Santri Cendekia
Imam al-Ghazali

Al-Ghazali Ternyata Suka Makan Mie Goreng

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 Imam al-Ghazali
oleh seorang pelukis di Iraq

 

Di masyarakat kita, kadang ditemui  hal-hal aneh yang disandarkan kepada Imam al-Ghazali.  Saya sendiri pernah nemu buku yang menyatakan Imam al-Ghazali  menulis kitab tentang jampi-jampi. Sialnya, isi buku tersebut dijadikan hujjah oleh dukun online di blogspot-nya bahwa bisnis mereka tidak dilarang agama. Sayang seribu sayang, apalagi jika mengingat, buku yang mengklaim Sang Hujjatul Islam pernah mengarang kitab jampi-jampi itu ditulis dalam rangkan meramaikan polemik melelahkan “perebutan tahta ahlussunnah wal jama’ah” antara kelompok yang sama-sama salaf(i).  Salaf(i) model lama dan salaf(i) gaya baru.

Apakah benar Imam al-Ghazali pernah menulis buku tentang jampi-jampi? Saya curiga keras, pengarang buku tersebut telah merujuk kepada salah satu karya palsu al-Ghazali. Para peneliti, diantaranya Syaikh al-Badawi dan Prof. Masyhad al-‘Allaf, telah membuktikan bahwa ada banyak kitab-kitab yang disandarkan kepada Imam al-Ghazali tapi ternyata sama sekali bukan karya beliau. Di antara kitab palsu yang disandarkan kepada al-Ghazali menurut al-‘Allaf adalah “Works on magic, talisman, witchcraft, litanies, dream interpretations, secrets of letters and numbers“. Ya, mustahil sekali kan, seorang yang jeniusnya luar biasa seperti al-Ghazali mengarang kitab-kitab pedoman perdukunan atau tafsir mimpi? Untuk lebih jelas silakan meluncur ke situs ghazali.orgdan buka laman “pseudo works”. Bila belum puas silakan cari bukunya  Baidawi, berjudul “Muallafat al-Ghazali”.

Klaim lain tentang Imam al-Ghazali yang baru saja saya baca adalah tuduhan koplak bin ngawur seorang penulis barat bernama Colin Spencer. Bule ini menulis buku tentang sejarah orang-orang sukses (suka sesama jenis) dari jaman dahulu kala hingga kini. Koplaknya, ketika membahas fenomena homo dalam masyarakat Islam, si Colin menuduh Imam al-Ghazali telah menulis puisi erotis yang memuji “kecantikan” kekasih-prianya. What? Parahnya, mas Colin sama sekali tidak memberikan catatan kaki atau keterangan lainnya dimana ia memperoleh keterangan itu, sehingga mustahil untuk memverifikasi tuduhannya.

Baca juga:  Kritik Atas Konsep Ta'dib Syed Naquib al-Attas

Awalnya saya agak galau juga, sebagai akademisi, mas Colin  mustahil asal bunyi, sekoplak apapun bunyinya. Mestilah ia mendapatkan cerita itu entah dari mana. Tapi akhirnya malam ini saya temukan jawabannya. Jawabnya bukan di ujung langit, kita ke sana bukan dengan seorang anak yang tampan dan juga pemberani. Saya menemukannya di dalam sebuah buku yang membahas perihal Homoseksualitas di dunia Arab-Islam klasik karangan Khaled el-Rouayheb. Di situ memang dijelaskan ada seorang bernama al-Ghazali yang menulis puisi homoerotis, tapi namanya Ibrahim al-Ghazali, bukan Abu Hamid al-Ghazali!. Mas Colin memang  menulis buku tersebut untuk membela kaum hombreng, mungkinkah itu sebabnya ia bisa menulis sekoplak itu? Entahlah.

Bagi saya, Colin masih mending, soalnya dia ini kan memang penulis Barat dan tidak konsen pada sejarah pemikiran Islam. Dia hanya peneliti sejarah seksualitas, porsi Islam di dalam bukunya itu juga sangat sedikit. Saya justru tercengang-cengang seperti Fitrop di acara ILK ketika mendengarkan tuduhan aneh terhadap Imam al-Ghazali kelaur dari mulut atau pena orang Islam sendiri. Apalagi kalau dia termasuk yang rajin membaca pemikiran Islam. Rasanya ingin  bilang “woow aku tercengang!” Bukan hanya sekali saya membaca atau mendengarkan muslim yang menuduh Imam al-Ghazali sebagai biang kerok mundurnya peradaban Islam. Menurut mereka, Imam al-Ghazali telah membunuh mati filsafat Islam lewat tonjokan KO-nya pada para failasuf dalam kitab Tahafut. Imam al-Ghazali dianggap menghidupkan tradisi tidak rasional di dunia Islam. Biasanya, tuduhan semacam ini akan diikuti oleh “di Islam Magrib tradisi berpikir terus hidup, hingga lahirlah Ibnu Rusyd atau al-Syatibi”.

Tuduhan bahwa al-Ghazali telah membunuh pemikiran dan ilmu pengetahuan dunia Islam sebenarnya lebay sekali. Ustad Hamid Fahmi Zarkasyi yang studi filsafatnya di Inggris ditutup dengan karya seputar konsep kausalitas al-Ghazali sudah menyinggung hal ini. Di dalam bukunya yang ringan tapi bergizi, Misykat, beliau menyampaikan bahwa asumsi semacam itu muasalnya dari para orientalis. Tuduhan itu tidak berdasar, kajian terhadap karya-karya al-Ghazali justru membuktikan sebaliknya. Ia tidak pernah membunuh ilmu apalagi rasionalitas demi membela agama, al-Ghazali justru berucap “semua ilmu rasional adalah religius dan semua ilmu agama adalah rasional”. Nah lo, beliau malah berpikir integratif. Cara berpikir yang sekarang mati-matian harus kita bangun kembali setelah habis dilibas sekulerisme Barat yang membagi semua hal menjadi akal vs agama.

Baca juga:  Respon Islam Terhadap Wacana Gender : Perbedaan Sebagai Keserasian

Tuduhan ini semakin tidak lucu ketika kita sadar bahwa sains di dunia Islam tidak terpengaruh oleh Tahafut dan terus berkembang hingga abad 15, 400 tahun setelah al-Ghazali meninggal. Tentang Ibnu Rusyd, sebagian peneliti menyebutkan bahwa ia telah salah paham terhadap al-Ghazali. Bila memakai al-Syatibi menjadi ukuran, seharusnya mereka sadar bahwa teori Maqashid-nya Syatibi juga terpengaruh pemikiran al-Ghazali yang telah lebih dulu menyebut-nyebut soal maqashid di dalam karya ushul fikihnya.

Imam al-Ghazali memang sosok yang fenomenal. Sudah banyak orang yang berkomentar tentang beliau. Sebagian positif, ada pula yang negatif. Sampai-sampai Yusuf a-Qaradhawi menulis buku berjudul “al-Imam Ghazali bayna madihi wa-naqidhi”, Imam al-Ghazali di antara para pemuji dan pengkritik. Al-Qaradhawi memang terkenal suka berada di tengah-tengah pertikaian pemikiran, sikapnya terhadap al-Ghazali pun sama. Sang Hujjah memang memiliki kekurangan sebab beliau hanya ulama bukan Nabi nan maksum. Tapi di atas semua itu beliau berkontribusi luar biasa bagi peradaban Islam. Beliau pantas mendapatkan keadilan dan adab dari kita sebagai generasi setelahnya.

Salah satu bentuk adab adalah hati-hati sebelum berbicara atas nama beliau. Dari semua tuduhan aneh terhadap al-Ghazali yang saya koleksi di tulisan ini, ada satu ciri yang sama ; mereka semua berbicara tentang Imam al-Ghazali dengan sembrono, tidak teliti, tidak hati-hati. Mereka melalukannya kadang untuk mencatutu nama sang Imam demi kepentingannya sendiri. Hal ini juga salah satu bukti keagungan beliau, namanya cukup menjadi jaminan sehingga banyak orang nekat membajaknya.

Memang kita harus hati-hati ketika berbicara soal Imam al-Ghazali, apalagi saat ini. Ya, apalagi saat ini. Beberapa waktu yang lalu teman saya tiba-tiba berkata bahwa al-Ghazali ternyata jago DJ dan disukai gadis-gadis cantik. Awalnya saya kaget juga, ah masa sih? Tapi beberapa bengong kemudian tawa saya meledak. Bah! Kalau al-Ghazali yang itu sih, saya juga tahu. Jangankan main DJ, dia konon pernah berkumpul bersama Abdul Qadir Jaelani serta Jalaluddin el-Rumi lalu membuat sebuah kredo sufistik “aku bukanlah superman, aku juga bisa nangis bila kekasih hatiku pergi meninggalkan aku….” al-Ghazali yang itu juga dirumorkan suka makan mie goreng, menurut iklan yang saban hari saya nonton di televisi dapur UNIDA Gontor.

Baca juga:  Kritik Ibnu Rusyd Terhadap Ibnu Sina dan al-Ghazali

 

indomi kesukaan al-Ghazali ternyata terlarang di Taiwan
tapi disukai di Afrika..

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: