Santri Cendekia

Apa setelah ini wahai sarjana psikologi?

Momen skripsi bisa beragam ditiap orang. Namun, bagi Saya ajang berskripsi adalah ajang merawat ingatan merawat cita – cita Saya yang mustahil dicapai tanpa ilmu, tanpa sekolah dan belajar lagi. Tapi yang menjadi masalah adalah mau ambil kuliah yang lebih spesifik apa yang mau diambil. Hingga saat ini Saya selalu berfikir, fokus kuliah apa selanjutnya setelah ini. Tentunya masih dalam rumah yang sama, Psikologi. Bukan hanya berfikir mana yang aku suka atau cucok, tapi mana yang lebih membawa manfaat yang lebih banyak buat sesama.

Mengingat bahwa diri ini selalu ada tanggung jawab untuk bisa melanjutkan kiprah orangtua di dunia bisnis, maka Saya seolah memiliki tanggung jawab yang lebih untuk membantu mereka padahal ya.. mereka tidak meminta Saya untuk kembali sekolah dibidang yang berhubungan dengan management-behavior in industri. Semuanya terserah, tapi entah mengapa perasaan bertanggung jawab itu hadir. Tsaah.

Nah, satu lagi, ini yang berat!. Sebagai sarjana psikologi lho yaa belum psikolog, Banyak yang konsultasi (re: curhat) yang berhubungan dengan dunia klinis, (padahal yaa Saya gak nyaman kalo belajar illness illness-an) dari mulai bagaimana menyikapi kode, menghindari fans (biasanya cowo), bersikap supaya diperjuangkan, anak tantrum, ibu hamil anak ketiga yang masih aja emosinya meledak-ledak, hingga konsultasi gimana caranya fokus belajar dll. Padahal yang ditanya tidak lebih tau dari yang menanya wkwk 😛 ( eh seriusan, ada satu terapi yang intinya klien cuma diminta nulis semua apa yang dirasain kaya buku curhat gitu, tujuan dari terapinya adalah dia aware dan tau masalah apa yang dihadapi dg harapan mengetahui sendiri jalan keluar). Saya merasa sangat perlu menambah ilmu dibidang psikologi klinis untuk menunjang banyak pertanyaan klinis tersebut.

Baca juga:  Inilah 10 Action Plans for Perfect Ramadan ala Ustadz Nouman Ali Khan

Bagaimana wahai sarjana psikologi jika kamu menghadapi hal tersebut?

Mau psikologi industri atau psikologi klinis?

Katanya sebaik – baik pelajaran adalah pengalaman dan Allah bilang murka sama orang yang ngomong sesuatu tapi ia tidak mengerjakannya. So, tulisan yang masuk kamar “Kaifa” ini adalah pengalaman pribadi Saya. Ikhlas ya bacanya wkwk. Sing penting membawa manfaat :*

Ya alhamdulillahnya galau mau belajar setelah ini gak lama – lama. Masalah kaya gini cuma Saya jabarkan menjadi 4 hal, diantaranya :

1. Range dudukan satu persatu yang menjadi kegalauan diri apa saja.
Terkadang kita pusing terhadap satu hal yang gak kita ketahui secara detail. Pusing karena gak tau harus apa dulu yang diselesaikan. Makanya perlu untuk kita tau masalah apa aja sih yang saat ini berada dalam pikiran. Cek cek lain yuk!

2. Berifikir ulang.
Setelah tau apa saja yang menjadi masalah maka berfikir ulang mana mana yang lebih utama, resikonya apa, apa yang bertambah, apa yang berkurang, apa yang memberikan manfaat.

3. Konsultasikan.
Niatkan untuk mendapatkan another perspective. Hasilnya tidak perlu mutlak gunakan pendapat orang lain tapi jadikan ia (perspektif lain) mozaik dalam solusi.

Biara soal, “mengkonsultasikan” atau “mencurhatkan” masalah ke orang lain, Saya selalu berfikir bahwa menceritakan masalah diri ke orang lain adalah perilaku yang hebat. Kenapa? Selain mencari solusi dan berbagi, kita mengampanyekan suatu hal yang terselubung yakni say “NO” to repression! (Abis ini gue dibilang anak Freud banget). Betapa banyak orang yang selalu memendam masalahnya untuk dirinya sendiri dan parahnya lagi tidak terselesaikan. Represi tidaklah menyenangkan karena bisa saja ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan objek masalah yang ditekannnya (symptoms) maka hal tersebut akan menjadi bom waktu.)

Baca juga:  Euthanasia dalam Tinjauan Etika dan Pidana

4. Curhat transendental.
Iya betul! Setelah ikhtiar telah dilakukan maka selanjutnya curhat ke Allah, berdoa mohon diberikan jalan keluar.

Well, dari 4 hal tersebut memang biasa saja, gak ada metode khusus untuk menghadapi kegalauan diantara 2 fokus ilmu mana yang mau dipelajari duluan. Disini penulis ingin mengajak pembaca untuk kembali mengenali potensi diri minimal mengetahui mana dan cara apa untuk menangani masalah diri sebelum meminta solusi ke oranglain. Karena sungguh kita dikaruniai pendengaran, penglihatan dan hati oleh Allah untuk berjuang di bumi.

Ya, Saya sudah tau jawabannya apa. Ini cuma masalah waktu saja. Masalah mana yang mau dipelajari duluan saat ini. Saya gak mau menjajargenjangkan (bosen mengkotak-kotakkan :P) tah ini masih satu rumah, psikologi.

Menyenangkan bukan, jika kita paham dunia industri dan juga mengerti gimana caranya menjadi telinga hati yang baik hatta yang dicurhatkan cuma masalah kode atau parenting. Tsaah. (apa pulak ini 😀 )

IM

Cuma Debu di Mars

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: