Santri Cendekia

Astronomi India

Peradaban (bangsa) India adalah peradaban yang memiliki sejarah dan sumbangan dalam berbagai bidang. Tercatat ada sejumlah tokoh (ulama) yang lahir, singgah, dan belajar di negeri ini.

Yang paling populer adalah ilmuwan Muslim bernama Abu Raihan al-Biruni (w. 440 H/1048 M). Dia tinggal di negeri ini selama bertahun-tahun.

Buah dari petualangannya ini adalah sebuah karya tulis sejarah sosial berjudul “Tahqiq Ma li al-Hind”, dimana dalam perkembangannya buku ini banyak dikaji dan dipelajari oleh tokoh-tokoh yang datang sesudahnya. Bahkan di era modern, buku ini banyak dikaji oleh para orientalis (Barat).

Patut dicatat, diantara sumbangan besar India bagi dunia dan khususnya peradaban Islam adalah astronomi dan sekaligus astrologi.

Dalam hal ini peradaban India punya pengaruh besar dalam astronomi Islam melalui buku Sindhind yang telah diterjemahkan ke bahasa Arab. Sindhind adalah buku astronomi berisi pengantar lengkap tentang gerak benda-benda langit selama ribuan tahun.

Dari buku ini juga diketahui bahwa bulan dan matahari dan seluruh planet pada awalnya bergabung dalam satu garis dan akan kembali dalam posisi serupa di akhir usia dunia. Buku Sindhind ini ditulis oleh seorang India yang bernama Brahmagupta.

Para astronom India kuno meyakini bumi berbentuk bulat dan terawang di alam. Mereka juga meyakini planet-planet beredar mengelilingi Bumi dalam kecepatan yang sama.

Orang-orang India juga percaya bahwa Bumi memiliki 7 lapis yang saling berhubungan dan memiliki komunitasnya masing-masing. Selain itu, India juga punya gambaran mitos menarik tentang jagad raya, mereka percaya Bumi bersangga di atas punggung beberapa ekor gajah raksasa, gajah-gajah itu berdiri di atas punggung seekor kura-kura maha besar.

Langit tidak lain adalah seekor ular kobra raksasa yang badannya melingkari Bumi, pada malam hari sisik-sisik ular itu mengkilat berkilauan sebagai bintang-bintang.

Baca juga:  Hikayat Singkat Tidur Manusia dari Masa ke Masa

Menurut al-Qifthy, teks-teks astronomi India sampai di peradaban Islam pada tahun 156 H/773 M yaitu ketika utusan dari India datang ke Bagdad dan menghadap sang khalifah dengan membawa teks astronomi berbahasa Sansekerta Siddhānta (Arab: Sindhind).

Kunjungan utusan India ini merupakan perkenalan Arab terhadap khazanah India sekaligus menandai titik balik dalam sejarah intelektual Arab.

Menurut keterangan al-Qifthy lagi, teks Sindhind secara umum berisi perhitungan gerak bintang-bintang, perhitungan gerhana, perhitungan posisi rasi-rasi bintang (mathali’ al-buruj) dan perhitungan lainnya yang seluruhnya termuat dalam beberapa bab.

Dalam bahasa Sansekerta, Siddhanta atau Sindhind bermakna pengetahuan, ilmu, dan mazhab. Sedangkan secara terminologis bermakna buku mengenai astronomi dan perhitungan gerak segenap planet-planet dan atau bintang-bintang.

Brahmasphutasiddanta adalah judul asli Sindhind dalam bahasa Sansekerta, yaitu buku astronomi versi revisi yang di nisbahkan kepada Brahma. Para penulis Arab menghilangkan beberapa kata dari judul ini dan menyisakan Siddhanta, kemudian dilakukan sedikit modifikasi dengan menambahkan kata hind (India) pada bagian akhir sehingga menjadi as-Sindhind.

Beberapa kalangan kontemporer menyebut buku ini dengan “as-Sindhind al-Kabir” untuk membedakannya dengan as-Sindhind karya al-Khawarizmi.

Aktifitas pengamatan yang tumbuh pada sistem astronomi India pada dasarnya lebih mengarah kepada perhitungan segenap benda-benda langit. Sistem ini sejatinya tidak memberi model teoretis.

Namun sistem ini tetap dalam kerangka utilitarian-praktis yang mengarah pada penggunaan astrologi guna menghasilkan lebih banyak metode maupun kerangka teori guna mengurai fenomena astronomis langit.

Dari sini dapat dikemukakan bahwa kecendrungan astronomi India, dengan corak aritmetika benda, benda langitnya telah berkembang dalam format peradaban Islam sejak permulaan kehadirannya yang betapapun tidak memberi kerangka teoretis kaidah kritik di kalangan ulama astronomi Arab, namun yang pasti ia memiliki peran besar dalam memformulasi model eksperimen-teoretis astronomi Arab.

Baca juga:  Pelopor Observatorium di Indonesia

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kegiatan observasi dan eksperimen, dalam konteks institusi astronomi Arab, berakar dari pondasi dunia timur dan ditambah dari akar eksperimental Yunani.

Penggunaan astrologi tampaknya cukup dominan memengaruhi sistem astronomi India. Dalam mitos bangsa ini diyakini bahwa bumi berbentuk bulat dan terawang di alam raya.[]

*Tulisan ini telah dimuat di  Harian Medan Pos, 24 April 2020

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: