Santri Cendekia

Al-Hikam: Potret Dunia Irfani?

Prolog

Jumat sore itu, rumah Habib Aqil ramai pengunjung. Di rumah yang terletak di tengah perumahan para tetamu datang memenuhi ruang tamu hingga teras rumah. Menjelang jam 16.00 para pengunjung sudah hampir penuh. Banyak yang membawa buku tulis untuk mencatat.

Habib Aqil keluar dengan membawa kita yang biasa ia baca setiap Jumat, al-Hikam dengan syarahnya. Pengajian al-Hikam di rumah Habib Aqil dimulai tepat jam 16.00 dan berakhir jam 17.00.

Metodenya sederhana saja. Satu hikmah dibaca teks Arabnya lambat-lambat dua kali dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dua kali. Lalu penjelasan yang berisi penjelasan kata penting, ayat atau hadis dan terakhir kisah-kisah sufistik. Meski sederhana, entah mengapa terasa dalam dan mengena.

Setelah pengajian al-Hikam selesai, keluarlah sajian kue dan teh dalam teko Arab dengan gelas kecil-kecil. Bagi jamaah, itu sudah lebih dari cukup setelah mendengarkan kajian hikmah yang seolah membawa peserta ke dimensi lain kemanusiaan.

Itulah potret pengajian karya al-Hikam di Indonesia. Kitab al-Hikam favorit menjadi kajian oleh mereka yang ingin mendapatkan percikan spiritualisme. Popularitas al-Hikam ini tercermin dalam film “Ketika Cinta Bertasbih.” Azzam, lulusan Mesir, membaca al-Hikam di masjid dan mampu menarik minat audiens.

Tentang Pengarang dan Penulisnya

al-Hikam adalah kitab keruhanian yang paling populer di Indonesia yang ditulis ulama dari Mesir, Ibnu Athaillah al-Iskandari atau al-Sakandari. Namamya mengacu pada tempat lahir Ibnu Athaillah di Iskandariyah Mesir, meski ia meninggal di Kairo tahun 709 H/ 1309 M.

Ia digelari Taj al-Din, mahkota agama, gelar yang kemudian dipakai oleh Taj al-Din al-Subki, penulis Jam’ al-Jawami yang masyhur. Hubungan itu bisa dipahami karena al-Hikam sendiri menurut satu informasi didektekan kepada Taqiyuddin al-Subki, ayah dari Taj al-Din al Subki.

Di Indonesia, selain al-Hikam karya Ibnu Athaillah yang cukup banyak beredar adalah Lathaif al-Minan, karya hagiografi gurunya Abul Abbas al-Mursi dan kakek gurunya Abul Hasan al-Syadzili.

al-Hikam ditulis dengan bahasa ringkas dan padat, semacam kaidah. Isinya ada 264 hikmah, meski ada terbitan yang menomori hingga 265. Ada berbagai versi terjemahan al-Hikam dalam bahasa Indonesia, baik yang lengkap maupun tidak. Demikian pula ada berbagai karya penjelasan (syarah) atas al-Hikam, baik dari ulama klasik maupun ulama kontemporer.

Baca juga:  Membumikan Jus in Bello Islam

Di antara syarah al-Hikam yang cukup dikenal adalah Iqadz al-Himam karya Ibnu Ajibah al-Hasani, Syarah al-Hikam karya Syaikh Zaruq, Syarah al-Hikam karya Ibnu Abbad, dan Syarah al-Hikam karya Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, yang cukup tebal. Dari berbagai syarah tersebut ada plus dan minus masing-masing, meski menurut penulis syarah Ibnu Ajibah sangat kuat konsep-konsep tasawufnya.

Dimensi Irfani dalam al-Hikam

Tidak mudah mengajarkan al-Hikam karena hikmah itu laksana cermin. Ia tidak cukup dipancarkan dalam nada suara, tetapi sepatutnya dicerminkan dalam aura pembacanya. Dalam satu hadis dijelaskan: “Berhati-hatilah terhadap firasat orang beriman. Ia melihat dengan cahaya Allah.”

Transmisi firasat inilah yang tidak semua pembaca al-Hikam mampu memenuhinya, meski mungkin bisa menjelaskannya. Namun transmisi gelombang spiritual itu tidak cukup dengan penjelasan secara panjang lebar.

Itulah yang disebut dimensi irfan oleh al-Jabiri. Dimensi irfan ini melibatkan dzauq atau cahaya pengetahuan yang terpantul dalam hati orang beriman sehingga mampu membedakan benar dan salah tanpa perlu mengacu kepada teks atau karya apapun.

Sepintas tampak kontradiksi. Di satu sisi, irfan itu pengalaman spiritual langsung, tetapi hikmah dalam kitab al-Hikam itu juga teks. Saat kita menghayati satu hikmah dalam al-Hikam, bukankah kita mengacu kepada teks?

Tetapi patut diingat bahwa untuk sampai pada kesadaran tentang Tuhan kita selalu memakai batu lompatan. Dalam al-Quran kita diajakan untuk mencari washilah (Lihat surat al-Maidah ayat 35). Washilah itu artinya qurbah atau sarana untuk mendekatkan.

Seluruh amal ibadah pada dasarnya washilah untuk mencapai ridla Allah. Ibadah bukan tujuan dan tidak boleh menjadi menjadi tempat bergantung karena amal ibadah itu juga makhluk, bukan Tuhan. Dalam surat al-Ikhlas ayat 2 ditegaskan bahwa hanya Allahlah tempat bergantung (al-Shamad).

Bermula dan Berakhir dengan Tauhid

Dengan indahnya, Ibnu Athaillah memulai hikmah pertama dengan penjabaran tauhid tersebut.
“Di antara tanda orang bersandar kepada amalnya (bukan kepada Tuhan) adalah berkurangnya pengharapan ketika mengalami ketergelinciran (berbuat kesalahan).” Jika amal ibadah menjadikan kita aman dari neraka dan kesalahan membuat kita merasa putus asa atas surga, bukankah kita masih bergantung kepada amal atau perbuatan kita sendiri, bukan kepada Tuhan?

Baca juga:  Problem Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Tentu saja penghayatan demikian sudah beyond atau melampaui kesadaran untuk sekedar beramal, tetapi juga kesadaran tentang apa amal dan untuk apa.

Kesadaran tauhid ini punya dua cabang. Pertama cabang ke dalam kesadaran ruhani kita sebagai makhluk yang bergantung kepada Sang Pencipta. Cabang kedua adalah pantulan kesadaran itu kepada dimensi kemanusiaan.

Dimensi irfani menekankan kesadaran akan kesadaran transendental (kesadaran ke alam di luar makhluk) meski sarana untuk mencapainya adalah makhluk karena kita diberi modal oleh Tuhan untuk mencapai-Nya dengan jiwa dan harta.

Mengkaji al-Hikam sering mengingatkan kita sendiri betapa masih jauhnya kita dari derajat ideal hamba di hadapan Tuhannya. Betapa sulit untuk bertauhid dengan tegak di atas keyakinan laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali atas kekuatan Allah).

Sebagai hamba, rasanya kita pun tidak tahu apakah amal kita mengantarkan kepada ridla-Nya atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah kekuatan yang diberikan oleh Allah itu menjadi hak kita untuk merasa memilikinya atau tidak. Sebagai makhluk, layakkah kita bersandar pada diri sendiri dan merasa perbuatan kita adalah jalan keselamatan padahal kita dan perbuatan kita hanyalah makhluk semata.

Pada tahap ini, al-Hikam menjadi renungan yang sangat mendalam dan kadang sulit digapai. Bagi rerata orang, kesediaan berislam dan menjalankan tuntutan agama sudah satu langkah baik. Tetapi bagi hamba yang selalu mengharapkan ridla-Nya, Islam secara amali itu masih belum sepenuhnya mewujudkan tauhid.

Lobang di Jalan Hikmah

Pada tahap ini, Ibnu Ajibah membagi amal menjadi tiga kategori. Pertama amal syariat yang disebut juga amal syariat, amal Islam, amal ibadah atau amal pemula. Kedua amal thariqah yang disebut juga amal iman, amal ubudiyah, atau amal orang pertengahan. Ketiga adalah amal hakikat yang disebut juga amal hakikat, amal ihsan, amal abudah, atau amal orang pamungkas.

Baca juga:  KH. Azhar Basyir dan Koleksi Bukunya

Pembagian demikian familier sebagaimana pembagian al-Ghazali terhadap tingkatan orang menjadi tingkat awam, tingkat khawash, atau tingkat khawashul khawash. Masing-masing punya ciri dan orientasi keruhanian berbeda.

Nah untuk siapakah hikmah dalam al-Hikam ditujukan? Sebagai bentuk penghayatan ruhani tentu al-Hikam mencerminkan renungan penulisnya. Pada dasarnya membagi tingkat orang bagi yang menempuh jalan keruhanian itu beresiko. Jika orang menganggap dirinya luhur dan lebih tinggi derajatnya itu adalah perwujudan nafsu kesombongan.

Tetapi bagi orang yang ingin meningkatkan derajat iman dan tauhidnya maka ia harus memelihara agar kondisi batinnya tidak turun derajat. Maka ada maqam dan hal yang harus diperhatikan. Tetapi jika tidak waspada, keinginan untuk mencapai derajat tertent bisa menjerumuskan pada persandaran terhadap amal sendiri atau menjadikan capaian ruhani sebagai tujuan, bukan sarana.

Hamka dalam Tasawuf Modern-nya mengingatkan bahwa memasuki jalan tasawuf itu seperti menyeberangi lautan penuh gelombang di malam gelap. Mungkin ada yang bisa melintas, tetapi butuh pemandu yang baik dan tahu medan.

Bagi kita, hikmah-hikmah dalam al-Hikam tetaplah satu inspirasi yang berharga yang bisa mendorong upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Namun prinsipnya semua dilakukan dengan ikhlas dan tidak berpretensi untuk mencapai derajat tertentu atau makrifat karena pretensi demikan adalah nafsu tersembunyi.

Cukuplah kita beramal dengan tuntutan yang benar berdasarkan sumber yang jelas. Kita niati ibadah untuk mencapai ridlo-Nya. Biarlah Allah yang menilai amal ibadah kita. Menghitung-hitung amal sendiri bisa dilakukan sebagai bentuk ingat akan perbekalan untuk kehidupan selanjutnya.

Ahwan Fanani

Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: