Santri Cendekia

Abu Nawas dan Manhaj Syairnya Untuk Mendapat Ampunan Allah

Penulis: Wayan Bagus Prastyo*

Diriwayatkan dalam sebuah hadis yang terkenal dari sahabat Abu Hurairah R.A bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda  yang artinya “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya” (HR. Muslim). Di antara semua manusia yang bergairah mengetahui pelajaran hadis ini adalah Abu Nawas, dimana saat ia hendak wafat, ia mengucapkan syair yang sangat indah untuk mewakilkan tindakan taubatnya kepada Allah SWT. Dimana dalam syairnya terdapat susunan yang sangat sistematis dan indah dalam upaya kerasnya untuk mendapat ampunan dari Allah SWT. Syairnya juga sangat menyentuh bagi siapa saja yang membacanya, sehingga merasa menarik untuk menghafal sekaligus membahasnya.

Lalu bagaimana manhajnya dalam menyusun sebuah syair yang sangat indah dan menyentuh dalam upayanya merayu Allah agar berkenan menerima taubatnya?   Namun sebelum membahas manhajnya, maka pertama-tama kita membahas siapa itu Abu Nawas?

RIWAYAT SINGKAT TENTANG ABU NAWAS.

Rosihan Anwar menyamakan sosok Abu Nawas dengan Kabayan –tokoh komedian Indonesia-, namun ini dinilai sangat tidak proposional. Kabayan hanya mempersepsikan pelaku seni yang lugu, lucu, jujur, dan tidak hidup dalam hingar bingar metropolis kota peradaban. Meskipun begitu canda dan guyonannya sarat dengan pesan moral dan budaya kejujuran. Sementara Abu Nawas lebih kompleks dari itu, ia dianggap sastrawan yang polemis sekaligus vulgar, bombastis, kontroversional, dan sangat vocal menyuarakan kritik sosial. Bahkan ia dianggap sebagai intelektual penyair terbesar di kalangan masyarakat Arab kala itu.

Nama asli Abu Nawas adalah al-Hasan ibn Hani, salah satu pembesar penyair atau sastrawan di zaman ad-Daulah al-Abbasiyah. Lahir di Ahwaz salah satu daerah di Khuziztan di sebelah barat Persia pada tahun 140 Hijriah (dalam riwayat lain 145 H). Ras arab didapat dari ayahnya, salah seorang tentara Marwan ibn Muhammad khalifah Bani Umayyah terakhir. Sementara Ras Persia didapat dari ibunya bernama Julibban. Oleh karena itu ia tidak saja menguasai bahasa Persia tetapi juga dianggap salah seorang pionir kultur dan peradaban Persia di Baghdad.

Pada usia 6 tahun ayahnya meninggal, sehingga ibunya mengajak untuk tinggal di Basrah. Demi memenuhi dahaga intelektual dan seninya, ia banyak mempelajari berbagai macam ilmu, baik ilmu-ilmu keagamaan, pemikiran, bahasa, dan sastra. Ilmu-ilmu agama ia serap secara intens, fatwa dari berbagai mazhab fiqh, tafsir baik tentang nasakh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, serta hadis.

Baca juga:  Nasib Difabel di Era Khilafah

Dalam bidang bahasa dan sastra  ia bergaul dengan Walibah ibn Hibban al-Asadi seorang penyair jenaka, abu al-A’tahiyah, Basyar bin Burd serta beberapa tokoh penyair dan intelektual lainnya. Ia juga membentuk sebuah komunitas dengan nama “Ishabah al-Mujan” perkumpulan kaum jenaka. Ia juga bergaul dan menimba ilmu dari dua tokoh ilmu nahwu seperti Abu Yazid dan Abu Ubaidah. Serangkaian perjalanan ilmiyah ia lakukan bersama gurunya Walibah ibn Hibban al-Asadi ke Ahwaz kemudian ke Kufah.

Kehidupannya di Kuffah menambah kekentalan penguasaan intelektualitasnya. Ia rajin hadir dalam pertemuan ilmiyah para penyair yang biasa diadakan setiap hari bersama Walibah sambil minum-minum. Dalam kondisi mabuk, sering kali mereka mengkritik dan mencela para pendahulu dan pembaru. Pertemuan intelektual ini digunakannya untuk membiasakan bersikap spontan, melatih, meneliti, dan mengkritik kebudayaan, perilaku, bahkan realitas sosial. Dalam rangka penguasaan bahasa dari sumber aslinya ia menuruti saran Khalf Ahmar untuk mendalami bahasa pada masyarakat badui. Lalu ia ke Baghdad kemudian ke Mesir untuk menimba pengalaman intelektualnya.

Abu Nawas kembali ke Baghdad pada saat Harun al-Rasyid menjadi khalifah, ia mulai mendapat kedudukan khusus di istana pada masa itu, sekalipun ia pernah dipenjarakan pada masa itu, kemudian dilepaskan kembali. Ia juga bergaul dengan beberapa penyair seperti al-Walid ibn Yazid, Adi ibn Zaid, dan Husein ibn Dhahak. Ada perbedaan pendapat mengenai tahun dan sebab kematiannya. Ada pendapat yang mengatakan ia meninggal di penjara. Ada pula pendapat bahwa ia mencela Bani Nubihkat, dan mereka memukuinya sampai wafat. Tahun wafatnya tercatat 190 H, dalam riwayat lain 197 H.

SYAIR ABU NAWAS : TERJEMAH DAN MAKSUDNYA

Berikut adalah syair yang dimaksud dalam upaya kerasnya agar Allah berkenan menerima taubatnya.

يا ربِّ إنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً                              فلقد عَلِمْتُ بِأَنَّ عفوك أَعْظَمُ

إِنْ كَانَ لاَ يَرْجُوكَ إِلاَّ مُحْسِنٌ                  فَمَن الذي يَدْعُو ويَرْجُو المجرم

أَدْعُوكَ رَبِّ كما أمرت تَضَرُّعاً                                فَإِذَا رَدَدَّتَ يَدِي فمن ذا يَرْحَمُ

مَالِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلاّالرَّجَا                    وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمُ

 

“Wahai Tuhanku, aku mengetahui bahwa dosaku sangat banyak

maka sungguh aku juga mengetahui bahwa ampunanmu lebih besar

Apabila tidak ada yang boleh berharap kepada-Mu kecuali orang-orang yang baik

maka kepada Siapa orang yang pernah berbuat jahat berdoa dan memohon?

Aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku sebagaimana engkau perintahkan, dengan menampakan segala kelemahanku

maka apabila engkau menolak permohonanku, kepada siapa lagi hamba memohon kasih sayang?

Aku tidak mempunyai satu wasilah pun untuk memohon kepada-Mu kecuali harapan

dan keindahan ampunanmu. Dan sungguh aku termasuk orang muslim (berserah diri)”

MANHAJ SYAIRNYA

Baca juga:  Tentang Berita yang Viral dan Teori Mutawatir

Jika kita perhatikan setiap baitnya dari awal hingga akhir, maka dapat diambil sebuah sistematika yang indah dalam manhajnya menyusun syair tersebut. Kita lihat dari bait yang pertama bahwa ia memulai baitnya dengan “pengakuan” bahwa dosanya amat banyak. Jika di ta’wil lebih luas maka bait pertama dapat diartikan sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku, hamba mengetahui bahwa dosa hamba selama hidup didunia amatlah banyak, maka hamba juga mengetahui bahwa ampunan-Mu lebih luas dan hamba memohon agar engkau menyayangi dan mengampuni hamba.”

Kemudian bait kedua ia lanjutkan dengan “kegelisahan” yang ia rasakan. Jika di ta’wil lebih luas maka bait kedua dapat diartikan sebagai berikut:

“Dan apabila tidak ada yang boleh untuk memohon dan mendapat ampunan-Mu kecuali orang-orang mu’min yang baik yang memiliki banyak amal shalih, maka kepada siapa orang yang pernah berbuat dosa dan jahat memohon ampunan?”

Kemudian bait ketiga ia lanjutkan dengan “permohonan”. Maka jika di ta’wil lebih luas bait ketiga dapat diartikan sebagai berikut:

“Dan hamba berdoa kepada-Mu wahai Tuhanku untuk memohon perlindungan dengan menampakkan segala kelemahan dan ketidakmampuan hamba sebagaimana firman-Mu.”

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku….’(Q.S:al-Baqarah:197)

Dan apabila Engkau tidak menyanyangi hamba, maka tidak akan ada lagi sampai kapanpun Zat yang menyayangi hamba, kecuali hanya Engkau.

Kemudian dalam bait keempat ia tutup dengan “kepasrahan” agar Allah berkenan menerima taubatnya. Maka jika dita’wil lebih luas  bait keempat dapat diartikan sebagai berikut:

“dosa-dosa hamba amatlah banyak Wahai Tuhan, dan hamba tidak memiliki satu wasilahpun yang dapat hamba gunakan untuk mendekatkan diri hamba kepada-Mu kecuali dari luasnya ampunan-Mu, rahmat-Mu, dan keindahan ampunan-Mu, kemudian sungguh hamba adalah seorang muslim yang dengan ikhlas bertaubat dan berdoa kepada-Mu ”

Demikianlah indahnya syair Abu Nawas dalam penghujung hidupnya demi mendapat ampunan dari Allah SWT. Adapun perihal diterima atau tidak taubatnya maka Allahu a’lam bissawab. Namun apabila merujuk kepada hadis diatas maka besar peluang diterima taubatnya. Dan dari syairnya tersebut dapat kita tiru dalam doa-doa kita dan dapat pula kita jadikan contoh tuntuk meluluhkan hati orang lain  dengan merubah lafal-lafalnya, teteapi tetap dengan tarkib yang sama. Sebagai contoh nya adalah sebagai berikut:

Wahai Fulan/Fulanah, aku sadar bahwa aku memiliki banyak kekurangan, maka aku juga sadar bahwa segala kelebihanmu dapat menutupi segala kekurangan-kekuranganku itu

Apabila tidak ada orang yang boleh bersanding denganmu kecuali orang-orang baik, maka kepada siapa orang-orang yang hanya ingin menjadi pribadi lebih baik berharap?

Aku meminangmu Fulan/Fulanah, sebagaimana Allah perintahkan, dengan menampakkan diriku apa adanya, maka apabila engkau menolakku kepada siapa lagi aku memohon kasih dan sayang?

Aku tidak punya satu wasilahpun yang dapat kugunakan untuk mendekatkan diriku denganmu  kecuali doa-doaku yang berlabuh pada Allah SWT dan keindahan perilakumu. Dan sungguh aku mencintaimu.”

Wkwkwkw. Ini cuma contoh.

Baca juga:  Adakah "Kesalahan" Gramatik di dalam Al-Qur’an?

*Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Referensi:

Anshoriyah, Siti. Abu Nuwas Intelektual dan Humanitas Puisi. Al-Turasi Vol.10. No. 3 September 2004.

Jamiah al-imam Muhammad ibn su’ud al-islamiyah. Kitab Silsilah ta’lim al-lughah al-arabiyah mustawa ar-rabi’ (al-Balaghah wa an-Naqd). Riyadh. 2004.

https://www.aldiwan.net/poem27209.html  diakses pada tanggal 21 Desember 2019 pukul 19.50 WIB.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke Santricendekia.com melalui email: tholebinibrahim@gmail

Add comment

Tinggalkan komentar