah bagi orang tua maupun masyarakatnya. Tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang tua di masa muda mereka, dan tak bisa menghadirkan ketenangan di masa tua mereka.

Ketika bolak balik Rumah sakit bersalin untuk menyambut kelahiran anak kedua, penulis melihat banyak anak-anak bayi dan kebahagian orang-orang disekitarnya, baik itu keluarga si bayi ataupun orang orang yang merasa gemas dan lucu ketika melihat si bayi. Ya, semua dari kita, lahir dalam keadaan suci, bersih, polos, menggemaskan, dan tanpa dosa seperti itu. Everyone love baby, right??

Tapi siapa sangka, dari manusia manusia yang fitrah itu, kelak jalan mereka akan berbeda-beda. Ada yang tumbuh bersama dengan fitrahnya sehingga menjadi manusia muslim yang baik, menjadi ulama, guru, pemimpin yang adil, menegakan tauhid dan melakukan berbagai macam kebaikan di muka bumi. Namun Ada juuga yang akhirnya kehilangan fitrahnya lalu menjadi kafir, menjadi atheis, menjadi liberal, sekular, pluralis, menjadi diktator, pembunuh, tukang begal, dan berbagai pribadi buruk lainnya. George Bush, Simon Perez, Benyamin Netanyahu, Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, Namrud pun pernah menjadi bayi yang suci, lucu, dan menggemaskan, meski di masa tua dan bahkan ada yang hingga akhir hidupnya mereka menjadi manusia-manusia yang terkenal dengan keburukan dan kerusakan yang diperbuatnya.

“Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah, fa abawaihi yuwahhidanahu au yunashshiranahu au yumajjisanahu” setiap anak terlahir di atas fitrah, maka orang tua dan lingkungannya lah yang menjadikan ia yahudi, nasrani dan majusi, begitu sabda Rasulullah SAW yang disahihkan oleh Imam Muslim. Pada akhirnya, yang memiliki tanggung jawab pertama dan terbesar untuk menjaga, mengasah, dan melestarikan fitrah manusia manusia suci itu adalah kita, orang tua mereka. Atas izin dan kehendak Allah, tentu tangan dan pendidikan kitalah yang kelak berperan besar untuk menjadikan merekasoleh atau menjadi fasiq, menjadi mukmin atau munafiq, menjadi manusia yang memiliki ‘izzah atau menjadi penjilat, menjadi manusia amanah atau menjadi pengkhianat.

Maka menjadi orang tua bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan ilmu yang pas-pasan dan bersifat spekulatif. Karena menjadi orang tua, adalah bagaimana menjadi pembangun karakter-karakter manusia yang menjadi unsur fundamental sebuah peradaban. Jangan sampai karena kelalaian kita terhadap pendidikan anak-anak kita, kelak lahir penjahat-penjahat yang baru.

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: