Santri Cendekia

Benarkah Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini Membolehkan Tahniah Atas Hari Raya Keagamaaan Non-Muslim?

Oleh: Nur Fajri Romadhon

Di salah satu media sosial, Al-Faqir pernah membaca artikel -semoga Allah memberikan kesehatan dan ‘afiyah bagi sang penulis serta kita semua- yang nampak mendukung kebolehan mengucapkan selamat atas hari raya keagamaan non-muslim yang turut menyertakan Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini (724-805 H) sebagai ulama yang membolehkan hal ini. Berikut kutipannya.

“Imam Sirojuddin Al-Bulqini, (imam besar dan mujaddid pada kurun ke 8 H, hampir disepakati bahwa beliau ini adalah sosok seorang mujtahid, w. 805 H) di dalam Kitab Fatwa-nya, menanggapi sebuah pertanyaan, jika seorang muslim mengucapkan kepada nonmuslim: “semoga hari rayamu diberkahi (ied mubarok)” apakah kafir atau tidak?. Beliau menjawab: jika dia bertujuan mengagungkan agama dan hari peringatan mereka maka kafir hukumnya, jika tidak dan hanya terucapkan oleh lisan mereka, tidaklah apa-apa hukumnya [Fatawa Al-Bulqini, Sirojuddin Al-Bulqini, hal 986.]. ”

-selesai kutipan-

Hal ini menarik, sebab ia seolah dapat dipertimbangkan untuk mematahkan “kesepakatan” ulama lintas mazhab yang dinukil oleh Ibnul Qayyim (w. 751 H) terkait haramnya perbuatan ini [lihat: Ahkam Ahlidz Dzimmah (I/441), Ibnul Qayyim. Ramady lin Nasyr, Dammam: 1997. Dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]. Terlebih melihat kapasitas dan kedudukan mulia Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini rahimahullah.

Beliau lahir di Bulqina, Mesir, tahun 724 H (dari sini kita lihat bahwa saat Ibnul Qayyim wafat, beliau sudah berusia 27 tahun). Nama beliau adalah ‘Umar bin Raslan. Beliau belajar di Kairo sejak usia 12 tahun dan sudah mendapatkan izin berfatwa di usia 15 tahun. Di antara guru beliau adalah Qadhil Qudhat Taqiyyuddin As-Subki (683-756 H). Setelah sempat melanglang buana belajar dan mengajar di beberapa kota, beliau mengajar di Jami’ Al-Azhar hingga wafat tahun 805 H. Di antara murid beliau adalah Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (773-852 H). Ulama besar dalam Mazhab Syafi’i yang juga memiliki beberapa ijtihad dan tarjihat tukhaliful madzhab ini pun termasuk ulama yang digelari Syaikhul Islam. Sejumlah ulama, di antaranya Al-Hafidzh Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) dan KH. Maimoen Zubaier (w. 1440 H), berpendapat bahwa beliaulah Mujaddid abad kedelapan Hijriah.

Mari kita lihat teks asli fatwa Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini serta bandingkan dengan kutipan terjemahan yang dibawakan penulis artikel yang Al-Faqir maksudkan di atas.

وَسُئِلَ عَنْ مُسْلِمٍ قَالَ لِذِمِّيٍّ فِي عِيدٍ مِنْ أَعْيَادِهِمْ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْك. هَلْ يَكْفُرُ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ إنْ قَالَهُ الْمُسْلِمُ لِلذِّمِّيِّ عَلَى قَصْدِ تَعْظِيمِ دِينِهِمْ وَعِيدِهِمْ فَإِنَّهُ يَكْفُرُ، وَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ وَإِنَّمَا جَرَى ذَلِكَ عَلَى لِسَانِهِ فَلَا يَكْفُرُ لِمَا قَالَهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ.

Beliau ditanya mengenai seorang muslim yang berkata kepada non-muslim Dzimmi pada salah satu hari raya mereka: “’Id Mubaarak ‘Alaika (Semoga Hari Rayamu Penuh Berkah)”, apakah ia keluar dari Islam dengan perbuatan ini?

Beliau menjawab, “Jika seorang muslim mengatakannya kepada non-muslim Dzimmi tadi dengan maksud mengagungkan agama dan hari raya mereka, maka ia telah keluar dari Islam. Namun, jika ia tidak memaksudkan demikian, akan tetapi hanya sekadar ucapan di lisan saja, maka ia tidak keluar dari Islam dengan ucapan yang tidak disertai maksud tersebut tadi.”

[Fatawal Bulqini hlm. 986, Sirajuddin Al-Bulqini. Darul Minhaj, Jeddah: 2014 M]

Teks fatwa di atas juga telah dibandingkan dengan Fatawal Bulqini cetakan Arwiqah, ‘Amman: 2015 M yang ada di jilid III pada halaman ke-278-279 serta apa yang dinukilkan oleh Al-Imam Al-Haththab Ar-Ru’yani (w. 954 H), salah satu ulama besar Malikiyyah, dalam kitab Mawahibul Jalil cetakan Dar Ar-Ridhwan, Nouakchott: 2010 M di jilid VI pada halaman ke-492.

Di sini kita semua bisa lihat bahwa pertanyaan diajukan terkait apakah orang yang mengucapkan tahniah terhadap hari raya non-muslim kafir karena perbuatan itu ataukah tidak. Bukan terkait boleh tidaknya. Sebab hukumnya sudah jelas hukumnya terlarang sebagaimana dijelaskan empat abad sebelumnya oleh Al-Imam Al-Hulaimi (338-403 H) dalam kitab Al-Minhaj fi Syu’abil Iman (III/349), juga kembali ditegaskan dalam kitab An-Najmul Wahhaj (IX/244) karya Al-Imam Ad-Damiri (742-808 H), ulama yang sezaman dan sekota (di Kairo) dengan Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini, lalu kembali ditegaskan oleh Al-Imam Syihabuddin Ar-Ramli (w. 957 H) dalam Hasyiyah beliau atas kitab Asnal Mathalib (IV/162), lalu dikonfirmasi oleh Al-Khathib Asy-Syirbini (w. 977 M) dalam Mughnil Muhtaj (IV/255), lalu dipertegas lagi oleh salah satu ulama Mesir di akhir abad ke-19 Masehi, Asy-Syaikh Asy-Syarawani (w. 1233 H), dalam Hasyiyah beliau atas Tuhfatul Muhtaj (IX/181).

Kita semua tahu, bahwa perbuatan yang mengeluarkan seseorang dari keislaman hukumnya adalah haram, tetapi tidak semua perbuatan yang haram mengeluarkan seseorang dari keislaman. Meninggalkan shalat 5 waktu misalnya, dalam Mazhab Syafi’i jika disertai keyakinan bahwa shalat 5 waktu tidaklah wajib, maka ini perbuatan haram yang mengeluarkan dari Islam. Namun jika tidak disertai keyakinan tersebut, maka ia bukan kekufuran, meski hukumnya tetap haram dan dosa sangat besar. Karena itu, adalah keliru memahami bahwa fatwa Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini “falaa yakfur (tidak keluar dari Islam)” dalam konteks ini dipahami sebagai pembolehan. Terlebih mengingat di zaman itu, begitu juga sebelumnya, bagaimana ulama Syafi’iyyah dan juga dari mazhab lainnya, melarang tahniah terhadap hari raya non-muslim.

Dari sini juga kita nyatakan keliru adanya sebagian oknum yang memutlakkan bahwa tahniah terhadap hari raya non-muslim adalah perbuatan yang mengeluarkan dari Islam tanpa merinci bagaimana maksud orang yang mengucapkan tahniah itu sendiri. Keliru juga anggapan sebagian oknum bahwa semua yang bertahniah terhadap hari raya non-muslim artinya ridha atas kekufuran atau bahkan membenarkan agama lain. Bahkan Ibnul Qayyim pun telah menjelaskan pembedaan tersebut.

Beliau mengatakan:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ، فَحَرَامٌ بِالْاِتِّفَاقِ، مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ فَيَقُوْلُ: عِيْدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ أَوْ تَهَنَّأْ بِهَذَا الْعِيْدِ وَنَحْوِهِ. فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ، فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ . وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.

“Adapun mengucapkan ‘selamat’ terkait syiar-syiar kekufuran khas non-muslim, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat terkait hari raya dan puasa mereka
semisal ucapan, ‘Hari raya nan berkah!’, ‘Selamat berbahagia di hari raya ini!’, atau semisalnya.
Muslim yang mengucapkan ini meskipun tidak menjadi kafir dengannya, tetapi telah melakukan perbuatan haram.
Ucapan selamat seperti ini sama seperti memberinya selamat atas sujudnya ia kepada salib, bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih Dia murkai daripada menyelamati seseorang atas minum minuman keras, membunuh, berzina, dan semisalnya.”

[Ahkam Ahlidz Dzimmah (I/441)]

Wallahu a’lam.

* PCIM Arab Saudi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke Santricendekia.com melalui email: tholebinibrahim@gmail (Ilham Ibrahim)

Add comment

Tinggalkan komentar