Santri Cendekia

Al-Wala’ wal-Bara’ (Al-Mujadalah : 22 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Meraka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (Al-Mujadalah:22)

Ini adalah ayat tentang Al-Wala’(loyalitas/ keberpihakan) wal Bara’(keberlepasan diri). Ayat yang menjelaskan secara gamblang bahwa tidak mungkin orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir , bisa berakrab-akrab dan bermesra-mesra terhadap orang-orang yang telah nyata kebencian dan permusuhannya terhadap islam. Ayat ini salah satu hujjah yang menelanjangi kemunafikan orang-orang yang munafik. Jangan bilang cinta kepada Allah, jika ternyata kau bisa berkasih-kasih dengan orang-orang yang habis hari dan hidupnya untuk memerangi Allah, Rasul, dan agama-Nya. Cintamu palsu, imanmu palsu.

Allah menyangkut pautkan keimanan di hari akhir terhadap kejadian di atas untuk mengingatkan kepada kita, ketika di hari akhir nanti, yang akan dihisab bukan hanya amalan-amalan fisik kita, tapi isi hati kita akan dibongkar dan dilihat kemana kita ber-wala’ selama kita hidup. Mungkin saja seumur hidup kita berhasil mengelabui orang-orang beriman dan menyembunyikan kemunafikan kita secara sempurna. Namun sayang seribu sayang, Allah Sang Raja di Hari Akhir, akan mengungkap semua yang kita sembunyikan.

Baca juga:  Tadabbur Asmaul Husna (Al-Basith & Al-Qabidh)

Menurud Sa’id ibnu Abdul ‘Aziz dan ulama-ulama lainnya telah mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah yang membunuh ayahnya sendiri pada perang badar, Abu bakar yang berhadap-hadapan dan hampir membunuh anaknya sendiri, Abdurrahman bin Abi Bakar, Mush’ab bin Umair yang membunuh saudara kandungnya Ubaid bin Umair, dan sahabat-sahabat lainnya yang membunuh saudara atau keluarganya sendiri di dalam perang[1]. Di dalam, sikap wala’ dan bara’ yang tumbuh dari iman yang kokoh, bahkan melampaui ikatan-ikatan yang terbentuk dari hubungan darah dan kekerabatan.

Apapun instruksi yang ada di dalam Al-Qur’an itu bersifat Haq. Maka ketika kita melihat fenomena dalam Al-Qur’an seperti putusnya hubungan darah atas nama aqidah, jangan sampai kita ragu dan gagal mengambil hikmah yang ada pada fenomena tersebut. Dalam memandang fenomena ini, tentu sangat mungkin bisa terambil 2 kesimpulan;

  1. Kesimpulan pertama, ketika Allah sudah menetapkan iman di hati seorang hamba, maka hatinya akan kokoh dan mampu mengalahkan sisi-sisi manusiawi dan mengangkatnya ke derajat yang jauh lebih tinggi. Keluarga? Siapa yang tidak sayang keluarga? Siapa yang tega memerangi hingga membunuh keluarga dan darah daging sendiri? Tidak ada, kecuali atas nama aqidah dan bagi mereka yang Allah kristalkan tauhid di dalam hatinya.
  2. Kesimpulan kedua, mirip kesimpulan yang diambil Umar bin Khattab ketika akan membunuh Rasulullah. Islam hadir memecah belah umat, memutus hubungan kekeluargaan dan kekerabatan. Tapi ingat, itu kesimpulan yang diambil Umar ketika beliau masih musyrik dan dalam keadaan jahiliyyah. Jadi mohon maaf, jika ada yang berpikir seperti ini, mungkin masih ada kejahiliyyahan di dalam dirinya.

Duhai muslimin, jikalau bahkan keimanan bahkan harus mengorbankan loyalitas kita terhadap keluarga sedarah (yang menentang Allah dan Rasul-Nya), ikatan tertinggi setelah aqidah, apatah lagi loyalitas terhadap pihak-pihak yang memiliki ikatan lebih lemah dengan kita? Jangan sampai kita rusak status aqidah kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla hanya demi segenggam receh, sebuah posisi, atau secuil kepentingan politik.

Baca juga:  Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir'aun

Kembali lagi ke kondisi terkini di ibu pertiwi, bahwa huru-hara yang sekarang sedang terjadi, hanyalah kehendak Allah untuk mengungkap siapa-siapa muslimin yang begitu berwala’ kepada Allah dan Rasul-Nya dan siapa siapa muslimin yang berwala’ kepada orang-orang yang jelas permusuhannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang,

Meraka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya”.

Allahu a’lam bishshawab

 

[1] Tafsir Ibnu Katsir

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: