Santri Cendekia

Atom dan Aksiden dalam Renungan al-Ghazali

Setelah al-Ghazali (w. 1111) merampungkan kitab Tahafut al-Falasifah yang mampu menggoncang kemapanan hegemoni filsafat Helenisme di dunia Islam, beliau kemudian kembali menulis kitab Mi’yar al-’Ilmi. Kedua kitab ini sama-sama tergolong genre filsafat, namun Mi’yar al-’Ilmi punya kelebihan karena ditulis dengan bahasa yang lebih dingin, santai dan tidak menggebu-gebu. Salah satu bahasan yang menarik dan menjadi fokus kajian al-Ghazali dalam kitab Mi’yar al-’Ilmi  adalah tentang atom (jawhar) dan aksiden (‘aradh).

Saya ingin menyampaikan tentang alasan mengapa kita harus repot-repot kembali membahas masa lalu. Apalagi bahasan mengenai atom dan aksiden merupakan salah satu sub tema dalam kajian filsafat dan tasawuf klasik yang sukar dipahami. Saking sulitnya sampai-sampai membuat Maimonides, Thomas Aquinas, dan Immanuel Kant sulit tidur hingga stress menyusuri alam pikiran al-Ghazali ini. Kesulitannya bukan hanya kita harus menyusuri dari sesuatu yang sangat konkret sampai ke yang maha abstrak, melainkan juga kita harus mengabstrakkan yang konkret dan mengonkretkan yang abstrak. Nah tuh!

Tapi menarik untuk mencermati kedua struktur entitas ini karena 1) menurut para filsuf, walaupun atom dan aksiden berbeda, namun keduanya sulit untuk dipisahkan; 2) menurut kalangan sufi, atom dan aksiden bukan dua entitas yang berbeda, namun tidak lebih dari sekadar hakikat dan manifestasi. Alasan inilah kenapa saya memilih al-Ghazali sebagai objek formal selain karena objek materialnya atom dan aksiden, juga lantaran Hujjatul Islam ini menguasai filsafat semendalam penguasaannya pada tasawuf.

Sebelum masuk pada penjelasan al-Ghazali tentang atom, perlu ditegaskan ada perbedaan pengertian antara atom pada filsafat Islam klasik dengan atom pada fisika modern. Pada tahun 1803, nama John Dalton disebeut-sebut sebagai orang yang pertama kali mengemukakan pendapatnya tentang atom. Pengertian atom dari Dalton yang dapat saya tangkap adalah bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi maupun dipotong lagi. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen.

Baca juga:  Mengenali Diri Bersama Imam al-Ghazali

Cukup sulit mencari definisi atom dan aksiden yang dipakai al-Ghazali dalam kitab Mi’yar al-’Ilmi. Hal ini tidak lain karena keterbatasan saya dalam memahami sisi sastra dan gramatikal bahasa Arab, lebih-lebih teks yang telah berusia seribu tahun. Dengan disklaimer seperti ini mungkin akan membuka peluang pada kekeliruan, tidak mengapa, silakan dikoreksi saja. Namun setidaknya ada definisi atom dan aksiden pada kitab al-Ghazali ini yang menurut saya cocok dengan pemahaman waktu belajar Filsafat Islam dengan Ustadzi Hamsah di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).

Dalam filsafat klasik, al-Ghazali mendefinisikan atom sebagai al-jawhar qaimun binafsihi (1961: 300), atau sesuatu yang berdiri sendiri. Beliau juga mengartikan atom sebagai ‘ibarah ma laysa fi mawdhu’in (1961: 314), atau terjemahan bebasnya, sesuatu yang tidak membutuhkan eksistensi yang lain. Dengan kata lain, atom adalah suatu hal yang berdiri dengan sendirinya alias sesuatu yang “ada” namun tidak melekat pada ke-“ada”-an yang lain. Keberadaannya tidak ditentukan oleh yang lain, karena atom berdiri sendiri alias berperan sebagai substansi sesuatu. Kalau meminjam istilah filsuf kontemporer asal Indonesia, atom adalah core of the core.

Sementara itu, al-Ghazali mendefinisikan aksiden sebagai  al-a’radh jumlatuha fi mawdhu’ (1961: 315), yang terjemahan bebabasnya berarti eksistensi aksiden melekat pada sebuah mawdhu’. Dengan kata lain, atom sebagai tempat melekatnya aksiden. Al-Ghazali menjelaskan bahwa peran aksiden bukan menjadi syarat mutlak bagi suatu untuk menjadi “ada”, melainkan hanya sebagai penjelas dari syay’ atau suatu atom (al-‘aradh huwa alladhi laysa wujuduhu syartan li wujudi al-syay’) (1961: 94). Dengan kata lain, aksiden adalah atribut yang menempel pada atom. Hal tersebut bisa berupa warna, ukuran, tempat, kualitas, posisi dan lain-lain. Namun, al-Ghazali mengingatkan bahwa  aksiden dari sesuatu bukanlah bagian dari sesuatu itu, ia merupakan hal lain di luar sesuatu yang sudah ada (1961: 301).

Baca juga:  Kritik Ibnu Rusyd Terhadap Ibnu Sina dan al-Ghazali

Dari penjelasan definisi atom dan aksiden di atas, contoh sederhananya perempuan dengan wajah glowing. Perempuan akan tetap perempuan walau pun tidak membeli skincare. Ketika perempuan tersebut memakai skincare, kemudian wajahnya berubah semakin glowing, tetap saja dirinya adalah perempuan. Namun hal tersebut berbeda dengan glowing. Ketika glowing tidak melekat pada wajah perempuan, maka si glowing ini membutuhkan tempat lain untuk menempel. Keberadaannya sangat ditentukan oleh ke-“ada”-an yang lain. Akan tetapi, walau pun glowing misalnya tidak menempati sesuatu apapun, dirinya tetap “ada” namun tidak eksis (wujuduhu ka ‘adamihi).

Contoh lain misalnya kopiah berbentuk bulat. Kopiah sebagai atom (jawhar) dan bentuk bulat sebagai aksiden (‘aradh). Kopiah akan tetap namanya kopiah walaupun bentuknya sudah tidak bulat lagi. Sementara bentuk bulat yang menempel pada kopiah ketika dipaksa harus dipisah dengan kopiah, maka si bentuk bulat akan membutuhkan atom yang lain, entah itu kertas, tanah atau kotoran manusia. Bentuk bulat dapat dikatakan “ada” dengan adanya sesuatu yang lain. Sementara kopiah, ada atau tidak ada bentuk bulat, ia tetap menjadi kopiah.

Apa yang saya tangkap dari penjelasan al-Ghazali ini, dirinya ingin menunjukkan bahwa segala yang ada di alam semesta ini merupakan relasi atom dan aksiden. Peran atom sebagai sebagai dasar awal dari sesuatu yang “ada”, dan aksiden yang menambahi dengan berbagai atribut-atribut sehingga membuat yang “ada” itu menjadi berwarna, berbentuk, dan lain-lain merupakan komponen dasar dari pembentukan realitas. Dengan demikian elemen dasar dari realitas adalah hubungan atom dan aksiden.

Sebenarnya penjelasan al-Ghazali tentang atom dan aksiden di atas tidak ada perbedaan dengan filsuf lain. Boleh dibilang definisi yang dituliskan al-Ghazali terkait dua entitas itu merupakan pengertian kolektif pada zamannya. Namun, pembahasan al-Ghazali terkait relasi atom dan aksiden sesungguhnya dalam rangka membela keyakinan Islam tentang Tuhan dari serangan para filsuf seperti Ibnu Sina dan al-Farabi. Terutama pembahasan tentang konsep wajib al-wujud, mumkin al-wujud, dan teori emanasi.

Baca juga:  Syed M. Naquib al-Attas dan Bangkai Masa Lalu

Pertanyaan yang mesti dijawab terlebih dahulu sebelum menukik ke kritikan al-Ghazali pada filsuf Islam sebelumnya adalah apakah Tuhan bagian dari atom atau aksiden? Menurut al-Ghazali, selain Tuhan segala sesuatu diciptakan melalui media atom dan aksiden. Secara berkelanjutan keduanya mengalami penambahan dan pengurangan. Tuhan berperan aktif dalam penciptaan dan pemusnahan atom dan aksiden, sehingga Dia tahu setiap detail apa yang sedang dikerjakan makhlukNya.

Pembahasan ini mungkin akan lebih baik dibahas dalam episode berikutnya. Hehehe. Intinya, yang fana itu atom dan aksiden, Tuhan abadiii.

Wallahu a’lam bish-Shawab

Sumber bacaan:

Abu Hamid al-Ghazali, Mi’yar al-‘Ilmi, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1961. Kitabnya bisa didownload di sini.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: