Santri Cendekia
Home » 80 Tahun Rakyat Palestina Menderita

80 Tahun Rakyat Palestina Menderita

Di tengah reguleritas mengikuti dinamika politik dalam negeri, kita semua tiba-tiba dikejutkan oleh berita dari jalur Gaza yang kembali membara. Dalam melihat peristiwa ini, ada dua hal yang menjadi sorotan saya: pertama, terkait dengan respon dunia global, kedua bagaimana perspektif al-Qur’an dan sirah Nabi yang bisa kita pakai untuk melihat peristiwa ini.

Di dunia global, kita menyaksikan hipokrasi dan disinformasi besar-besaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kita mendengar para pemimpin dunia Barat, selebriti dunia, bahkan sampai perguruan tinggi, berbondong-bondong mengambil sikap menjustifikasi serangan Israel. Beberapa tokoh media berpengaruh, seperti Jordan Peterson, terang-terangan membuat pernyataan “give them hell” yang bermakna annihilasi total terhadap penduduk Gaza.

Media-media secara umum dikuasai oleh narasi sepihak, terutama tentang penderitaan Israel dan serangan secara mendadak milisi Palestina kepada para warga Israel. Bahkan dibuat narasi kebohongan, misalnya tentang pembunuhan terhadap empat puluh bayi oleh milisi Palestina yang menjadi viral di media-media Barat yang kemudian menjustifikasi tindakan Israel yang membabi buta menyerang masyarakat sipil dan fasilitas publik. Dunia global dipaksa mengikuti satu alur berpikir bahwa serangan balik Israel hanya dalam rangka membela diri.

Narasi ini jelas pincang dan cacat. Pandangan ini mengabaikan satu masalah yang lebih mendasar, yaitu aneksasi Palestina selama hampir 80 tahun terakhir. Juga mengabaikan fakta bahwa Israel adalah rezim apartheid yang menerapkan kebijakan rasis berbasis etnis. Juga mengabaikan fakta bahwa dua juta rakyat Palestina di jalur Gaza sudah hidup dalam blokade selama hampir dua dekade. Beberapa tokoh internasional seperti Nelson Mandela dan Jimmy Carter (mantan presiden AS) bahkan menyebut Gaza sebagai penjara terbuka terbesar di dunia. Oleh narasi dominan yang berkembang hari ini, kita dipaksa untuk mengabaikan dosa penjajahan dan hanya melihat tindakan kekerasan oleh milisi Palestina.

Pemimpin-pemimpin negara Barat sendiri tidak bergeming ketika Israel terang-terangan menyalahi aturan internasional dalam perang. Penduduk Gaza hari ini tidak memiliki akses listrik, air, terhalang dari bantuan kesehatan, makanan, apalagi militer. Uniknya upaya untuk memperjuangkan opini yang berpihak pada Palestina justru dibungkam. Di Perancis dan Jerman, demonstrasi pro-Palestina dilarang. Di Amerika Serikat, masyarakat Muslim hidup dalam surveilance (pengawasan) karena dianggap membahayakan.

Baca juga:  Dampak Sosio-Ekonomi Arab-Palestina dari Kebijakan Pendidikan Negara Israel

Namun, di tengah fakta pembungkaman dan narasi sepihak ini, perlu diungkapkan juga bahwa pergeseran siginifikan dalam melihat penderitaan Palestina tengah terjadi di dunia Barat. Hari ini jumlah masyarakat yang bersimpati kepada Palestina terus meningkat dan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini semua dimungkinkan karena dua hal: pertama, proliferasi media sosial (terutama Youtube), kedua, peran aktivis muslim yang terus berbicara lantang.

Masalah kedua, bagaimana petunjuk al-Quran dalam melihat tragedi yang terjadi belakangan ini?

Pertanyaan ini penting terutama karena kita semua memang dihadapkan pada dilema bahwa perang ini dimulai dari serangan milisi Palestina kepada warga sipil Israel. Saya mengajukan dua perspektif untuk melihat peristiwa ini.

Pertama, serangan kelompok milisi ini memang tindakan yang tidak tepat, tetapi ia harus dilihat dari konteks masyarakat Palestina yang terjajah. Ekstrimisme pasti akan terjadi ketika semua syarat mendasar untuk hidup sebagai manusia yang layak di Gaza tidak terpenuhi. Beberapa komentator Barat yang adil juga telah mengungkapkan pandangan ini.

Kedua, tindakan penyerangan ini memang keliru, tetapi okupasi ilegal Israel dan kejahatan kemanusiaan yang ia lakukan jauh lebih keliru. Al-Qurat surat al-Baqarah ayat 217 dapat menjadi petunjuk moral kita tentang hal ini. Ayat ini turun pada tahun kedua hijriyah. Pada saat itu beberapa sahabat Nabi melakukan kesalahan dengan membunuh penduduk Makkah di bulan haram dan di sekitar masjidil haram. Artinya, secara waktu dan tempat, serangan sahabat Nabi ini keliru.

Kemudian peristiwa ini diglorifikasi oleh elit Makkah untuk mem-frame bahwa Nabi dan umat Islam di Madinah menyukai kekerasan. Selama 13 tahun Nabi berdakwah di Makkah, beliau bersama sahabatnya mengalami persekusi berat, beberapa sahabat terbunuh seperti Yasir dan Sumayah, tiba-tiba dalam sekejap dapat label teroris. Yang tertindas dituduh sebagai pelaku.

Baca juga:  Perang Melawan Covid-19: Fikih Antisipatif

Bagaimana komentar al-Quran untuk insiden ini? Al-Quran menyebut dalam ayat ini: pembunuhan adalah perbuatan dosa besar, tetapi kekafiran, menghalangi orang dari jalan Allah, mempersekusi sampai mengusir manusia dari tanah kelahirannya, adalah dosa yang jauh lebih besar di mata Allah Swt.

Jadi, dengan alur berpikir Qurani ini, bagi kita tindakan kekerasan kepada masyarakat sipil, dilakukan oleh siapapun, tidak bisa dibenarkan. Tetapi opresi yang berlangsung selama delapan dekade adalah tindakan yang jauh lebih terkutuk. (diko)

*Artikel ini pertama kali terbit di Majalah Suara Muhammadiyah edisi 1-15 November 2023

Avatar photo

Muhamad Rofiq Muzakkir

Direktur Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar