Santri Cendekia

Ar-rahman, yang Mengajarkan Qur’an

Betul apabila tulisan ini masih erat hubungannya dengan 2 fenomena yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Fenomena pertama adalah fenomena disebutnya Surat Al-Maidah : 51 sebagai ayat yang digunakan oleh ulama kita untuk membodohi umat. Fenomena kedua adalah fenomena yang mengatakan bahwa ulama tidak berhak menafsirkan Qur’an karena Qur’an adalah kalam Allah dan tidak mungkin bisa dipahami oleh seorang ulama yang notabenenya adalah seorang manusia. Dua fenomena semacam ini, bukan sebuah fenomena baru, karena pada dasarnya, dari jaman ke jaman, memang yang menjadi biang kerok dari dua fenomena semacam ini adalah iblis yang masuk ke pemikiran manusia-manusia yang memang jiwanya tidak suci dan masih kotor. Dan itulah pentingnya kita mempelajari sejarah, agar kita tidak gagap dalam menghadapi masa depan dan masa kini. Namun sayang, karena kita terlalu lama meninggalkan sejarah, kita mudah dibuat heboh dan panik berulang-ulang oleh fenomena-fenomena semacam di atas. Penulis bukanlah seorang ahli tafsir, penulis hanya akan menyampaikan beberapa hal yang wajib penulis sampaikan sebagai seorang hamba Allah yang begitu menghormati dan berusaha mencintai Qur’an sepenuh hati.

Rukun iman kita yang 6, itu akan saling berhubungan dan tidak dapat dipahami secara terpisah. Contoh, teori yang mengatakan bahwa Apa yang Rasulullah sampaikan, bukanlah lagi 100% murni kalam Allah karena menurut mereka yang ‘nyeleneh’, Bahasa Allah itu begitu tinggi sedangkan akan kita tidak sanggup menangkap dan menyampaikan semua pesan Allah.

  1. Dalam pembukaan surat Ar-rahman (ayat 1 & 2), Allah menyatakan bahwa Dialah Ar-rahman yang yang mengajarkan Qur’an. Lihat ayat ini, Allah gunakan fi’il Mengajarkan, bukan hanya sekedar menyampaikan atau menceritakan. Ketika Allah mengajarkan, maka yang Allah sampaikan kepada Rasulullah bukanlah hanya sekedar teksnya, tapi juga konteksnya. Sehingga tidak mungkin akan ada satu pelajaran pun yang hilang atau miss ketika Allah menyampaikan wahyu kepada Rasulullah.
  2. Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, salah satu sifat Allah adalah Al-jabbar (Allah Maha Memaksa). Kehendak dan perbuatan Allah tidak pernah bisa terhalangi oleh hukum apapun yang ada dijagat raya ini. Jika Allah bisa membuat matahari terbit dari barat di hari kiamat nanti, bahkan tidak ada satupun yang bisa melakukan ini, lalu apa sulitnya bagi Allah membuat manusia mengrti maksud dari kalam-kalam-Nya? Itulah mengapa ketika kita berteori seperti NW pada acara ILC, sesungguhnya secara tidak langsung kita sudah menistakan beberapa sifat Allah. Contoh, jika Allah menurunkan wahyu yang tidak bisa dipahami Rasul dan hamba-hambanya yang berilmu 100%, maka Itu sebuah perbuatan yang sia-sia, MAHA SUCI ALLAH dari perbuatan semacam itu. Itulah, cara kita beriman kepada Qur’an juga terpengaruh sejauh mana keimanan dan ilmu kita terhadap Allah.
  3. Malaikat jibril yang menjadi perantara untuk beberapa ayat Qur’an bukanlah makhluk yang memiliki hawa nafsu. Sehingga apa saja yang Allah sampaikan melalui jibril, maka itu 100% jibril sampakan tanpa ada opini atau perkataan tambahan dari jibril.
  4. Allah ‘azza wa jalla tidak pernah membiarkan Rasulullah berada dalam sebuah kesalahan. Senantiasa ada teguran yang turun untuk mengoreksi hal-hal yang ada pada diri Rasulullah. Misalnya kasus turunnya surat ‘abasa yang turun untuk menegur Rasulullah yang bermuka masam terhadap ummi maktum yang buta. Lalu apatah lagi soal penyampaian Qur’an, apabila Rasulullah memang pernah salah dalam menyampaikan teks/konteks dalam Qur’an walaupun sedikit, maka tidak mungkin Allah membiarkan dan pasti akan melakukan pengoreksian terhadap Rasulullah.
  5. Lalu ada lagi yang berteori, bahwa bahasa Allah adalah bahasa langit, sedangkan ketika bahasa kita adalah bahasa bumi. Nanti lama-lama ada bahasa mars, pluto, dsb. Peduli amat lah mau bahasa apapun, fakta sejarah membuktikan bahwa dialog-dialog yang terjadi antara Allah dan Nabi-Nabi-Nya tidak pernah berlangsung dengan “miskom”. Nabi Musa, kita tahu apa julukannya? KALIMULLAH, Nabi yang paling sering berdialog langsung dengan Allah. Kita tahu Nabi Musa memiliki satu kekurangan, lidah beliau yang pernah terkena bara api ketika kecil membuatnya tidak lancar dalam berbicara. Apakah itu membuatnya sulit berkomunikasi dengan Allah? Tidak sama sekali.
  6. Rasulullah yang memberikan otoritas kepada ulama untuk membimbing umat dengan menyampaikan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Maka jika Ulama tidak berhak mengajarkan Qur’an pada umat, lalu siapa lagi?

Sekali lagi, keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah akan mempengaruhi keimanan kita kepada Al-Qur’an dan Rasulullah. Jadi ketika secara tersirat kta mengungkapkan hal-hal yang menistakan atau merendahkan Qur’an, malaikat, atau Rasulullah, maka sesungguhnya kita juga sedang menistakan dan merendahkan Allah.

Pesan terakhir dari penulis, ulama adalah mereka yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Bukan sekedar orang yang hafalan kitabnya banyak, teorinya tinggi, lisannya fasih, tulisannya kritis, jabatannya tinggi, gelarnya numpuk. Hati-hati dengan fenomena ulama su’ di jaman ini, kutip kitab sana-sini, tapi ujung-ujungnya menyesatkan umat. Maka dari itu, mari dekatkan diri kita lagi dengan Allah, Al-Qur’an dan sunnah, serta majelis-majelis ilmu yang diisi oleh para ulama-ulama soleh.

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar