Santri Cendekia

Allah Al Hafîzh dan Kebatilan Paham Mekanisme Alam dan Deisme.

Salah satu sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang disebutkan di dalam kitab Al-Asma Al-Husna karangan Prof. Dr Sulayman Al-Asyqar adalah sifat Al Hafîzh. Al Hafîzh diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia dengan arti Yang Maha Memelihara.

Mengutip pendapat dalam kitab Mausu’ah wa Lahu Al-Asma Al-Husna, Al-Hafîzh kata dasarnya adalah Al-Hifz, yang berarti menjaga segala sesuatu agar tidak berubah. Kata dasar dari Al-Hafîzh dam semua derivasinya, menunjuk kepada makna memelihara dan menjaga. Al-Hafîzh adalah bentuk mubalaghah (superlative) dari kata Al-Hâfizh.

Ibnu Manzhur mengatakan, “Al Hafîzh termasuk sifat Allah. Tak satu partikel atom pun terlepas dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya. Allah telah memelihara makhluk dan hamba-Nya atas apa yang mereka lakukan, burukkah atau baik. Dan Dia juga memelihara langit dan bumi dengan kuasa-Nya, “Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi Maha Besar” (Al-Baqarah 255).

Atau menurut Az-Zujjaj, menafsirkan surat Al Anbiya : 32 “Kami menjadikan langit dan bumi sebagai atap yang terpelihara” dengan penafsiran bahwa Allah lah yang menjaga atap langit itu sehingga tidak jatuh ke bumi-kecuali atas izin-Nya.

Menurut Khatabi, “Al-Hafîzh seperti Al-Qadir dan Al-‘Alim. Allah menjaga langit dan bumi beserta isinya agar bertahan hingga waktu yang ditentukan, tidak rusak dan tidak hancur.

Semua pendapat ini dihadirkan oleh Dr Sulayman Al Asyqar di dalam kitab Al Asma Al Husnanya.

Dari semua pendapat di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa sifat Al Hafîzh merupakan sebuah sifat yang menggambarkan pemeliharaan Allah terhadap semua ciptaan-Nya secara berkesinambungan/ terus menerus/ sustain.

Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agar langit tidak runtuh, menjaga planet tidak bertabrakan, menjaga agar matahari tetap berpijar dengan suhu yang stabil, atmosfer berada diam di tempatnya, dan berbagai hal yang selama ini sering kita sebut sebagai ‘hukum Alam’.

Baca juga:  Tadabbur Asmaul Husna : Al-Lathif (Yang Maha Halus)

Campur tangan, intevensi, penjagaan, serta pemeliharaan Allah terhadap jalannya alam semesta ini ada di setiap satuan waktu yang paling kecil sekalipun (dimensi waktu manusia). Bahkan eksistensi alam semesta pun keberadaannya akan kembali kepada ketiadaan jika bukan karena penjagaan Allah Al-Hafîzh. Allah yang menjaga dan memelihara berbagai bentuk, ciri, dan karakter realitas sebagaimana yang kita kenali saat ini

Jika menurut Ibnu Sina, Allah itu adalah ‘illatul wujud (sebab keberadaan) sekaligus ‘illatuts tsubut (sebab tetapnya keberadaan) segala sesuatu. Peran Allah ‘Azza wa Jalla bukan hanya menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, namun juga membuat eksistensi dari ciptaan-Nya tersebut tetap wujud sampai waktu Yang Allah kehendaki.

Konsep penjagaan dan pemeliharaan Allah terhadap alam semesta tentu bertentangan dengan paham mekanisme alam. Sebuah paham yang melihat dunia ini sebagai mesin ciptaan yang independen dari penciptanya. Paham yang datang semenjak kehadiran Copernicus hingga Newton.

Mereka mengandaikan perbuatan penciptaan Tuhan seperti perbuatan ‘penciptaan’ mesin oleh manusia. Setelah mesin dibuat, ditanam program dengan algoritma sedemikian rupa, maka ia akan beroperasi sendiri secara Semi independen dari pembuatnya. Meski pembuat dianggap tetap memiliki andil untuk sesekali mengintervensi mesin tersebut, minimal menekan tombol on dan off.

Begitu kaum mekanisme alam memandang Kuasa Tuhan dan ‘hukum alam’, hubungan yang terjadi adalah semi independen.

Setali tiga uang, paham Deisme menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu Sebab Pertama yang tidak bersebab, yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, tetapi kemudian tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya.

Pada dasarnya paham deisme dan mekanisme alam gagal melihat hubungan yang komprehensif antara Kuasa Tuhan dan ‘hukum alam’. Mereka merugi karena tak mampu memaknai setiap realitas yang kita rasakan sebagai interaksi sepanjang waktu antara jiwa jiwa manusia yang fana dengan kehadiran dan perbuatan Tuhan yang Mutlak, Kekal, dan Hakiki.

Baca juga:  Trilogi Tarbiyah Rasulullah (Al-jumu'ah : 2)

Dengan memahami dan mentadabburi sifat Allah Al Hafîzh, sudah semestinya kita dan terselamatkan dari paham mekanisme alam dan deisme yang begitu naif dan menyesatkan ini.

Bahwa di setiap gravitasi yang kita rasakan, oksigen yang kita hirup, panas api yang kita rasakan, rindu dan rasa sayang yang datang dan pergi di dalam hati, itu semua merupakan campur tangan dan bukti nyata kehadiran dan intervensi Allah dalam setiap denyut kehidupan alam semesta ini.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla berikan taufiq dan hidayah kita untuk makin mengenal Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, agar kita lebih memaknai kehadiran kita di dalam alam semesta yang besar dan rumit namun indah ini.

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: