Santri Cendekia

85 Tahun Buya Syafi’i: Antara Syafi’i Ma’arif dan Amien Rais

Oleh: Anton Ismunanto

Di antara tokoh sepuh Muhammadiyah hari ini yang menginspirasi generasi mudanya adalah Pak Syafi’i Ma’arif dan Pak Amien Rais. Keduanya adalah sahabat, bahkan sempat bersama ketika sekolah di Chicago. Keduanya pun sempat bersama ketika memuncaki kepemimpinan persyarikatan.

Ada banyak cerita menarik di antara keduanya baik saat di Amerika, di organisasi, maupun saat reformasi. Akan tetapi, sejauh yang saya amati sebagai generasi muda Muhammadiyah, memang keduanya memiliki beberapa hal yang bertolak belakang.

Pak Amien Rais membaca khazanah yang cukup luas baik Islam maupun Barat. Di Chicago, konon beliau menghabiskan waktu hingga 18 jam di perpustakaan. Koleksi buku beliau juga sangat banyak. Meski begitu, pandangan keislaman Pak Amien relatif konservatif. Akan tetapi sebagai orang politik, manuver beliau cukup “lincah”. Beliau menjadi idola di masanya namun hari ini mulai ditinggalkan generasi muda.

Berbeda dengan Pak Syafi’i. Beliau menjalani kehidupan yang sulit. Beliau baru berkesempatan kuliah doktoral di usia yang jelang berkepala lima. Di Chicago beliau menghabiskan waktu baca lebih sedikit dari Pak Amien, mungkin karena harus nyambi bekerja. Koleksi buku beliau pun tak seleluasa Pak Amien, karena Pak Amien punya usaha juga. Ketika Pak Amien jadi idola, Pak Syafi’i menjalani aktivitas akademisi.

Baru ketika Pak Syafi’i menggantikan Pak Amien yang mulai sibuk berpolitik, nama Pak Syafi’i mulai dikenal luas. Ruang sebagai intelektual publik juga semakin lebar. Memang terdapat beberapa catatan dalam pandangan keislaman beliau. Akan tetapi asketisme politik beliau membuat beliau tidak memiliki rapor merah seperti Pak Amien. Belakangan, Pak Syafi’i lebih diidolakan kalangan muda. Terlebih dengan peri hidup beliau yang sederhana, terbuka dan tidak suka dilayani.

Baca juga:  Para Ulama Yang Dibuang

Menurut saya, ideal jika generasi muda bisa memiliki wawasan dan pandangan keislaman macam Pak Amien, namun sikap keseharian macam Pak Syafi’i. Tapi tampaknya ini sulit. Mungkin karena situasi dan referensi, yang lebih tampak di kalangan muda Muhammadiyah adalah sebaliknya. Khususnya mereka yang lebih banyak hidup dalam miliu gerakan mahasiswa, terlebih dalam kepemimpinan organisasi di level wilayah (provinsi) dan pusat (nasional), serta tidak banyak berurusan langsung dengan akar rumput. Ada kecenderungan wawasan dan pandangan keislamannya meneladani Pak Syafi’i, sedang manuver politiknya meneladani Pak Amien. Wallahua’lam.

Terlepas dari itu semua, keduanya memiliki banyak aspek yang bisa diteladani. Semoga Allah berikan kebaikan pada keduanya. Khususnya kepada Pak Syafi’i yang berulang tahun hari ini. Delapan puluh lima tahun adalah usia yang panjang dan melelahkan. Bagi saya pribadi, karena mengoleksi berbagai karya beliau sejak lima belas tahun lalu, serta lebih sering berinteraksi dengan beliau dibandingkan dengan Pak Amien, banyak hal mengesankan dari pribadi beliau. Semoga Allah luruskan kesalahan beliau dan memberikannya kebaikan di dunia maupun akhirat.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: