Santri Cendekia

Benarkah Aisyah R.A Mengingkari Mi’raj?

Walaupun kebanyakan ulama tidak sependapat dengan Aisyah di segi riwayat mi’raj, akan tetapi seluruh ulama sependapat dengan Aisyah dalam caranya menafsir kejadian tersebut

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Syekh Bisri Musthofa Rembang dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra’ itu sangat singkat dan mi’raj itu seperti qaba qausaini.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan Isra’ Mi’raj: 1) Qishshah Mi’rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi: 2) Tashilul Ghiba min Qissatil Isra’ wa Mi’rajin Nabi karya Syekh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I’anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra’ wal Mi’raj karya Syekh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4) Nurus Siraj fi Bayanil Isra’ wal Mi’raj karya Syekh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Tapi siapa sangka istilah mi’raj ternyata menjadikan polemik di kalangan ulama’. Di kitab kitab riwayat seperti hadis Muslim istilah mi’roj itu tidak ada sama sekali, yang ada babul isroil rosullilah, khina usria bihi dst. Padahal istilah isro’ mi’raj itu menjadi keuntungan besar bagi mubaligh hehehe..

Istilah mi’raj itu suatu istilah yang tidak disepakati ulama’. Dalam aqidah sunni orang yang mengingkari isro’ itu kafir karena jelas di Qur’an. Sedangkan orang yang tidak meyakini istilah mi’raj itu tidak apa apa, sebagian ulama’ menghukumi fasiq karena hadis yang diriwayatkan Aisyah beliau istri nabi dan pendokumentasi hadis beliau mengatakan

من زعم أن محمدًا رأى ربه فقد أعظم الفرية على الله

“Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Muslim) bisa di cek juga di hadis Bukhori dan Turmudzi.

Baca juga:  Tadabbur Surat Al-Lahab (Bag. 2)

Beliau juga mengaitkan dengan dalil Qur;an;

لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَا

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Lalu kenapa Aisyah mengingkari mi’raj?

Mungkin Aisyah ingin mengamankan konstitusi agama. Coba kalau Nabi melihat Allah dalam mi’raj yang pasti beliau berdialog dengan Allah lalu menjadikan kita berpikir Allah mempunyai tahta di arasy, Allah duduk gimana? dll. Lalu menjadikan seorang berpikir berkelanjutan tentang masalah Allah itu qodim, lalu qodiman mana dengan alam apa terbentuk bersamaan seperti yang diulas di kitab tuhfatul falasifah.

Padahal aqidah kita mempunyai qoidah Allah itu tidak bisa imajinasikan pokoknya laisa kamislihi syaiun.  Lalu nabi juga memberi batasan jangan berfikir siapa atau apa pekerjaan Allah tapi pikirkanlah ciptaan-Nya saja.

Contoh kecil

وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّۭا صَفًّۭا

dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”.

Masak kita anggap Allah di hari kiamat baris bersama malaikat seperti kaya Prabowo baris militer? Lalu menjadikan akal kita berimajinasi Allah di sisi kiri atau kanan ya? Atau malah di tengahnya? Walaupun kebanyakan ulama tidak sependapat dengan Aisyah di segi riwayat mi’raj, akan tetapi seluruh ulama sependapat dengan Aisyah dalam tafsir demi menjaga sebuah kaidah agama, robbahu itu ditakwilkan utusannya Allah entah Jibril, Mikail pokoknya bukan Allah langsung, logikanya kita menyakini yang mematikan,memberi rizqi,memberi rohmat kita itu Allah tapi masak Allah sendiri yang bertugas kan ada Izroil, Mikail dll..

Baca juga:  Dari Anti-Gay Menjadi Pro-Gay ; Apakah yang Terjadi di AS Mungkin Terjadi di Indonesia?

Kesimpulannya perselisihan semacam ini adalah perselisihan yang masing-masing bisa ditoleransi. Karena itu, memilih pendapat apapun yang dipilih dalam perselisihan ini tidak dihukumi bersalah atau layak divonis memiliki aqidah menyimpang. Adz-Dzahabi berkata tentang perkara ini;

“Kita tidak boleh bersikap keras terhadap ornag yang berpendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah di dunia maupun yang berpendapat sebaliknya. Sikap yang tepat, kita mengatakan, Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu. Dan kita bersikap keras dan menilai sesat orang yang mengingkari Allah bisa dilihat pada hari kiamat. Karena keterangan bahwa Allah bisa dilihat pada hari kiamat terdapat dalam berbagai dalil yang shahih “(Siyar A’lam Nubala’, 10/114).

Wallahua’lam

 

Wawan Susanto

1 comment

Tinggalkan komentar