Santri Cendekia

Antara Lagu yang Viral dan Sosok Sayyidah ‘Aisyah

Dari Viral  Kita Belajar

Empat hari yang lalu, timeline facebook dan story WA mulai ramai oleh perbicangan lagu ‘Aisyah yang viral itu. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Meski begitu, entah mengapa saya baru tertarik membuka lagunya sehari kemudian, setelah timeline makin penuh sesak oleh perkara yang dimaksud.

Jauh dari asumsi awal saya, ternyata lagu ini berbahasa Indonesia dengan genre pop pula. Mulanya saya kira semacam Lantunan Qashidah Abi ‘Umran Musa Ibn Muhammad ‘Abdullah  Al Wa’iz Al Andalusy yang berjudul Manaqib Ummul Mu’minin, suatu karya sastra yang mendeskripsikan histori dan legasi ummul mu’minin dalam 8 bait yang padat informasi dan makna. Karya ini dikutip oleh Muhammad Ibn Nasr Al Shanqary dalam karyanya Ummuna ‘Aisyah.

Selepas lamat-lamat saya dengar lirik Lagu ‘Aisyah, entah mengapa ada rasa yang mengganjal. Lagu yang bergaya pop serta menunjukkan ke-mellow-an ini, menampilkan deskripsi parsial terhadap Bunda ‘Aisyah R.A. Bumbu cinta anak muda zaman sekarangnya begitu kentara. Dari perspektif bisnis, tentu menggiurkan mengelola romansa anak muda lewat sosok terkemuka.

Namun dari perspektif ilmu, lagu ini mengaburkan kalau tidak mengkooptasi sosok Bunda ‘Aisyah R.A. Apalagi di zaman kiwari yang rendah literasinya ini. Bagaimanapun juga tetap dapat dimaklumi, bila semata-mata lagu hadir sebab kekurangan literasi dan referensi.

Literasi Kita

Dilansir oleh Central Connecticut State Univesity, Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara dengan indeks hanya 0,001% dalam penelitian yang bertajuk Most Littered Nation In the World. Artinya, dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca. Produktifitas karya literasi juga tidak jauh berbeda. Indonesia rata-rata hanya mampu menghasilkan 18 ribu judul buku pertahun. Jepang yang lebih sedikit populasinya, termasuk kuantitas generasi mudanya, ada diangka 40 ribu judul per tahun. Singkatnya, hasil penelitian ini menunjukkan mental literasi kita bermasalah.

Bila kita renungkan, efek tidak langsung dari lemahnya literasi adalah rendahnya kemampuan memproduksi karya-karya berkualitas. Dalam kasus lagu ‘Aisyah misalnya, kita temukan parsialitas narasi yang cenderung bisa disalahartikan dan disalahtafsirkan. Utamanya generasi muda yang sedang mabuk romansa, narasi-narasi pada orang terkemuka dan mulia yang tidak tepat bisa jadi pembenaran laku tanpa adanya sikap mengambil mutiara dan hikmah secara proporsional.

Sayyidah ‘Aisyah : Istri Sekaligus Duta Islam

Tidak diragukan lagi, Sayyidah ‘Aisyah b. Abu Bakar Al Shiddiq adalah salah dua dari istri nabi yang termasyhur. Bersama Sayyidah Khadijah R.A ia mengisi daftar puncak karya para sejarawan tentang rumah tangga nabi. Penulis sendiri menemukan pelbagai karya yang membahas Sayyidah ‘Aisyah dari pelbagai aspek.

Baca juga:  "Jumat Agung": Puisi Yang Menghakimi Agama

Salah satu yang paling lengkap adalah karya Dr. ‘Abd Al Mun’im Al Hifny yang berjudul Mausu’ah Umm Al Mu’minin ‘Aisyah binti Abu Bakr (2003, Maktabah Madbouli ). Karya setebal 1356 halaman lebih ini terbagi ke dalam 15 bab yang memotret sosok Sayyidah ‘Aisyah dari sejarah hidup hingga kemampuan serta peran beliau bagi peradaban Islam. Sebagai perawi hadis terbanyak dari kalangan istri nabi dan salah satu yang terbanyak secara umum, ‘Aisyah memegang peranan penting dalam transmisi pengetahuan, baik sifatnya informasi serta amalan lisan dan perbuatan.

Salah satu dari bagian paling unik dari buku ini adalah kumpulan informasi (marwiyat) dari Sayyidah ‘Aisyah tentang Tafsir, Asbabun Nuzul, dan sejumlah hadis dari Rasulullah SAW. Selain itu karya ini juga berkisah keadaan Sayyidah ‘Aisyah pasca wafatnya nabi, dari mulai pakaiannya hingga pelbagai kisah beliau dengan para sahabat dan tabi’in dalam pelbagai peristiwa.

Kisah lain juga ditulis oleh Dr. Khalid b. Muhammad Al Hafiz Al ‘Ilmiy dengan berjudul Al Sayyidah ‘Aisyah Binti Abu Bakr Al Shiddiq Radhiya Allah ‘Anhuma (2003, Maktabah Dar Al Zaman). Karya setebal 208 halaman yang terbagi dalam enam bab ini membahas secara khusus jejak dan metode dakwah Sayyidah ‘Aisyah dalam berdakwah dan mendidik ummat.

Di antaranya: metode rasional  dalam dakwah (Al Manhaj Al Aqly fi Al Da’wah); metode kasih sayang dalam dakwah (Al Manhaj Al ‘Aathify); gaya-gaya penyampaian dakwah baik dengan hikmah nasehat, dan teladan (Asaalib Al Da’wah fi Al Hikmah wa Al Mauizah wa Al Qudwah); dan juga wasilah-wasilah dakwah beliau (Wasail Al Da’wah ). Karya ini recommended sekali untuk dipelajari oleh pergerakan dakwah perempuan secara khusus, pergerakan dakwah secara umum. Beberapa karya lain dibahas di artikel berikutnya.[]

Sayyidah ‘Aisyah dan Ilmu Pengetahuan

Terdapat karya lainnya yang juga patut untuk disimak mengenai Sayyidah ‘Aisyah. Bukan hanya soalan informasi betapa cantiknya beliau, namun sifat-sifat istimewa yang melekat padanya, seperti bagaimana ibadahnya, bagaimana perkataannya, bagaimana kesaksiannya, dan hal-hal lainya, termasuk yang paling penting: Bagaimana fiqh ibadahnya.

Syaikh Shalih Ibn Muhammad Al ‘Atha banyak membahas hal tersebut dalam karyanya Habibatul Habib: Ummu Al Mu’min Radhiya-Allahu ‘Anha (2008). Dalam karya 508 halaman ini, beliau memaparkan secara potret Sayyidah ‘Aisyah secara apik. Dibuka dengan sejarah perkembangan Sayyidah ‘Aisyah hingga dipersunting Nabi, beliau juga menginformasikan bagaimana posisi Sayyidah ‘Aisyah di mata para sahabat. ‘Aisyah sebagaimana diketahui adalah tempat bertanya para sahabat dan shahabiyah dalam urusan fikih, bahkan termasuk para sahabat kibar seperti ‘Umar Ibn Al Khattab.  Umar bahkan mengatakan:

Baca juga:  Ramadhan dan Nilai Toleransi

Sistematika Fiqh ‘Aisyah dalam pelbagai hal mulai dari bab bersuci (Thaharah), hingga Shalat, Puasa, Pernikahan, Haji, hingga ziarah kubur beliau sajikan secara sistematis. Fiqh ‘Aisyah sendiri menjadi krusial sebab ia adalah muara fiqh perempuan, sebab riwayat berbagai persoalan wanita dengan nubuwwah mayoritas bersumber dari beliau.

Selain Fiqh ‘Aisyah beliau juga memaparkan secara tematis riwayat-riwayat yang berhubungan tafsir Al Qur’an. Lebih jauh,  kajian tehadap riwayat-riwayat Al Qur’an dan Asbabun Nuzul yang bersumber dari ‘Aisyah ini adalah contoh riil bagaimana menjawab pertanyaan bagaimana perempuan memaknai Al Qur’an. Sesuatu hal yang disering diumbar oleh kalangan-kalangan yang mempertanyakan tafsir yang bias gender dan terhegemoni parthirarkisme.

Karya ini juga memuat riwayat-riwayat berkaitan dengan akhlak Sayyidah ‘Aisyah. Jamak dari kita, seringkali mendengar bahwa Sayyidah ‘Aisyah adalah pencemburu berat, bahkan lewat kecemburuannya itu pula banyak hadis terdokumentasikan, seperti hadis tentang doa dan salam kepada ahli kubur terdokumentasikan.

Namun, kita juga harusnya sadar bahwa cemburu hanyalah sekian dari pelbagai banyak informasi tentang Sayyidah ‘Aisyah. Menarik bila kita gali bagaimana Qana’ahnya, kesabarannya, keridhaannya, kerajinannya dalam beribadah, kezuhudannya, keteguhannya dalam memegang kebenaran, kasih sayangnya, tutur katanya, dan lain sebagainya.

Selain menguasai ilmu agama, Sayyidah ‘Aisyah juga terkenal menguasai ilmu pengobatan (Al Thibb), nasab, dan sastra. Hal ini juga sebagaimana ditulis oleh Syaikh Abdul Hamid Mahmud Thahmaz dalam karyanya yang berujudul Al Sayyidah ‘Aisyah Umm Al Mu’minin wa ‘Aalimah Nisaa Al Islam (1994, Dar Al Qalam).

Beliau mengutip penjelasan Imam ‘Abdil Bar dan Imam Al Dzahabi dari riwayat Urwah Ibn Zubair yang berkata,”Jika aku berpikir tentang kemampuannya (Sayyidah ‘Aisyah), aku benar-benar merasa heran dan kagum akan kelebihan (kepandaian) beliau dari orang-orang lain”. Bahkan pasca kewafatan Sayyidah ‘Aisyah, Urwah mengatakan,”Sayyidah ‘Aisyah R.A telah tiada dan ilmu-ilmu yang ada pada dirinya turut serta mengiringinya. Tiada seorangpun yang mengenal kehebatan kemampuan beliau, sehingga tidak seorangpun yang sempat menggali dan mebina ilmu darinya”. Jamak ketahui dari catatan sejarah Sayyidah ‘Aisyah seringkali ditanya soal Fiqh, bukan soal pengobatan.

Sebagai sosok otoritas ilmuwan, bukan hanya sebagai ummul mu’minin, Sayyidah ‘Aisyah dibanyak kesempatan memperlihatkan otoritasnya. Imam Badruddin Al Zarkasy, penulis magnum Opus Al Burhan Fi ‘Ulum Al Qur’an, menulis satu karya tentang koreksi-koreksi Sayyidah ‘Aisyah terhadap pendapat sahabat dalam pelbagai perkara. Kitab ini berjudul Al Ijaabah Li Iraadat Ma Istadrakathu ‘Aisyah ‘Ala Al Shahabah (1980, Al Maktabah Al Islamy).

Baca juga:  Persamaan antara Dunia Ilmu dan Dunia Bisnis

Kitab ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu (a) biografi singkat Sayyidah ‘Aisyah dan 40 keutamaanya, (b) koreksi ‘Aisyah kepada Sahabat Senior serta para istri nabi, dan (c) koreksi ‘Aisyah pada permasalahan umum yang diperbincangkan. Diantara sahabat senior yang mendapat koreksi Sayyidah ‘Aisyah antara lain Khulafa Al Rasyidun, Abdullah Ibn ‘Abbas Amr Ibn Al ‘Ash, Abdurrahman Ibn ‘Auf, dan sahabat-sahabat besar lainnya.

Beberapa Karya-Karya lainnya

Kisah ‘Aisyah selalu menarik diperbicangkan untuk diambil pelajaran dan keteladanannya. Diantara karya masyhur lainnya ialah buah tangan ulama kharismatik, Syaikh Sa’id Ramadhan Al Buthi berujudul ‘Aisyah Ummul Mu’minin: Ayyamuha wa Siiratuha Al Kamilah Shafahaat (1997, Maktabah Al Faarabi; Edisi Indonesia oleh Penerbit Qalam). Karya Syaikh Al Buthi disampaikan dengan pendekan fiqh sirah lewat bahasa yang indah dan menawan serta menghadirkan pelajaran juga hikmah dari kehidupan Sayyidah ‘Aisyah.

Di antara karya lainnya: Al Shaddiqah bint Al Shaddiq oleh ‘Abbas Mahmud Al Aqqad; Ummul Mu’minin ‘Aisyah oleh Syaikh Sayyid Sulaiman Al Nadwi (edisi Indonesia penerbit Insan Kamil), ‘Aisyah oleh Sibel Eraslan (Novel, edisi Indonesia penerbit  oleh Penerbit Kaysa Media); dan masih ada beberapa lagi.

Penutup

Pada akhirnya, kita mesti adil dan hati-hati dalam menempatkan sesuatu. Terlebih lagi menempatkan sosok yang luarbiasa seperti Sayyidah ‘Aisyah r.a. Menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi karya seni tentu sah-sah saja, namun perlu dilandasi dengan pengetahuan yang memadai agar tidak menimbulkan kontroversi.

Karya yang baik tidak hanya memperhatikan estetika, tetapi juga etika. Bila ilmu landasannya, budaya pop itu bisa jadi sarana dakwah yang luarbiasa. Sebagai pengingat ada ungkapan: “Al ‘Adl Ay Wadh’u Al Syai’ fi Mahallihi (Adil ialah menempatkan sesuatu pada tempat seharusnya)”. Begitupula menempatkan Sayyidah ‘Aisyah r.a.[]

Khairul-Amin

Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

1 comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: