Santri Cendekia

Ada Apa dengan Imron? (Ali-Imran : 33)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

Sesungguhnya Alah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim, & Keluarga ‘imron di atas seluruh alam (Ali-imran : 33).

 

Inilah salah satu mukjizat Al-Qur’an, dalam sebuah kalimat singkat, tersimpan banyak kisah dan hikmah yang siap dipetik oleh siapapun yang merenunginya dalam-dalam. Jika kita perhatikan, dalam ayat ini Allah menyebutkan 2 Nama Nabi, 1 Nama Nabi beserta keluarganya, dan….? ya benar! 1 nama manusia biasa beserta keluarganya. Ada apa dengan Imron? Kita akan bahas dan urai ayat ini satu per satu.

 

IIshthofa atau isthifa berasal dari kata shafa yang artinya suci. Arti yang lebih dekat dari ishthofa adalah, memilih yang paling suci dari sekian banyak. Seperti halnya yang mungkin biasa kita lihat di iklan minyak goreng dengan brand tertentu, “minyak goreng dengan 5 kali penyaringan”. Allah memilih Adam, Nuh, Keluarga ibrahim, dan keluarga Imron sebagai role model untuk seluruh alam karena keutamaan-keutamaan mereka. Pelajaran pertama yang menarik dari ayat ini adalah bahwa ketika Allah menyebut Adam as dan Nuh as, Allah tidak menyertakan keluargannya. Sedangkan ketika Allah menyebut Ibrahim as dan Imron, Allah menyertakan keluarganya. Di sini kita bisa melihat ke-Maha adilan Allah. Meski Adam dan Nuh adalah seorang Nabi, tapi perlu kita ketahui, tanpa mengurangi kemuliaan mereka berdua. Bahwa Nabi Adam as dan Nuh as, masing-masing memiliki  anggota keluarga yang “cacat”. Nabi Adam dengan anaknya yang bernama Qabil. Nabi Nuh dengan anaknya Kan’an dan istrinya yang kafir kepada-Nya. Allah mengajarkan kita para manusia untuk menilai sesuatu dengan adil. Meski keluarga Nabi sekalipun, ternyata tidak ada jaminan keselamatan dan hak prerogatif untuk mendapatkan hidayah. Tidak ada ‘kursi VIP’ dalam urusan mengejar surga-Nya bagi para manusia biasa sekalipun anggota keluarga seorang Nabi. Tetapi, yang perlu kita ingat adalah, sekalipun keluarga Nabi adam as dan Nabi Nuh as memiliki ‘cacat’, Allah tetap menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang utuh menjadi role model bagi seluruh alam karena mereka terlepas dari ‘kecacatan’ yang terjadi pada anggota keluarganya. Kecacatan yang terjadi ada keluarga mereka berdua, bukan karena kelalaian yang mungkin sering kita perbuatan dalam perjalanan kita mendidik keluarga. Jangan sampai, kita salah paham dan kelak ketika ada kecacatan yang terjadi pada keluarga kita akibat kelalaian kita, dengan mudahnya kita mengelak, “Nabi aja bisa gagal didik keluarga, apalagi saya yang manusia biasa?” ini namanya ucapan lancang dari orang yang tidak berilmu.

Baca juga:  Hubungan yang Terlepas (Al-Baqarah : 166)

 

Hal kedua yang menarik adalah, kita tahu bahwa Adam as, Nuh as, dan Ibrahim as, ketiganya adalah seorang Nabi. Sedangkan Imron, dia hanyalah manusia biasa. Ada apa sebenarnya dengan Imron? Hingga Allah ‘azza wa jalla mensejajarkan namanya di sisi Adam, Nuh, dan Ibrahim? Imron berhasil mendidik keluarganya sehingga kelak dari keturunannya akan lahir manusia-manusia yang suci dan luar biasa. Dari rahim istri Imron, lahir lah wanita suci yang telah di nazarkan untuk Allah oleh ibunya semenjak masih ada di dalam kandungan, Maryam. Dari maryam, kelak akan lahir seorang Nabi dan Rasul Allah bernama Isa as. Seorang manusia yang lahir tanpa ayah, lahir tanpa ada campur tangan sedikitpun dari birahi seorang ayah. Hebatnya lagi dari keberkahan keluarga Imron ini adalah, Nabi Isa yang kelak akan menjadi kunci dari kemenangan umat islam melawan dajjal la’natullah ‘alaih, Masya Allah!!. Inilah keberkahan, efeknya bisa sampai jangka panjang! Maka tak heran Allah sandingkan Nama seorang Imron dengan ketiga Rasul-Nya. Dan bahkan, ketika istri Imron melahirkan maryam, Imron telah tiada. Imron berhasil membentuk pondasi positif yang kuat dalam keluarganya. Sehingga sekalipun Ia telah tiada, nilai-nilai positif yang ia tanamkan dalam keluarganya terus berjalan dan mengukir kisah yang hebat di masa lalu, hingga di masa depan, MasyaAllah.

 

Maka sungguh, kisah Imron ini patut menjadi tamparan keras untuk kita para ayah masa kini. Yang terkadang, bahkan kehadiran jasad kita di dunia ini pun masih gagal untuk membangun pondasi keislaman yang kuat dalam keluarga kita. Sungguh, keluarga Imron tidak akan pernah menjadi kisah tersendiri di dalam Qur’an, jika semasa hidupnya Imron hanyalah seorang ayah yang sibuk mencari nafkah sejak pagi buta hingga malam suntuk. Kisah Imron tak akan pernah ada, jika semasa hidupnya Imron tak sibuk mendekatkan diri dan istrinya kepada Allah. Kisah Imron tak akan pernah ada, jika Imron hanyalah seorang kepala keluarga yang sibuk mengembangkan karir dan hobinya. Keluarga Imron tak akan pernah ada, jika Imron hanyalah seorang pria yang menjadikan profesi ‘ayah’ sebagai sampingan. Mari jangan pernah remehkan dan pandang sebelah mata profesi ‘ayah’ dalam hidup kita. Dalam Qur’an, gelar uswatun hasanah hanya diberikan kepada dua orang, Rasulullah SAW dan Ibrahim as. Dua Nabi ini, adalah Nabi yang berhasil dalam perannya sebagai pembangun peradaban tauhid, dan keduanya juga sosok ayah yang berhasil dalam membangun keluarganya. Maka uswatun hasanah ini dihadirkan juga untuk menjadi pelajaran bagi para pria, bahwa urusan peradaban akan lebih mudah jika para pria berhasil menjadi ayah-ayah yang sukses dalam keluargnya.

Baca juga:  Tadabbur Asmaul Husna (Al-Bari', Yang Menciptakan tanpa Contoh Sebelumnya)

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: