Santri Cendekia
Home » Adakah Anak Kita seperti Yusuf? (Yusuf 4-5 part 1)

Adakah Anak Kita seperti Yusuf? (Yusuf 4-5 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

 (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”(4). Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”(5) (Yusuf : 4-5)

Pemandangan seperti yang digambarkan oleh ayat di atas adalah pemandangan yang sudah sangat langka. Pemandangan apa yang dimaksud? Pemandangan yang menggambarkan dialog dan konsultasi mesra antara seorang ayah dan anaknya.

Yusuf kecil, bermimpi tentang sesuatu yang aneh. Bermimpi bahwa sebelas bintang, matahari, dan bulan semua bersujud kepadanya. Hati Yusuf  kecil yang merasa ganjil, tidak lantas membuat dia segera bercerita dengan seru kepada teman-temannya, saudara-saudaranya, bahkan ibunya. Orang pertama yang ia cari dan ia jadikan tempat bertanya adalah..ayahnya, ya AYAHNYA.

Duhai para ayah, seperti Yusuf kah anak-anak kita? Masihkah mereka percaya kepada kita untuk menjadi tempat konsultasi dan bercerita soal hal-hal baru yang ia temui dalam hidupnya? Masihkah mereka percaya bahwa kita adalah orang yang akan selalu mengerti permasalahan-permasalahan mereka dengan kedalaman ilmu kita? masihkah kita sering berdialog dari hati ke hati dengan mereka? Hmm.. atau ..masihkah kita kenal dengan diri mereka sekarang? Jika jawabannya negatif, maka mari kita minta ampun kepada Allah atas kezaliman yang kita perbuat kepada anak-anak kita.

Sibuk bekerja siang malam. Setelah jenuh bekerja saatnya menghabiskan waktu dengan hobi. Apa yang keluar dari mulut kita untuk anak-anak kita pun layaknya rekaman suara yang sumbang dan memekakan telinga.

Baca juga:  Di Pos Masing-Masing (Ali Imran : 200 end part)

“Gimana nilai ulangan?”, “jangan lupa belajar”, “hari ini les kan?”, “mandi”, “makan”, “kerjain PR”. Setelah itu masih berani kita berbicara, “biar sukses kayak ayah.”. Sukses apanya?! Sukses merenggut sosok ayah dari hidup anakmu??

Duhai para ayah, jadilah ayah seperti Ya’qub. Agar anakmu percaya kepadamu seperti Yusuf percaya kepada ayahnya. Ya’qub pun menjawab kepercayaan anaknya. Ya’qub menangkap dengan baik apa yang ingin didapatkan oleh seorang Yusuf dengan pertanyaannya. Ya’qub tahu apa maksud dari mimpi tersebut, bahwa Yusuf akan mendapatkan anugrah berupa Kenabian, dimana yang kelak bersujud kepadanya adalah ayah ibunya, beserta kesebelas saudaranya. Ya’qub berikan jawaban yang mencerminkan ilmu dan hikmahnya yang mendalam,

“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Kapan terakhir kali mengaji dan menambah ilmu-mu ayah? Kapan terakhir kali kamu menjawab rasa penasaran anakmu akan sesuatu? Oh iya, bos dan klien-klienmu yang bahkan tidak bisa menolongmu di akhirat sana sudah melalaikan kamu dari anak-anakmu. Bukan begitu ayah?

Sebuah tulisan ilmiah akan menjadi penguat dari tadabbur kali ini. Ustad Budi Ashari mengutip karya ilmiah ini dalam tulisannya yang berjudul “AYAH BISU”. Tulisan ilmiah karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandinga

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:

حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ

Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Baca juga:  Muhammadiyah Salafi dan Kebutuhan Dasar dalam Dakwah

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali) [1]

MasyaAllah! Al-Qur’an memberikan isyarat dengan begitu kuat. Ayahlah yang harus lebih banyak dan intens untuk berkomunikasi dan memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.

Ayah, kamu adalah role model bagi anak laki-lakimu. Agar kelak mereka mengerti bagaimana menjadi seorang pria yang Qowam.

Ayah, kamu adalah role model bagi anak perempuanmu. Agar kelak mereka mengerti bagaimana memberi cinta yang halal pada pria yang tepat.

“hadiah terbaik untuk anak-anak kecilmu, bukan mainan mahal dan mewah. Hadiah terbaik yang mereka butuhkan adalah WAKTUMU”, Begitu Ustad Bachtiar Nasir menasehati kami. Maka segera ayah, batalkan lemburmu! Segera pulang dan ajak anakmu main laying-layang di tanah lapang. Dan kamu akan lihat senyum yang tak pernah muncul dihadapanmu dalam waktu yang lama itu, merekah kembali.

.

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar