Santri Cendekia
Home » Al Ghazali, Jerussalem, dan Upaya Merebut Kembali Al-Aqsa

Al Ghazali, Jerussalem, dan Upaya Merebut Kembali Al-Aqsa

Tidak ada dokter paling terampil pada saat itu yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Selama berminggu-minggu, ia tak mampu berbicara di hadapan murid-muridnya, bahkan tak dapat menulis sebaris kalimat pun seperti biasanya. Dalam otobiografinya, Al Munqidz min al-Dhalal, Abu Hamid Al Ghazali (1058-1111) mengakui ia menderita penyakit skeptisisme, yang membuatnya selalu menahan diri saat akan membuat klaim kebenaran.

Kenyataan ini mendorong Hujjatul Islam untuk mendalami seluruh bidang ilmu pengetahuan. Hampir setengah usianya dihabiskan untuk mengeksplorasi dan menyelidiki berbagai aliran yang berkembang pada masanya. Hal ini menjadi dorongan baginya untuk meninggalkan seluruh jabatan prestisiusnya di Madrasah Nizhamiyah Baghdad demi menemukan apa yang ia sebut dengan “‘ilm al-yaqin”, pengetahuan yang tidak meninggalkan ruang bagi keraguan.

Keinginan kuatnya mendapatkan ‘ilm al-yaqin ini membawa al-Ghazali ke Jerussalem pada tahun 1095—dua tahun sebelum Perang Salib pecah. Di Jerussalem, ia singgah di Masjid al-Aqsa, al-Haram al-Syarif, tempat ketiga yang paling dihormati oleh umat Islam. Para sejarawan berasumsi bahwa perjalanan Al Ghazali dari Baghdad ke Damaskus dan Jerussalem ini untuk bertemu seorang sufi sekaligus ulama fikih terkenal pada masanya yaitu Abu al-Fath Nasr bin Ibrahim al-Maqdisi al-Nabulusi. Besar kemungkinan Al Ghazali merasa tertarik dengan pengetahuan dan kezuhudan Syaikh Nasr.

Selama di Jerusalem, Al Ghazali tinggal di bawah kubah Bab al-Rahmah di tembok sebelah timur Masjid al-Aqsa. Selain melakukan aktivitas sehari-hari, Al Ghazali juga menulis sebagai sarana untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Bagi Al-Ghazali, pena adalah katalis yang membebaskan pikirannya dari belenggu keraguan dan kebimbangan. Salah satu buah karya penting yang lahir saat ia tinggal di Jerussalem ini ialah kitab al-Risalah al-Qudsiyyah fi Qawa’id al ‘Aqa’id.

Awalnya, al-Risalah al-Qudsiyyah ini bagian dari Ihya’ Ulum al-Din dalam Kitab Qawa’id al-‘Aqa’id. Tapi, dalam praktiknya, risalah ini dapat dianggap sebagai karya independen yang berdiri sendiri karena diawali dengan ucapan basmalah dan doa panjang yang biasanya untuk bagian pembuka sebuah kitab. Integrasi al-Risalah al-Qudsiyyah ke dalam dalam Ihya’ Ulum al-Din memang terjadi, tetapi seiring dengan pengakuan Al-Ghazali sendiri yang menyebutkannya secara eksplisit sebagai “Kitab al-Risalah al-Qudsiyyah”, karya ini oleh para sejarawan kemudian dilihat sebagai entitas yang berdiri sendiri.

Menariknya, al-Risalah al-Qudsiyyah tidak hanya merupakan hasil perkembangan pemikiran Al-Ghazali, tetapi juga timbul sebagai respons terhadap tuntutan masyarakat Jerussalem. Penulisan risalah ini sebagai bentuk tanggapan terhadap kebingungan warga setempat yang muncul akibat penyebaran praktik bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan kekhawatiran terkait isu keagamaan lainnya. Meski ditujukan bagi orang awam, Risalah ini tetap ditulis dengan gaya khas para teolog: singkat, rumit, dan penuh dengan kiasan, sehingga tetap sulit dipahami secara sekilas.

Secara singkat, dalam al-Risalah al-Qudsiyyah, al-Ghazali menggunakan argumen teologis dan filosofis untuk membuktikan kebenaran ajaran Sunni, mengakui otoritas Al-Qur’an dan hadis, serta menunjukkan pentingnya wahyu dalam membimbing umat Islam. Tujuan utama penulisannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat Jerussalem tentang pokok-pokok akidah Islam secara umum. Lebih dari itu, al-Ghazali ingin memberikan pembelaan intelektual terhadap ajaran Sunni dari ancaman kalangan Mu’tazilah.

Baca juga:  Euthanasia dalam Pandangan Sekular Barat dan Agama Islam

Dengan lahirnya kitab al-Risalah al-Qudsiyyah, Jerussalem dan Masjid al-Aqsa nampaknya menjadi salah satu destinasi paling istimewa di mata Al-Ghazali. Saking ikoniknya, kediaman al-Ghazali di bawah kubah Bab al-Rahmah sebelah timur Masjid al-Aqsa menjadi salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi para peziarah. Mereka datang untuk meramaikan lorong-lorong bersejarah, menyusuri jejak Al-Ghazali, meresapi makna al-Risalah al-Qudsiyyah, dan memperpanjang benang merah ikatan spiritual dengan kota suci ini.

Namun, sayangnya, sejak tahun 1967 hingga saat ini kondisi Jerussalem dan Masjid al-Aqsa dalam status yang tidak baik-baik saja. Serangan terhadap Masjid Al-Aqsa dan jamaahnya selama beberapa tahun terakhir begitu sering terjadi sehingga kadang dianggap lumrah. Pada Ramadan 2021, Al-Aqsa menjadi saksi salah satu serangan paling brutal dari Zionis Israel, yang melibatkan pemukulan sewenang-wenang terhadap para jamaah. Ramadan 2022 kembali menyaksikan pengulangan agresi Zionis Israel, yang berlangsung semakin berani dan kejam.

Al Ghazali dan Perang Salib

Pada saat Al Ghazali singgah di Jerussalem pada tahun 1095, Kota Suci ini berada di bawah kekuasaan Kekhilafahan Abbasiyah. Akan tetapi, pada masa ini Khalifah di Baghdad lebih berfungsi sebagai simbol tanpa kekuasaan nyata. Tanggung jawab administrasi dan militer secara dominan diurus oleh Bangsa Seljuk dari Turki. Dengan kekuatan pusat yang melemah dan terpecah belah, Kesultanan Seljuk tidak mampu mengatasi konflik internal, menciptakan kekosongan kekuasaan yang mampu dieksploitasi oleh Para Penakluk Salib.

Ketidakbersatuan di antara pemimpin Muslim juga turut berkontribusi pada kesuksesan Para Penakluk Salib. Kekerasan yang dilakukan selama penaklukan tidak segera menyatukan pemimpin Muslim untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Para gubernur di Syam (Suriah-Palestina) lebih tertarik untuk membela wilayah mereka sendiri. Akhirnya, wilayah Islam terpecah belah menjadi dinasti-dinasti kecil yang sibuk satu sama lain. Hal ini menimbulkan penurunan kharisma istana, dan kemerosotan mekanisme politik dan administrasi di Abbasiyah.

Di samping itu, kondisi umat Islam jatuh pada perangkap kehidupan duniawi. Penyakit-penyakit ini meresap ke dalam masyarakat dan tampak nyata dalam karakter negatif seperti kesombongan, egoisme, dan pencarian kesenangan, yang pada akhirnya mengarah pada disintegrasi sosial. Setiap tindakan kolektif menjadi sulit diupayakan, bahkan hampir tidak mungkin karena perselisihan internal umat Islam yang tidak karu-karuan. Masalah-masalah yang terjadi pada akhirnya tidak terselesaikan karena hubungan sosial kehilangan fungsinya.

Keadaan di atas menciptakan apa yang disebut Malek Bennabi dengan “colonisability” atau kondisi yang empuk sekali untuk dijajah. Karena itu, banyak sejarawan menilai bahwa kemenangan Tentara Salib dalam Perang Salib di Jerussalem tahun 1097 bukanlah hasil dari kehebatan militer atau superioritas budaya mereka, melainkan akibat dari keadaan melemah dan terpecahnya Kesultanan Seljuk serta konflik internal di wilayah Muslim. Hal inilah yang memungkinkan Para Penakluk Salib untuk mengeksploitasi kerentanannya dan mencapai kesuksesan dalam menaklukkan wilayah-wilayah penting, termasuk Jerussalem.

Baca juga:  Palestina Sebagai Hama Peradaban Manusia

Meskipun Al Ghazali memiliki kenangan manis di Jerussalem, namun ia samasekali tidak menyinggung peristiwa Perang Salib di semua karya-karyanya. Padahal, di Jerussalem Tentara Salib melakukan pembantaian dengan cara yang sangat keji. Kaki-kaki kuda mereka berlumuran darah korban-korban pembantaian terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Peristiwa “Nakba 1098” ini menimbulkan prasangka buruk bagi sebagian orang. Ia dianggap sebagai ulama yang tidak peduli dengan nasib umat Islam, bahkan dituduh sebagai pioneer kemunduran peradaban Islam.

Muhamad Rofiq Muzakkir tidak sepakat dengan klaim di atas. Menurut Rofiq, ada dua alasan utama mengapa Al-Ghazali tidak menyebut Perang Salib dalam tulisan-tulisannya.  Pertama, alasan kronologis. Ketika Al-Ghazali mengembara dari Baghdad menuju Syam pada tahun 1095-1096 M, Damaskus dan Jerussalem masih berada di bawah kekuasaan umat Islam, dan pasukan Salib belum merebut kota-kota tersebut. Saat Al-Ghazali kembali ke Baghdad pada tahun 1098 M, pasukan Salib baru merebut Jerussalem lewat jalur Antiokhia. Jadi, Al-Ghazali tidak mengalami langsung peristiwa Perang Salib selama tinggal di Syam.

Kedua, alasan epistemologis/pengetahuan. Dapat diasumsikan bahwa bagi al-Ghazali, masalah sebenarnya tidak terletak pada kedatangan Tentara Salib dari luar, melainkan pada kelemahan dalam masyarakat Muslim sendiri yang telah mengundang campur tangan kekuatan asing untuk datang. Sebagai seorang intelektual sekaligus pemuka agama, al-Ghazali memikul tanggungjawab meluruskan akidah dan cara berpikir umat Islam. Karya-karyanya mencakup akhlak, tasawuf, politik, filsafat, dan usul fikih, semuanya disiapkan sebagai bagian dari upaya reformasi tersebut.

Hilangnya ikatan spiritual akibat perselisihan internal umat Islam ini menjadi fokus al Ghazali dari semua karya-karyanya. Dalam Ihya ‘Ulum al-Din, misalnya, al-Ghazali banyak berbicara soal dimensi hati dan jiwa manusia, mengajak umat untuk memusatkan perhatian pada akhirat, mendorong individu menuju kualitas spiritual yang kokoh, dan menjalankan peran sosialnya dengan seimbang antara yang zahir dan batin, semuanya dalam upaya menciptakan kesatuan di bawah panji Ahl al-Sunnah.

Di mata beberapa penulis, seperti Alwi Alatas, al-Ghazali dihormati sebagai figur utama dalam kebangkitan Ahl al-Sunnah. Ia sukses melakukan transformasi signifikan dalam dunia Islam, khususnya di Syam, berubah dari keadaan “colonisability“, menjadi masyarakat yang kuat baik secara lahir maupun batin. Hal inilah yang menjadikan Shalahuddin al-Ayyubi sukses merebut kembali Jerussalem pada tahun 1187—tujuh puluh enam tahun setelah al-Ghazali wafat. Menurut Abdul Rahman Azzam, tanpa karya-karya al-Ghazali, Shalahuddin mungkin akan mengambil sikap lebih fundamentalis.

Merebut Kembali Jerussalem dari Zionis Israel

Nimrod Luz menyebut Masjid al-Aqsa sebagai “glocalization” atau fenomena lokal yang mengglobal. Pasalnya, tempat ini sebagai kiblat pertama umat Islam, lokasi Mi’raj Nabi Saw, pembebasan Umar bin Khattab, tempat al-Ghazali merenung, perjuangan Shalahuddin Al Ayubi, dan lain-lain. Hal ini membangkitkan mitos dan ingatan (myths and memories) umat Islam di seluruh dunia. Sehingga, ketika al-Haram al-Syarif ini diperselisihkan dan diperebutkan, umat Islam di seluruh bumi merasa harus terlibat dan ikut bersama memperjuangkan tempat suci ini.

Baca juga:  Beragama Perspektif Psikologi

Sayangnya, kondisi Masjid al-Aqsa kini dalam kondisi yang menyedihkan. Berdasarkan laporan dari Pada awal April 2023, terjadi serangan tiba-tiba dan tanpa provokasi terhadap warga Palestina yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa. Pada tanggal 17 September 2023, para pemukim Israel memasuki area masjid untuk beribadah. Pada saat yang sama, pasukan keamanan Israel menyerang warga Palestina yang mencoba masuk ke masjid melalui salah satu pintu utama, yang disebut Bab al-Silsila. Umat Islam tidak lagi punya keleluasaan untuk beribadah di tempat ini.

Pada tanggal 7 Oktober 2023, sebagai respon terhadap status Masjid al-Aqsa, para pejuang Hamas melancarkan serangan besar-besaran secara mengejutkan terhadap Israel, menembakkan hujan roket dari Jalur Gaza. Mereka melepaskan sekitar 5.000 roket dari Gaza ke Israel, dan disebutkan bahwa pejuang Hamas berhasil menangkap beberapa tentara dan warga sipil Israel. Serangan ini diberi nama Operation al-Aqsa Flood oleh Hamas dan memang dimaksudkan sebagai pembalasan atas tindakan Israel di situs masjid paling suci bagi umat Islam ini.

Selain melawan lewat senjata seperti Hamas dan Shalahuddin al-Ayyubi, nyatanya perjuangan lewat pengetahuan sebagaimana yang dilakukan al-Ghazali juga sangat penting. Al Ghazali merespons tantangan ini dengan fokus pada reformasi moral dan intelektual. Dia menulis kitab-kitab seperti Ihya ‘Ulum al-Din, yang membahas aspek-aspek etika, tasawuf, politik, filsafat, dan usul fikih. Reformasi moral yang diusungnya bertujuan untuk memperbaiki akidah dan cara berpikir umat Islam, sehingga dapat menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal.

Dalam konteks Al-Aqsa saat ini, upaya memberikan penguatan pengetahuan, dukungan akademis, dan respons terhadap propagandis Zionis Israel juga dapat dilihat sebagai upaya reformasi intelektual yang mencerminkan semangat Al Ghazali. Sama seperti Al Ghazali yang berusaha memahami dan mengatasi permasalahan intelektual dan moral umat Islam pada zamannya, para cendekiawan muslim Islam saat ini baiknya memberikan pengetahuan yang memadai kepada umat Islam dalam menanggapi ancaman terhadap Al-Aqsa.

Salah satu bentuk nyata perlawanan lewat pengetahuan ini adalah dengan membangun Palestine Center di kampus-kampus Islam/Muhammadiyah. Dengan mengambil inspirasi dari semangat intelektualitas Al-Ghazali, pembangunan produksi pengetahuan semacam ini dapat menjadi sarana untuk mendukung riset, diskusi, dan publikasi ilmiah yang memperkuat posisi umat Islam dalam mempertahankan keberlanjutan Masjid Al-Aqsa. Sehingga tempat ini dapat berfungsi sebagai ruang untuk merespons secara akademis terhadap serangan propagandis Zionis Israel.

Selain itu, perlawanan lewat pengetahuan juga penting guna memberikan edukasi kepada umat Islam agar dijauhkan dari kondisi colonisability. Perbedaan internal di antara umat akibat kurangnya pemahaman dalam ilmu pengetahuan dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing. Karena itu, perjuangan al Ghazali dalam menjaga marwah umat dapat tetap relevan. Tidak heran bila seorang penulis dari Barat George Henry Scherer mengatakan bahwa “pertobatannya nyata dan pengaruhnya abadi”.

Avatar photo

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar