Santri Cendekia
Pedagang menunggu pembeli di Pasar Tradisional Peunayung, Banda Aceh, Aceh, Kamis (26/3/2020). Kalangan pedagang di pusat perbelanjaan itu menyatakan omset penjualan mereka menurun hingga 50 persen akibat sepinya pengunjung sejak mewabahnya COVID-19. ANTARA FOTO/Ampelsa/hp.

Antara Pasar dan Kantor

Dalam sebuah hadist yang dishahihkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim).
Imam An Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslimnya menyampaikan,
لأنها محل الغش ، والخداع ، والربا ، والأيمان الكاذبة ، وإخلاف الوعد ، والإعراض عن ذكر الله ، وغير ذلك مما في معناه ، والمساجد محل نزول الرحمة ، والأسواق ضدها
“Karena pasar, umumnya dalah tempatnya orang curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. Masjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya”
Sahabat mulia Salman Al Farisi Ra juga pernah berkata,
لَا تَكُونَنَّ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ ، وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا ، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ ، وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ
“Jika kamu bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar, dan yang terakhir keluar pasar. Karena pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya. (HR. Muslim)
Ustad Budi Ashari menjelaskan dalam sebuah kajiannya, bahwa hadist hadist ini bukan dipahami agar Umat Islam menjauhi atau bahkan meninggalkan aktivitas pasar. Karena Allah ‘azza wa jalla juga menyampaikan para Nabi juga mendatangi dan juga berjalan di pasar untuk mencari Rizqi.
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ
“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. al-Furqan: 20)
Selain itu, ketika Nabi hijrah ke Madinah, salah satu strategi dakwah yang beliau lakukan di sektor pembangunan ekonomi umat Islam saat itu adalah dengan mendirikan pasar di Madinah yang biasa dikenal sebagai Suuq Al Manakhoh.
Para sahabat mulia, yang yang terkenal dengan kekayaan sekaligus kedermawanannya seperti Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhuma adalah para saudagar. Tentu saudagar pastilah beraktivitas di pasar.
Ustad Budi Ashari menyampaikan bahwa hadist hadist ini adalah merupakan peringatan bagi umat Islam, agar umat Islam yang mau beraktivitas di pasar, hendaknya menyiapkan diri dengan sebaik baiknya, baik dari segi ilmu maupun kesiapan jiwa, agar tidak terdampak potensi dan aspek aspek negatif dari lingkungan pasar.
Hal ini juga terafirmasi oleh Imam As-Suyuthi, sebagaimana dikutip Syekh Ali bin Muhammad bin ‘Illan dalam Dalilul Falihin li Thuruq Riyadhus Shalihin, hadits di atas adalah bentuk ungkapan tempat dengan disifati atas hal yang dilakukan di dalamnya (majaz washfil makan bi shifati ma yaqa’u fiihi).
Simplenya, bahwa masjid dan pasar disifatkan seperti hadist hadist di atas dikarenakan aktivitas yang umumnya orang lakukan di dalamnya. Masjid dan pasar mendapatkan predikat dicintai dan dibenci Allah bukan dikarenakan dirinya sendiri (Li dzatihi), namun dikarenakan hal diluar dirinya (Li ghoirihi).
Itu tentang pasar, lalu bagaimana dengan kantor? Atau bangunan dan tempat apapun yang di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi dan mencari penghasilan yang dilakukan oleh manusia?
Hasil pengamatan penulis secara empiris, meskipun tentu pasar tidak bisa diqiyaskan 100% dengan kantor atau tempat bekerja, tapi ada beberapa fenomena yang mirip di dua tempat ini. Sama sama tempat mencari nafqah, sama sama tempat orang bersaing untuk mendapatkan penghasilan yang lebih, sama sama tempat terjadi perputaran uang, dimana semua itu sangat berpotensi untuk memancing dan memunculkan sisi sisi buruk manusia seperti berdusta, menjilat, berkhianat, melakukan risywah (sogok), saling sikut, zalim kepada orang lain, menindas, dan berbagai potensi keburukan lainnya.
Tentu tidak dipahami bahwa bekerja di kantor adalah perbuatan yang harus ditinggalkan atau buruk secara mutlak. Karena pada dasarnya mencari nafqah adalah sebuah kemuliaan dan aktivitas berpahala, bahkan dihitung sebagai aktivitas berjihad, khususnya bagi para kepala keluarga.
Namun yang harus menjadi perhatian bersama adalah, sebagaimana kita harus menyiapkan ilmu dan jiwa yang matang ketika akan beraktivitas di pasar, begitupun kita harus menyiapkan ilmu dan jiwa yang matang ketika akan dan sedang beraktivitas di kantor dan tempat bekerja kita masing masing agar kita tidak terdampak Anasir Anasir negatif yang ada di sana.
Bahkan kantor dan tempat bekerja kita juga bisa menjadi ladang amal jika kita menjalani aktivitas di sana sambil memperbaiki hal hal yang kurang baik dan memberi keteladanan.
Syukur lagi jika kita bisa menanamkan sistem dan kebiasaan yang baik di sana yang kelak bisa menjadi amal jariyah bagi kita. Karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ
عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yang membuat sunnah (kebiasaan) hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah (kebiasaan) sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim).
Mari jadikan tempat kita bekerja sebagai ladang pahala dan pemberat timbangan kebajikan kita di Yaumil akhir kelak.
Sumber-sumber kutipan:
Baca juga:  Lembut dan Merakyat, Ciri Pemimpin Muslim Sejati

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: