Santri Cendekia
Home » Bagaimana Menulis Tesis dan Disertasi Islamic Studies dengan Framework Ilmu Sosial Humaniora? (2)

Bagaimana Menulis Tesis dan Disertasi Islamic Studies dengan Framework Ilmu Sosial Humaniora? (2)

Mem-frame Riset dengan Isu Modernitas

Pada tulisan terdahulu telah dijelaskan tentang manfaat menggunakan sudut pandang sosial humaniora dalam studi Islam, apa itu kemodernan, dan apa dampaknya bagi masyarakat Islam. Pada bagian  ini, saya menjelaskan tentang bagaimana membingkai riset Islamic studies dengan isu modernitas.

Di bawah ini saya mencantumkan pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari problem kemodernan. Semua pertanyaan ini bisa dibawa kepada bidang apa pun dan isu apa pun yang lebih spesifik. Apakah Anda mengkaji metode tafsir, atau pandangan ahli tafsir tentang ayat tertentu, Anda membahas metode otentikasi hadis sahih atau pemahaman ulama tentang hadis tertentu, mengkaji fatwa ulama atau hukum fikih yang telah menjadi hukum positif, apakah Anda peminat kajian usul fikih yang tertarik dengan sumber-sumber hukum Islam dan metode ijtihad, atau Anda peneliti diskursus dan praktik sufi; apapun bidang studi Islam yang Anda geluti, pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda membingkai riset dari sudut pandang sosial humaniora.

Secara singkat, apa yang bisa Anda kaji adalah proses modernisasi atau perubahan di dunia Islam. Ini bisa terkait dengan motif, metode, dampak, aktor, kontestasi, sudut pandang, dan narasi keberlanjutan dan perubahan.

Jika diuraikan lebih detail, maka pertanyaan konseptual yang bisa Anda dalami antara lain adalah:

  1. Apa saja yang berubah dan apa yang bertahan dari tradisi masa lalu pada bidang Anda? Apa bedanya pemikiran-praktik tradisional dan modern yang telah mengalami perubahan?
  2. Kenapa perubahannya pada bagian tertentu, tidak pada bagian yang lain? Juga sebaliknya, kenapa yang tetap adalah pada bagian tertentu, tidak bagian yang lain?
  3. Kapan pergeseran atau perubahan itu terjadi? Mengapa perubahan tersebut terjadi pada periode waktu yang itu, bukan pada periode waktu yang lain?
  4. Siapakah aktor yang terlibat dalam perubahan ini?
  5. Apakah proses perubahan ini sesuatu yang organik: dilakukan oleh ulama atau masyarakat akar rumput an sich? Bagaimana peran kolonialisasi di dalamnya? Bagaimana peran penguasa muslim di dalamnya?
  6. Apa saja strategi (baik epistemik ataupun sosiologis) yang dilakukan oleh para aktor untuk merubah yang lama ke yang baru tersebut?
  7. Bagaimana aktor Islam mempersepsikan perubahan ini? Apakah ini sesuatu yang mereka inginkan, yang mereka anggap ideal, atau sesuatu yang mereka lakukan karena terpaksa?
  8. Bagaimana narasi mereka tentang tradisi (kondisi sebelum mengalami perubahan)? Apakah mereka menganggapnya negatif, atau sebenarnya positif tapi tidak layak lagi karena situasi zaman yang berubah?
  9. Apa dampak perubahan ini pada masyarakat muslim yang lebih luas?
  10. Bagaimana respons kelompok yang menolak perubahan terhadap yang mengajukan perubahan, dan juga bagaimana sebaliknya? Apa narasi mereka satu sama lain?
  11. Bagaimana narasi kedua belah pihak mengenai dunia Barat atau penguasa yang menginspirasi perubahan?
  12. Apakah iya, konstelasinya hanya bersifat binarian: hanya ada dua belah pihak, yaitu penyokong perubahan dan penolak perubahan? Tidak adakah kategori lain di antara mereka berdua di tengah sarjana muslim?
  13. Mungkinkah orang yang menyatakan secara implisit menolak perubahan, sebenarnya juga telah melakukan perubahan dalam bentuk yang tidak mereka sadari atau akui secara terbuka? Jika iya, bagaimana mereka melakukan nya?
Baca juga:  Kebijakan Antimonopoli Umar bin Khattab

Kerangka Teori dalam Melihat Kemodernan di Dunia Islam

Tiga belas pertanyaan pada bagian sebelumnya selain membantu menemukan unit analisis pada riset Anda, juga dapat membantu Anda mengembangkan argumen. Hanya saja, untuk sampai kepada argumen, selain rumusan pertanyaan, Anda juga memerlukan kerangka teori. Di bawah ini saya mengidentifikasi beberapa kerangka teori yang telah pernah ada dan digunakan dalam melihat proses perubahan atau modernisasi di masyarakat Islam.

Sebelum saya gambarkan satu persatu, saya ingin menyampaikan bahwa kerangka teori ini bukan saja bermanfaat untuk Anda gunakan dalam riset Anda, tetapi juga bisa Anda pakai dalam membaca karya-karya Islamic Studies dari para penulis Barat atau penulis manapun yang menggunakan sudut pandang sosial humaniora. Hemat saya, siapa saja pengkaji islam dari sudut pandang isu perubahan dan keberlanjutan atau modernitas dan tradisi, pasti tidak akan keluar dari kerangka teori di bawah ini. Kadang-kadang mereka menyebutnya secara eksplisit dalam tulisan, tetapi juga tidak jarang hanya menyelinap sebagai asumsi dasar yang bersifat implisit, sehingga tidak Anda temukan dalam daftar pustaka.

Ada empat sudut pandang dalam melihat proses perubahan di dunia Islam.

Sudut pandang pertama bisa kita sebut sebagai paradigma Weberian yang sekuler. Oleh karena itu, teori ini juga disebut sebagai teori sekulerisasi. Kita semua tahu bahwa menurut Max Weber, masyarakat modern mengalami proses disenchantment yang juga bisa dimaknai sebagai sekulerisasi. Proses sejarah ini dimulai dari Eropa, tetapi ia diyakini sebagai proses global yang tak terelakkan. Semua unit masyarakat, menurut teori ini, akan menjadi sekuler pada masanya. Ini artinya, agama dan tradisi akan menjadi tidak penting. Tidak diragukan lagi, standar yang dipakai dalam teori ini adalah perjalanan sejarah dunia Barat. Jadi anggapannya adalah ketika Barat menjadi sekuler karena modernisasi, maka yang lain pun akan menjadi seperti itu.

Baca juga:  Bagaimana Menulis Tesis dan Disertasi Islamic Studies dengan Framework Ilmu Sosial Humaniora? (1)

Teori ini jelas terbukti kekeliruannya. Di kalangan pengkaji agama di Barat, teori ini semakin tidak populer. Modernisasi memang membawa hal-hal yang baru di dunia non-Barat, tetapi tetap tidak menggulung agama dan hal-hal yang berasal dari masa lalu. Detak jantung tradisi dan nilai-nilai agama masih sangat keras, bahkan di Barat sendiri agama tidak lah mati secara total.

Dalam studi Islam, implikasi dari penerapan teori sekulerisasi ini adalah pengabaian peran tradisi sebagai unit analisis. Bagi pengusung teori ini, seolah-olah tradisi pasti tidak lagi menjadi vital di tengah masyarakat. Jika ada yang menyuarakan tradisi, menurut mereka, pasti akan diabaikan oleh masyarakat karena pengaruh sekulerisasi yang begitu kuat.

Sudut pandang kedua bisa kita sebut sebagai paradigma orientalis (para pengkaji Islam pada periode awal Islamologi berdiri di dunia Barat). Bagi tokoh seperti Bernard Lewis, misalnya, Islam itu secara inheren adalah agama yang statis, tidak bisa berubah. Islam pada watak dasarnya tidak mampu mengalami perubahan dan melakukan adaptasi sesuai dengan perkembangan zaman. Bagi pengusung teori ini, sifat Islam yang statis lah yang menjadi alasan mengapa ulama sebagai aktor-aktor penting dalam sejarah Islam selalu menunjukkan perlawanan terhadap perubahan.

Maka, bagi pengkaji Islam yang menganut paradigma orientalis ini, kelompok yang menyuarakan perubahan atau reformasi yang sering disebut sebagai kaum modernis atau reformis dapat dilabeli satu dari dua hal: pertama, mereka sebenarnya tidak modern karena mereka bukan orang Barat dan mereka masih Islam, kedua, mereka tidak mewakili Islam yang otentik yang seharusnya menolak perubahan.

Dari narasi di atas jelas bahwa baik bagi pengusung teori sekulerisasi atau teori orientalis, tradisi adalah peninggalan masa lalu yang bertentangan dengan inovasi dan kebaruan. Tradisi ini adalah mekanisme bertahan untuk sesuatu yang lama. Tradisi tetap, tidak bisa berubah.

Baca juga:  Mencari Sosok Ulama cum Ilmuwan

Sudut pandang ketiga lahir dari dua orang sejarawan Barat yang bernama Peter Gran dan Reinhard Schulze. Kita bisa menyebut pandangan mereka sebagai paradigma perubahan internal. Menurut keduanya, kemodernan di dunia Islam sudah ada sebelum perjumpaan dengan Barat modern, khususnya pada abad ke 18. Jadi kemodernan bukanlah entitas yang unik dan bersifat bersifat Barat.

Schulze secara spesifik menyebut bahwa pada bidang fikih dan teologi, pemikir muslim pada abad ke 18 sudah menunjukkan perubahan internal. Para ulama sudah lebih menekankan dimensi antroposentris, ketimbang teosentris. Abad ke delapan belas, oleh karena itu, mereka sebut sebagai zaman Pencerahan Islam yang terjadi bersamaan dengan Pencerahan Barat. Apa yang terjadi pada abad dua puluh, dengan demikian, menurut keduanya adalah produk organik dari sejarah Islam sendiri, bukan sekedar pengaruh modernisasi Barat.

Sudut pandang terakhir atau keempat muncul paling belakangan. Tokoh seperti Qasim Zaman pengajar dari Princeton University, termasuk yang mempopulerkan teori ini. Kita bisa menyebutnya sebagai paradigma perubahan natural. Pengusung teori ini mengakui bahwa modernitas adalah elemen asing dalam sejarah Islam. Tapi hubungan kemodernan dengan tradisi Islam tidak bersifat nasikh-mansukh, tapi dialektik. Ini artinya, ketika modernitas datang, ia tidak secara otomatis menghapus tradisi. Oleh karena itu, keduanya sebenarnya tidak secara inheren bertolak belakang. Keduanya berinteraksi secara fleksibel. Ada bagian dari modernitas yang diterima, ada juga yang ditolak. Demikian pula dengan tradisi, ada yang dipertahankan dan ada yang dikritik oleh masyarakat muslim.

Jadi menurut sudut pandang terakhir ini, perubahan-perubahan dalam Islam itu sesuatu yang biasa saja, natural. Islam memiliki daya tahan dan daya lentur dalam menghadapi arus perubahan yang datang dari luar. Perubahan dan kebaruan tidak akan menghapus sifat keislaman dan nilai-nilai tradisional yang ada.

Dalam kacamata ini, tradisi tidak dianggap sesuatu yang statis, sekedar warisan datang dari masa lalu, tetapi peninggalan masa lalu yang secara konstan diperdebatkan, dibela, pada akhirnya mengalami perubahan dan modifikasi menyesuaikan konteks sosial budaya yang berubah.

Avatar photo

Muhamad Rofiq Muzakkir

Direktur Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar