Santri Cendekia

Belajar Adab dari Dua Tokoh Biadab (Az-Zukhruf 31)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan mereka juga berkata, “Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Mekah dan Thaif)?” (Az-zukhruf : 31)

 Menurut Ibnu ‘Abbas dalam tafsir Ibnu Katsir, dua orang yang dimaksud di dalam ayat ini tertuju kepada Walid bin Mughirah dari Makkah dan Urwah bin Mas’ud dari Thoif. Sedangkan As-suddi berkata bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Walid bin Mughirah dan Mas’ud bin Amr Ats-tsaqafi.[1]. Sedangkan menurut sirah, suatu hari al-Walid Ibnul Mughirah berdiri seraya berkata, “Akankah Alquran turun kepada Muhammad, sementara aku tidak mendapatkannya, padahal aku pembesar Quraisy dan pemimpinnya?! Mengenyampingkan Abu Mas’ud ats-Tsaqif, padahal kami dua orang pembesar negeri –Mekah dan Tha’if-.”[2] Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Az-zukhruf ayat 31 ini.

Walid bin Mughirah Al-Makhzumi

Di Bani Makhzum al-Walid Ibnul Mughirah bin Abdillah bin Amr al-Makhzumi al-Qurasyi tumbuh berkembang. Dia lahir di Mekah sekitar 95 tahun sebelum hijrah Nabawiyah. Sejak membuka kedua matanya dia mengetahui bahwa keluarganya tergolong paling mulia di keluarga Quraisy dan paling tinggi, terhormat dan paling kaya. Ayah atau saudaranya adalah pemimpin terhormat yang kedudukannya hampir menyamai kedudukan para pemimpin Quraisy.

Ayahnya adalah al-Mughirah bin Abdillah, sosok lelaki yang memberi kesan kepada setiap orang dari bani Makhzum untuk menasabkan diri kepadanya, hingga dikatakan Al-Mughiri, sebagai kehormatan menisbatkan diri kepadanya.

Saudaranya Hisyam Ibnul Mughirah pemimpin Bani Makhzum dalam Harbul Fijar. Tatkala Hisyam meninggal, suku Quraisy mencatat hari kematiannya seakan sejarah yang agung. Pasar diutup selama tiga hari karena kematiannya.

Saudaranya al-Faqih Ibnul Mughirah, salah seorang paling dermawan dari bangsa Arab di masanya. Dia memiliki rumah yang disediakan untuk para tamu, siapa saja yang bisa menempatinya tanpa meminta izin dan kapan saja.

Saudara yang lainnya adalah Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah, salah seorang dari empat orang termulia yang ikut mengambil ujung kain guna memikul Hajar Aswad untuk dikembalikan ke tempatnya di Ka’bah yang mulia, sebagai petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum masa kenabian.

Baca juga:  Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Adapun saudaranya Abu Umayyah Ibnul Mughirah yang dijuluki dengan ‘Pemberi bekal bagi Musafir’, dia salah seorang ahli hikmah di kalangan Quraisy. Dialah yang mengusulkan mereka, untuk menjatuhkan pilihan kepada orang yang memasuki pintu masjid pertama kali, untuk mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, mereka pun ridha dengan keputusan itu. Telah nampak kebenaran apa yang disyaratkannya dengan fakta, bahwa mereka semua rela pada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meletakkan Hajar Aswad.

Adapun julukannya ‘Pemberi bekal bagi Musafir’ telah disebutkan dalam referensi, bahwa dia mencukupi teman-temannya dalam perjalanan dengan apa yang mereka butuhkan, hingga mereka tidak bersiap dengan perbekalan.

Agar kita mengetahui kedudukan Bani Makhzum, mesti kita mengetahui bahwa mereka mempunyai 30 kuda dalam peperangan Badr, padahal suku Quraisy secara keseluruhan hanya 70 kuda. Mereka memiliki 200 unta dan emas dalam ribuan timbangan. Juga ditambah dengan bekal dan bantuan dan lainnya.

Dari kaca mata yang terbatas ini, kita ketahui betapa agungnya dia di sisi mereka. Jiwa Al-Walid Ibnul Mughirah –khususnya- tidak rela diungguli kemuliaan dan kewibawaannya oleh seorang pun, siapa pun dia.

Sejarah juga mencatat Al-Walid sebagai Pionir dalam ragam peristiwa di masa Jahiliyah, di antaranya:

Dia orang pertama yang menghapus sumpah di masa Jahiliyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkannya dalam Islam.

Dia adalah orang pertama yang melepaskan sepatu dan sandal saat akan memasuki Ka’bah yang mulia di masa Jahiliyah, kemudian di masa Islam orang-orang melepaskan sandal-sandal mereka.

Dikatakan, bahwa dia orang pertama yang mengharamkan khamr terhadap dirinya di masa Jahiliyah dan memukul anaknya Hisyam karena meminumnya.

Al-Walid adalah orang pertama yang memotong tangan pencuri di masa Jahiliyah, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hukum tersebut di masa Islam.

Barangkali tanda-tanda kemuliaan ini menanamkan dalam jiwa al-Walid benih-benih kibr (sombong) yang menjadikan dia melihat dirinya sebagai pemuka Quraisy. Karena itu tatkala Usaid bin Abil Aish bertepuk dada, al-Walid berkata, “Aku lebih baik darimu dari sisih ayah dan ibu, serta aku lebih kokoh daripadamu di mata Quraisy dalam hal nasab.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan Islam kepada manusia. Alquran yang mulia turun dengan bahasa Arab. Al-Walid dan kaum musyrikin Quraisy mengetahui dengan rasa bahasa Arab yang mereka miliki, bahwa Alquran tidak mungkin datang dari manusia, karena itu mereka sendiri menghadang lagi memerangi Alquran dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah’.” (QS. Al-An’am: 124)

Baca juga:  [Jurnal] Nalar Fikih Baru Muhammadiyah: Membangun Paradigma Hukum Islam yang Holistik

Ini menjadi bukti atas kecongkakan al-Walid dan kesombongannya, perbuatan dosanya, dan pelecehannya terhadap perkara risalah. Maka Allahlah yang Maha mengetahui dalam menjatuhakan risalah-Nya.[2]

Abu Mas’ud Ats-tsqafi (Amr bin Umair)

Penulis tidak memiliki banyak informasi tentang tokoh ini. Dia adalah salah ayah dari ketiga bersaudara yang menjadi pemuka dan tokoh besar di Tha’if. Ketiga anaknya lah yang menemui Rasulullah ketika Rasulullah mendakwahkan islam di Tha’if.

Ketiganya sempat menyembunyikan Nabi selama 10 hari dan setelah itu mereka memberikan komando kepada kaumnya untuk mengusir Rasulullah dan menyakiti beliau. Hingga di dalam riwayat, mereka membentuk 2 baris dan melempari kaki Rasulullah dengan batu hingga terompahnya berdarah. Shollu ‘alaih.[3]

Hikmah

Hikmah yang dapat dipetik dari kejadian ini adalah, pada dasarnya orang-orang yang memang hatinya bersifat kufur lagi sombong biasanya akan mengeluarkan logika-logika seperti ini. Mereka menganggap bahwa logika merekalah yang pantas menjadi standar kebenaran. Mereka merasa berhak menentukan siapa yang pantas dan tidak pantas untuk mendapatkan karunia dari Allah. Logika orang-orang yang berkata seperti di ayat ini mirip logika para Al-Mala’ dari Bani Israil yang memprotes pengangkatan Thalut sebagai pemimpin baru mereka.

Nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak… (Al-Baqarah : 247).

Logika sesat mereka mengukur derajat ketinggian derajat seseorang berdasarkan harta kekayaan yang dimilikinya. Allah ingatkan mereka dan kita semua, bahwa kekuasaan dan kerajaan itu hak prerogatif Allah dan akan diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki.

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui (Al-Baqarah : 247)

Baca juga:  Hermeneutika Hadis dan Kejanggalan Nomenklatur (Bagian II)

Atau di ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan,

Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian), dan Allah pemilik karunia yang besar (Al-Baqarah : 104)

Pada dasarnya, semua logika-logika itu memang muncul akibat penentangan yang kuat dari dalam jiwa mereka. Penentangan itu berasal dari kedengkian. Kedengkian itu muncul karena mereka terlalu sombong dan merasa diri mereka lebih istimewa dibandingkan orang kebanyakan, dan tentu itu mengakibatkan hati mereka yang lemah tidak mampu menerima kenyataan ketika Allah lebih memilih orang lain yang mendapatkan karunianya. Hal ini pun yang terjadi pada iblis, musuh sejati kita, para manusia yang merindukan surga.

Dari sedikit uraian mengenai dua tokoh di atas, khususnya Walid bin Mughirah, kita bisa menangkap kesan bahwa sesungguhnya seorang walid memiliki akal yang tajam dan hikmah yang dalam. Bahkan beberapa ‘hukum’ hasil ‘ijtihad’nya pun dibenarkan dan dilanjutkan oleh islam. Namun semua kelebihan yang ia miliki itu malah menggumpalkan kesombongan di hatinya sehingga menutup akal dan hatinya dari hidayah islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalalhu ‘alaihi wa sallam.

Mungkin kisah walid ini jugalah, yang bisa menjadi sedikit titik terang bagi kita mengapa banyak sekali cendekiawan muslim atau orang-orang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa namun malah menjadikan hidupnya tersesat dari jalan yang lurus. Kecerdasannya tak dibarengi dengan ketundukan hati kepada kebesaran Allah ‘Azza a Jalla.

Allahu a’lam bishshawab

Referensi:

[1] Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Ibnu Katsir

[2] Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/  Agustus 2008 M

[3] Ar-Rohiqul Makhtum, Syekh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: