Ateis Paruh Waktu

Pada dasarnya manusia itu memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi  berbahaya. Contohnya, kalau kita tidak percaya terhadap apa yang ingin kita makan maka kita tidak akan memakannya, kita tidak percaya terhadap apa yang kita minum kita tidak akan meminumnya, kita tidak percaya dengan tulisan ini maka kita tidak akan membacanya, begitupun dalam wilayah keimanan kepercayaan ini berfungsi sebagai penggerak.

Jadi pada dasarnya adalah manusia itu memerlukan suatu bentuk kepercayaan karena kepercayaan itu merupakan fitrah yang ada pada manusia. Seharusnya kita berfikir dan menghargai berbagai kepercayaan yang ada.

Dari sini sangat jelas dan saya sepakat terhadap apa yang di ungkapkan oleh Cak Nur dalam bukunya Islam, Doktrin dan Peradaban yang mengatakan “Yang menjadi problema manusia sepanjang sejarah dari dulu hingga hari ini bukanlah masalah atheis ataupun theis tapi musyrik” .

Jadi jangan salah kaprah meganggap bahwa atheis itu tidak percaya. Kepercayaannya yaitu ia tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Bisa jadi mereka itu adalah seseorang yang baru setengah berislam. Karena sebagaimana kita ketahui di Islam itu kita mengenal syahadat yang berbunyi

” Tiada Tuhan selain Allah”  dalam kalimat tersebut terdiri dari naffi dan isbat bahasa mantiknya atau dalam filsafat kita mengenalnya negasi dan afirmasi yang berarti peniadaan jadi di tiadakan dulu Tuhan tuhan dengan t kecil yang ada dalam diri manusia kemudian ada kalimat isbat atau pengecualian yang berbunyi selain Allah. Jadi alangkah indahnya jika berkhuznudzon bahwa seorang atheis itu baru setengah berislam.

Selain itu kita seringkali memahami atheis itu hanya mereka yang memang benar- benar tidak mengakui tuhan dalam hidupnya atau sebut saja atheis radikal, padahal jika kita kaji lebih jauh dan mendalam atheis itu tidak hanya berhenti pada makna itu. Ada juga atheis praktis namun kita sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu.

Coba kita renungkan pernahkah Tuhan sering hilang dalam hidup kita, Tuhan sering kali tersisihkan ” itulah atheis praktis” yang kita dewa-dewakan ambisi dan hasrat kita, ego kita, keinginan kita, tanpa di sadari Tuhan hilang dalam hidup kita. Hati-hati meskipun kita ngakunya benci atheis tetapi dalam kategori “atheisme praktis” tanpa di sadari kadang-kadang kita jadi pelakunya.

Hidupmu yang 100% itu kira-kira Tuhan terlibat berapa persen ?Kadang di dalam sholat pun kita tidak ingat kehadiran Tuhan dari mulai Allohu Akbar sampai Salam kita lupa akan kehadiran Tuhan .

Nah itulah hal yang tanpa di sadari sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali membenci seorang yang mengaku atheis tetapi kita sendiri yang mengaku beragama dan percaya pada Tuhan tidak pernah muhasabah dan seharusnya malu pada diri kita sendiri yang sering meniadakan tuhan dalam hidup kita.

Maka sudah saatnya sebagai warga negara yang baik kita bisa saling memahami, menghargai, menghormati berbagai keaneka ragaman yang ada demi keutuhan Bangsa, Agama dan desa . serta berusaha mengolah berbagai perbedaan yang ada menjadi kekuatan bersama. Berbeda pendapat bukanlah suatu masalah asal jangan beda pendapatan!

Satu tanggapan untuk “Ateis Paruh Waktu

Tinggalkan komentar