Santri Cendekia
Home » Bagaimana Menulis Tesis dan Disertasi Islamic Studies dengan Framework Ilmu Sosial Humaniora? (3)

Bagaimana Menulis Tesis dan Disertasi Islamic Studies dengan Framework Ilmu Sosial Humaniora? (3)

Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bagaimana rumusan pertanyaan tesis dan disertasi bisa dikembangkan terkait dengan isu kemodernan. Juga telah diuraikan apa saja kerangka teori yang relevan dengan isu perubahan dan ketersambungan di dunia Islam. Pada bagian ini akan saya mendiskusikan isu dekolonisasi yang telah menjadi perhatian saya selama beberapa tahun terakhir.

Dekolonisasi sebagai pendekatan berpikir

Di mana posisi dekolonisasi sebagai sudut pandang dalam melihat hubungan antara tradisi Islam dan kemodernan? Jika dihubungkan dengan empat sudut pandang di atas, di mana kita bisa menempatkan pendekatan dekolonisasi? Menurut hemat saya, dekolonisasi bisa dianggap sejalan dengan semua sudut pandang di atas, kecuali sudut pandang yang pertama.

Bagi sudut pandang kedua, terutama versi Wael Hallaq mengenai tradisi, pemikiran Barat modern harus ditolak karena ia hegemonik dan destruktif. Bagi sudut pandang ketiga, modernisasi tidak selalu Barat, sehingga dalam perspektif ini, dominasi Barat juga dinegasikan. Bagi sudut pandang keempat, pemikiran Barat yang masuk ke dunia Islam, tidak pernah berdiri sendiri secara hegemonik. Proses masuknya pasti melalui penyaringan di tangan para ulama terlebih dahulu yang tetap berusaha menjaga identitas Islam.

Dari narasi di atas, terlihat jelas bahwa pendekatan dekolonisasi itu tidak tunggal. Dengan kata lain, tingkat keekstriman para sarjana pengkaji Islam dalam menolak kemodernan Barat berbeda-beda satu sama lain. Oleh karena itu, saya mengklasifikasi orientasi dekolonisasi menjadi dua, yaitu dekolonisasi garis keras dan dekolonisasi moderat.

Kelompok penganut dekolonisasi garis keras bisa juga disebut sebagai kaum natifis. Contohnya ada pada sosok sarjana bernama Wael Hallaq yang telah saya sebut di atas. Kaum natifis ini adalah orang-orang yang menilai kebaruan dari Barat dan pengaruhnya pada tradisi Islam secara otomatis bersifat negatif. Dalam kajian Hallaq mengenai usul fikih misalnya, ia melihat perubahan hukum fikih menjadi hukum positif sebagai legacy epistemic dari kolonialisme. Pada bidang usul fikih, Hallaq juga menyimpulkan pergeseran usul fikih di tangan tokoh seperti Rasyid Rida sebagai perubahan yang dipengaruhi oleh cara berfikir hukum ala Barat  yang utilitarinistik, karena terlalu banyak menggunakan konsep maslahah.

Baca juga:  KH. Hasan A. Sahal; "Nyatakanlah Kebenaran, Jangan Hanya Benarkan Kenyataan!"

Tapi pandangan natifis seperti yang dianut oleh Hallaq ini juga sebernanya dikritik oleh banyak sarjana. Intinya mereka menolak perspektif Hallaqian yang melihat bahwa Islam itu baku, tidak bisa berubah, dan bentuk asli Islam dan tradisinya hanya seperti ketika ia dipraktekkan di masa lalu. Hallaq ingin membela Islam dari dampak buruk kemoderenan dan perubahan, tapi akhirnya ia sendiri jatuh pada jebakan orientalis. Dalam istilah antropologi Islam, apa yang dilakukan Hallaq adalah reifikasi Islam.

Kritik lainnya adalah pandangan sempit dan natifis seperti ini pada akhirnya mengunci umat Islam, membuat mereka tidak bisa bergerak kemana-mana. Mundur ke belakang umat Islam tidak bisa, karena sejarah sudah berubah. Maju ke depan juga tidak bisa, karena mengambil yang baru sama dengan menjadi Barat, tidak menjadi diri sendiri.

Berbeda dengan sarjana dekolonial garis keras, kelompok dekolonial garis moderat melihat pengaruh Barat secara lebih bernuansa. Benar mereka menolak universalisasi dan dominasi nilai-nilai Barat, tapi tidak sejauh sarjana dekolonial garis keras. Kelompok moderat lebih tertarik untuk menekankan pada proses marginalisasi tradisi Islam dalam sejarah modern.

Jika diklasifikasikan, agenda kelompok moderat ini ada tiga: pertama, mereka tertarik untuk melahirkan kesadaran sejarah di tengah publik tentang proses kolonisasi yang menciptakan kerusakan di tengah masyarakat Islam. Kata kuncinya yang harus digaris bawahi adalah menceritakan proses atau dampak. Ini bagi mereka penting, karena banyak yang tidak lagi mengingat proses terjadinya kerusakan epistemik ini dan bahkan tidak bisa mengidentifikasi apa saja kerusakannya.

Kedua, mereka juga berniat mereklamasi atau merestorasi apa yang masih bisa dan relevan untuk diambil dari masa lalu. Apa yang tidak bisa dan tidak perlu, mereka biarkan menjadi memori masa lalu. Mereka menyadari bahwa tidak semua yang datang dari masa lalu bisa atau bahkan perlu diambil kembali.

Baca juga:  Cara Menjaga Keistiqamahan Pasca Ramadhan

Ketiga, mereka hendak mendialogkan tradisi Islam secara sejajar dengan kemodernan: membuat tradisi sebagai sumber otoritatif yang berdialektika dengan kemoderenan. Jadi kemodernan tidak ditolak, tapi ia bersanding secara sejajar dengan nilai-nilai tradisi dan berinteraksi secara alami melalui proses saling mengkritik dan memberi masukan. Ini artinya mereka lebih tertarik untuk menghentikan proses penyerapan Erosentrisme secara total. Bagi garis moderat, jangan sampai pikiran masyarakat hanya terisi oleh hal-hal yang hanya bersifat modern.

—-

Tulisan berseri ini telah menjelaskan beberapa hal pokok terkait bagaimana riset atau penulisan tesis dan disertasi dapat menggunakan kerangka kerja ilmu sosial humaniora. Semoga membantu Anda. Jika Anda belum paham, coba baca sekali lagi. Jika Anda sudah paham, Anda selanjutnya bisa mengembangkannya dan menyesuaikannya sesuai dengan konteks spesifik atau bidang studi yang Anda geluti.  Selamat berimajinasi!

Avatar photo

Muhamad Rofiq Muzakkir

Direktur Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar