Santri Cendekia

Ali Ash-Shobuni dan Miskonsepsi atas Janji Allah dalam Pernikahan!

Hitungannya ini terlambat dalam menyoroti fenomena kajian pra-nikah yang menjamur di kawula muda, sepertinya terhitung sudah sejak 3 tahun terakhir ini. Ada rasa risih sampai berfikir “kalau ditanggapi malah makin go viral saja ini subkultur, maleslah aku!”. Sampai akhirnya kitab tafsir Rawai’ul Bayan karya Ali Ash-Shobuni berhasil menggelitik saya untuk menggerakkan jemari menulis sekelumit tentang kajian pra nikah.

Semua hal kini menjadi market-able. Bahkan pemuda-pemudi lajang yang kerjaannya melamun tapi alibinya memikirkan masa depan saja kini adalah sumber pundi bagi Kajian Pra-nikah Foundation! Ngaku atau tidak memang itu yang tengah terjadi. Dan parahnya pemuda-pemudi hijrah selalu saja dikaitkan dengan kajian pra-nikah ini. Awalnya saya kurang percaya dengan keterkaitan sima’iy, tapi beberapa kali saya coba ikuti arus deras pemuda pemudi hijrah di kajian-kajian ustadz viral dan hasilnya cukup mencengangkan.

Selalu saja di tiap akhir sesi acara, ada doa yang dipanjatkan lama penuh hikmad oleh para ustadz yakni doa Rabbana hablanaa min azwaajina…. Mulanya saya fikir, ah.. ini hanya membumikan sunnah, tapi kok isak tangis pemudi di sebelah saya makin hebat kala mendengar lantunan doa perjodohan ini dan ini bukan hanya sekali tapi tiap kali!

Apa iya sebuah tujuan akhir dari kehidupan ini adalah pernikahan? Apa iya menikah adalah solusi dari semua kegalauan anak muda? Berkecamuk pikiran-pikiran itu dalam benak saya, meski tidak sepenuhnya saya mikir tapi cukup kepikiran juga.

Ternyata itu belum usai, suatu kali saya menghadiri sebuah perhelatan besar festival muslim di sebuah kota yang isinya adalah serangkaian kajian dengan narasumber ustadz-ustadz Kondyang. Ada satu bait perkataan al-Ustadz yang membuat saya tersentak karena tanpa sengaja saya melihat dampak perkataan tersebut ke arah ikhwan-ikwan yang sedang tersenyum tipis-tipis dan kebetulan tertangkap oleh layar kamera, begini kiranya narasi si Ustadz “Yang ikhwan……..! jangan takut ibadah! Menikahlah! Jangan pikirkan macam-macam yang padahal Allah sudah pikirkan semua itu! Jangan takut masalah finansial! Allah janji akan kayakan! Ada disini yang menikah tapi tambah sengsara?? Nggak ada mas! Semuanya bahagia! Asal dijalani berdua pasti penuh berkah!!”. Maaf kalau semua kalimat diakhiri tanda pentung! Biar kalian bisa membayangkan betapa ngegasnya si Ustadz saat itu.

Oh jadi ini to, motivasi membara para jomblowanun dan jomblowanat untuk berbondong-bondong ijab qobul. Malah lucunya, ada beberapa website Tanya jawab Islam yang jelas mengatakan “jika ingin kaya maka menikahlah!” bahagia betul semua-mua yang terkandung dalam bahtera pernikahan jika begitu.

Baca juga:  Perlukah Kami Serentak Memblokir Instagram?!

Sejujurnya, narasi-narasi di atas ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya dan tidak mutlak. Sebuah kebenaran bahwa pernikahan menjadi life cycle seseorang yang kemudian mengharuskan terjadi banyak perubahan drastis nan challenging, sehingga kemudian sering dimaknai dengan hal-hal baru dan menarik.  Dihadapkan oleh itu, ada hal yang kurang dari konsepsi pernikahan dari  suguhan para “foundation” tersebut yakni lika liku alias sisi kelam pernikahan, karena tidak selamanya pernikahan itu bahagia.

Sebuah ironi ketika kajian pra-nikah digembar-gemborkan sana-sini tapi data statistik perceraian menunjukkan berbanding lurus mengalami peningkatan signifikan di sana-sini pula, coba deh cek di pengadilan agama kotamu, 100% pasti seperti itu! Apalagi jika ditinjau dari segi penyebabnya, faktor finansial menduduki puncak klasemen dari keseluruhan. Padahal, sekilas Allah sudah berjanji di QS. An-Nur ayat 32:

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Ali Ash-Shabuni dengan apik menafsirkan ayat di atas melalui gaya bahasa kekinian sembari merespon realita yang ada dari sudut pandang yang beragam. Bahkan, kitab tafsir Rawai’ul Bayannya yang terkenal dengan tafsir ayat ahkam juga digolongkan sebagai tafsir muqarrin karena kayanya wawasan Ash-Shabuni dalam menyajikan berbagai pendapat yang ada dan mentarjih satu di antaranya. Apalagi kita tahu, bahwa masa beliau menulis tafsir ini tidak terpaut jauh dengan kehidupan millennial kita saat ini sehingga banyak keselarasan permasalahan yang dulu pernah terjadi dan terekam oleh Ash-Shabuni.

Kata Ash-Shabuni janji Allah pada lafal يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ dilandasi oleh fondasi masyiah/ kehendak Allah, bisa jadi Allah berkehendak dan bisa jadi tidak. Karena pemahaman ini masih berkait dengan firman Allah pada QS. At-Taubah: 28 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

            Lagi, selain itu Allah juga menutup QS. An-Nur: 32 dengan kata penutupan yang filosofis, yakni وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ dan bukannya malah وَاسِعٌ كَرِيْمٌ. Ada alasan yang diterka oleh ash-Shabuni dibalik penukilan kata tersebut, Allah sengaja mengedepankan ke Maha Mengetahui-Nya dibanding ke Maha Mulia-Nya. Allah adalah Dzat yang mengerti mutlak kemaslahatan yang ada pada diri hambanya maka dengannya Allah bisa saja meluaskan rizki seorang hamba dan memampukan hamba untuk mendapatkannya namun dengan didasari oleh hikmah serta kemaslahatan yang ada.

Baca juga:  HIV/AIDS, Homoseksualitas dan HAM

Setelah menyampaikan itu, sayangnya Ash-Shabuni justru menukil sebuah hadis dhaif di kalangan ahli hadis, yakni yang berbunyi:

إن من عبادي من لا يصلح إيمانه إلا الغنى ولو أفقرته لأفسده ذلك وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا الفقر وإن بسطت له أفسده ذلك وإن من عبادي من لا يصلح إيمانه إلا الصحة ولو أسقمته لأفسده ذلك وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا السقم ولو أصححته لأفسده ذلك

Sengguhnya diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik keimanannya kecuali dengan kekayaan, jika sekiranya Aku (Allah) buat dia faqir, maka kefaqiran akan membuatnya rusak (kufur). Dan diantara hamba-Ku yang beriman ada orang yang tidak akan baik imannya kecuali dengan kemiskinan, kalau sekiranya Aku jadikan dia bergelimang harta, maka hartanya justru akan membinasakannya, dan diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik keimanannya kecuali dengan kesehatan, kalau sekiraanya Aku buat dia sakit, maka penyakit itu akan membuatnya rusak, dan diantara hamba-Ku ada orang yang tidak akan baik imannya kecuali dengan suatu penyakit yang di deritanya, kalau sekiranya Aku sembuhkan dia, maka kesembuhan akan membuatnya binasa (rusak)

Meski banyak cacatnya di tiap tingkatan rawi, Ash-Shabuni mungkin menilai kevaliditasan kehujjahan hadis itu terkuatkan oleh banyak redaksi hadis lain yang semakna dan dapat dijadikan pendukung dari hadits yang sudah ada. Terlepas dari kehujjahan hadis di atas, terdapat basic nalar yang melatar belakangi lahirnya pemikiran ash-Shabuni. Saat itu, banyak orang yang menghindari pernikahan karena ketakutan mereka akan kemiskinan yang disebabkan oleh kelahiran anak cucu mereka nantinya, di mana akan semakin banyak dana yang digelontorkan untuk menghidupi masing-masing dari mereka. Sebaliknya, apabila seseorang tidak memiliki keluarga justru akan memiliki kelimpahan harta. Asumsi ini jelas harus dimusnahkan, Allah tentu akan mengayakan siapa saja dari hamba-Nya tanpa didasari banyak atau sedikitnya keturunan dari hamba-Nya tersebut.

Baca juga:  Mengomentari Tesis KH. Imam Jazuli Tentang Muhammadiyah

Statement itu sekaligus menjawab pertanyaan semacam “Kami sudah nikah tapi kok tidak-kaya-kaya?” jelas saja, bukan otoritas kita untuk bisa menilai seenak bodong tentang keputusan Allah. Dia jelas mengerti yang terbaik untuk dititipkan ke rumah tangga mana sebuah amanah kekayaan ini. Meski begitu tidak sedikit, mufassir lain yang memaknai kekayaan di sini dengan majazi dan atau makna kontekstual lainnya.

Tidak perlu berpanjang lebar mengenai bahasan kaya-miskin ini, karena memang ada banyak hal tentang pernikahan yang mesti dikupas habis sebelum mengambil keputusan sakral tersebut. Pernikahan tidak hanya mengenai ikatan biologis namun juga ikatan sosiologis, pendekatan cara pandang antara kedua belah pihak justru merupakan titik krusialnya tapi lagi-lagi tidak pernah terbahas. Seharusnya dengan menikah sepasang suami istri dapat tumbuh bersama bukan mematikan tumbuh kembang salah satunya. Bahasan ini tidak selalu women sentris kok, lelaki pun mengalaminya tapi perempuan terlanjur egois dan mengabaikan segala hal kecuali dirinya.

Menjadi terobosan jenius apabila para “foundation” itu berani menghadirkan dua sisi berbeda dalam pernikahan, yang gagal dan yang langgeng. Penting adanya edukasi dari kenyataan pahit, dengan begitu orang tidak asal menikah hanya karena alasan bosan sendiri, itu sungguh konyol. Apalagi acara-acara pranikah dihadirkan dengan konsep pernikahan yang sesungguhnya, digelar mewah dalam ballroom hotel berbintang, sang pengisi acara di arak layaknya pengantin sungguhan, siapa yang tidak ingin?! Para audiens menjadi lupa bahwa pernikahan bukan hanya berlangsung di pelataran dan kursi pengantin tapi selamanya!

Maaf, ada banyak hal yang tidak bisa saya ulas dalam tulisan kali ini, karena spectrum pernikahan yang begitu meluas, satu sesi artikel santri cendekia sepertinya tidak mampu membahas semua uneg-uneg dalam dada. Sedikit trigger, jangan juga berhijrah, tujuannya untuk mendapatkan jodoh terbaik! Kamu baik bukan untuk suamimu tapi itu kewajibanmu sebagai seorang hamba Allah yang telah beri kamu semua karunia dalam hidup!

Jangan melucu menyamakan jodoh sebagai tujuan muhasabah diri layaknya orang-orang jahiliyyah menyejajarkan jimat-jimat sebagai perwakilan Allah di muka bumi. Terakhir, saya tetap ingin menikah jangan salah sangka. :p

Aabidah Ummu Aziizah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan FAI UMY

5 comments

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: