Santri Cendekia

Awal Syakban 1441 H di Tengah Pandemi Corona

Oleh: Susiknan Azhari

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, para pemburu hilal baik di dalam maupun di luar negeri pada hari Selasa 29 Rajab 1441/ 24 Maret 2020 kebanyakan “lockdown” dan “stay at home untuk mengindahkan maklumat dan fatwa demi keselamatan bersama dalam menghadapi pandemi corona yang sedang melanda dunia.

Berdasarkan kalender yang beredar, awal Syakban 1441 H terjadi perbedaan. Khusus di Indonesia menurut kalender Muhammadiyah awal Syakban 1441 H jatuh pada hari ini Rabu 25 Maret 2020.

Keputusan ini sama dengan Saudi Arabia, Mesir, Irak, Tunisia, dan Turki, sedangkan menurut Taqwim Standar Indonesia (Kemenag RI), Almanak Islam PERSIS, dan Almanak PB NU (didukung laporan rukyatul hilal yang tidak berhasil) awal Syakban 1441 jatuh pada hari Kamis 26 Maret 2020.

Negara-negara anggota MABIMS dan kawasan Timur Tengah, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore, Oman, Jordan, dan Uni Emirat Arab juga menetapkan awal Syakban 1441 jatuh pada hari Kamis 26 Maret 2020.

Dalam kasus seperti ini sering muncul pertanyaan, mengapa terjadi perbedan, mungkinkah disatukan, jika mungkin apa yang perlu dilakukan. Untuk menjawabnya tidak semudah membalikkan tangan.

Pada umumnya masyarakat menganggap perbedaan terjadi karena penggunaan hisab dan rukyat. Pandangan ini tidak salah karena didukung simbolisasi Muhammadiyah sebagai mazhab hisab dan NU sebagai mazhab rukyat. Namun jika dikaji lebih komprehensif ternyata pandangan tersebut tidak memiliki basis epistemologis yang kuat.

Hal ini dapat dirujuk dalam kasus perbedaan di atas.

Muhammadiyah dan PERSIS sama-sama menggunakan hisab tetapi berbeda dalam menentukan awal Syakban 1441 H. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan anggitan yang digunakan.

Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal. Anggitan ini mensyaratkan tiga hal untuk memulai awal bulan kamariah, yaitu telah terjadi ijtimak (konjungsi), ijtimak terjadi sebelum ghurub (ijtima’ qabla al-ghurub), dan moonset after sunset.

Sedangkan PERSIS menggunakan visibilitas hilal 3, 6,4. Dalam konsep ini ada empat syarat yang digunakan untuk memulai awal bulan kamariah, yaitu telah terjadi ijtimak, ijtimak terjadi sebelum ghurub (ijtima’ qabla al-ghurub), ketinggian hilal 3 derajat, dan elongasi 6.4 derajat.

Baca juga:  Tanggap Corona; Saatnya Kas Masjid Dikosongkan!

Hasil hisab dari berbagai aliran yang berkembang di Indonesia menunjukkan bahwa ijtimak awal Syakban 1441 terjadi pada hari Selasa 24 Maret 2020 pukul 16.28 WIB, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berkisar antara 0 37’ sampai 1 41’.

Data ini menjelaskan bahwa ketiga syarat (telah terjadi ijtimak (konjungsi), ijtimak terjadi sebelum ghurub (ijtima’ qabla al-ghurub), dan moonset after sunset) yang diminta oleh wujudul hilal telah terpenuhi maka awal Syakban 1441 H ditetapkan jatuh pada hari ini Rabu 25 Maret 2020.

Sementara itu menurut visibilitas hilal PERSIS masih ada syarat yang belum terpenuhi, yaitu ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6.4 derajat maka awal Syakban 1441 H ditetapkan jatuh pada hari Kamis 26 Maret 2020. Secara teoritis perbedaan ini akan terulang pada saat menentukan awal Ramadan 1441 nanti.

Memperhatikan kasus di atas mungkinkah disatukan? Ada dua pandangan yang berkembang.

Pertama berpendapat bahwa penyatuan itu sulit tetapi mungkin diwujudkan. Kelompok optimis ini meyakini penyatuan kalender Islam dapat diwujudkan dengan keterbukaan hati, kerja yang sistematis, terarah, dan terencana.

Kelompok kedua berpandangan bahwa penyatuan itu mungkin dilakukan tetapi sulit diwujudkan. Bagi kelompok pesimis ini keragaman adalah sebuah keniscayaan. Masing-masing memiliki epistemologi yang sulit dipertemukan. Biarkan mereka menikmati keyakinannya yang penting dapat menghargai pihak lain yang berbeda.

Kedua pandangan ini tak ubahnya dalam merespons pandemi corona sehingga melahirkan beragam pandangan dan fatwa yang berlimpah.

Disinilah moderasi beragama sangat diperlukan dalam merepons berbagai persoalan kehidupan kontemporer.

Semua pihak sepakat jihad melawan corona, memaksimalkan ikhtiar dan tawakal dengan semboyan yang berkembang berpisah lebih utama dari pada bersatu agar pandemi corona segera berakhir, kehidupan normal kembali dengan karya-karya monumental, dan dapat bermanfaat bagi sesama.

Baca juga:  Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (1)

Begitu pula umat Islam rindu akan kehadiran kalender Islam pemersatu maka perlu jihad mewujudkan kalender Islam pemersatu dengan semboyan bersatu lebih utama dari pada berpisah.

Akhirnya selamat memasuki bulan Syakban 1441.

Semoga pandemi corona segera diangkat oleh Sang Maha Pencipta dan Allah memberi kemudahan dalam mewujudkan kalender Islam pemersatu. Semua umat manusia bergembira menyongsong kehidupan yang lebih baik dan bisa mengambil pelajaran dibalik peristiwa yang terjadi. Inna ma’a al-‘Usri Yusra.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 1 Syakban 1441/25 Maret 2020

* Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tadjid PP Muhammadiyah dan Guru Besar Ilmu Astronomi Islam-Hukum Islam pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Susiknan Azhari

Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Guru Besar Ilmu Astronomi Islam-Hukum Islam pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: