Santri Cendekia

Benarkah Urutan Nabi yang Selama ini Kita Hafal? (Bagian I: Nabi Adam – Nabi Shaleh)

Idealnya seorang anak harus mengenal siapa bapaknya, maka seorang muslim haruslah ia mengenal siapa Tuhannya. Yaitu, Dzat Maha Agung yang sekarang tidak terjangkau oleh indra manusia, namun tidak membuat kemustahilan untuk mencintai dan beriman kepadaNya. Inilah jasa terbesar para nabi-nabi. yaitu, mengadirkan Dzat yang tak kasat mata menjadi terpatri dalam diri manusia (راسخة في النفس). Jasa para nabi dalam membumikan firman Allah SWT dengan linguistic local yang mampu dicerna oleh umat inilah yang membuat kita akan terus terkenang dengan ghirahnya.

Sehubungan dengan upaya dan impresi para Nabi di bumi Allah ini, seorang pakar astronomi dan fisika di Amerika, yaitu Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” telah menempatkan salah satu Nabi Allah yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai orang pertama yang berpengaruh di dunia. Baginya, Muhammad telah berhasil menjadi sumbu pergerakan Islam dengan memanifestasikan kombinasi pas antara duniawi dan agama dalam dirinya.[1] Untuk itu, mengenal para Nabi menjadi bagian penting dalam keilmuan sivilisasi Islam yang harus kita ketahui. Disamping sosok mulia sang penyempurna akhlak yaitu Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa sosok leluhurnya yang telah lebih dahulu berdiaspora menyebarkan keislaman di muka bumi, yaitu para Nabi sebelum Muhammad SAW. Inilah yang menjadi bahasan inti dalam tulisan singkat yang mengambil sumber utama dari Tafsir al-Munir oleh Wahbah az-Zuhaili.

Mari kita simak penafsiran beliau berikut ini:

Mengenai silsilah garis suci para nabi di pentas bumi ini, telah dijelaskan dalam  al-Qur’an QS. Maryam ayat 58 sebagaimana firman Allah berikut ini:

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu dari golongan para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya’qub), dan dari orang yang telah kami beri petunjuk dan telah kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.”

Menurut Prof, Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang cendikiawan muslim Suriah yang menghabiskan separuh lebih hidupnya dalam keilmuan Islam, baik dibidang fiqh maupun tafsir dalam kitabnya yang berjudul at-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syar’iah wa Manhaj, beliau dalam ayat tersebut menyatakan bahwa Allah telah menganugerahkan gelar kenabian, pada hamba pilihanNya, beserta kebaikan dan petunjukNya. Lebih lanjut beliau mengutip berdasarkan pendapat Ibn Katsir yang menjelaskan bahwa gelar kenabian, petunjuk, dan kebaikan dari Allah ditujukan untuk seluruh nabi, tak terkecuali yang belum disebutkan dalam QS. Maryam ayat 58 tersebut, atau nabi-nabi yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an (QS. An-Nisa :164).

Pada lafadz (مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ) dalam QS. Maryam ayat 58 mengisyaratkan bahwa Nabi Adam merupakan Nabi pertama bagi nabi yang lahir setelahnya, sekaligus bergelar sebagai bapak pertama manusia (ابو البشر), sehingga tidak perlu kita jelaskan lebih lanjut mengenai garis luhurnya karna beliau adalah yang pertama.

Adapun mengenai penciptaan manusia sendiri pun, para mufassir telah membagi menjadi tiga bagian khusus, yaitu penciptaan Nabi Adam, penciptaan Nabi Isa, dan penciptaan manusia secara umum. Mengenai penciptaan Nabi Adam ada kekhususan tersendiri, mengingat beliau adalah manusia pertama.

Baca juga:  Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir'aun

Beliau, oleh Allah SWT telah menguraikan penciptaannya dalam QS. al-Hijr ayat 26, yaitu berawal dari tanah liat kering (مِن صَلْصَالٍ) lalu kemudian dari tanah liat basah yang berwarna hitam karna bercampur air yang berubah baunya (مِنْ حَمَاءٍ مَسْنُوْنٍ). Selanjutnya, untuk lafadz al-Basyar sendiri, diartikan sebagai sesuatu yang memiliki basyrah yaitu kulit bagian luar yang terlihat. Oleh sebab manusia memiliki itu, maka disebut dengan sebutan basyar (بشر).

Selanjutnya, dialog Allah dengan malaikat yang tertuang dalam QS. al-Baqarah ayat 30 yang diawali dengan kehendak Allah SWT untuk menciptakan khalifah di dataran bumi kelak, telah berhasil menimbulkan berbagai jejak argumen mengenai siapakah khalifah yang dimaksud Allah ini. Wahbah az-Zuhaili membagi pendapat berdasarkan kajian para mufassir lain menjadi dua, yakni Adam dan anak cucu Adam. Kedua pendapat tersebut di angkat berdasarkan dialog malaikat yang menjawab pernyataan Allah ketika Ia hendak menciptakan khalifah di bumi dengan lafadz beirkut:

       …قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ …

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”

Ayat tersebut menimbulkan berbagai asumsi mengenai siapa khalifah yang dimaksud oleh Allah SWT. Para ulama yang menolak Adam sebagai khalifah menggeser makna ayat tersebut menjadi lebih luas, yaitu jenis manusia. Maksudnya adalah bahwa manusia lah yang akan berbuat kerusakan. Atau bisa jadi para malaikat memahami kata khalifah sebagai makna orang yang memutuskan sengketa ketika tengah berbuat kerusakan atau maksiat, sehingga bisa dipastikan bahwa khalifah juga nantinya akan berpotensi melakukan kerusakan yang sama. Selain itu, beliau mendasarkan pendapatnya sesuai dalam kitab al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari dan Tafsir at-Tabari bahwa sanggahan malaikat tersebut bukan didasari atas nafsu malaikat untuk membantah, tetapi karna malaikat mengetahui bahwa hanya merekalah yang ma’sum dan makhluk selain mereka tidak memiliki kema’suman yang sama yang secara otomatis bisa saja tergerak untuk melakukan kerusakan.

Wahba az-Zuhaili tidak mempermasalahkan apakah Adam atau jenis manusia yang dimaksud dengan istilah khalifah ini. Hanya saja, khalifah adalah kata dengan derivasi makna yang sangat luas, dalam kamus al-Munawwir bisa diartikan sebagai seorang yang melerai sengketa yang mana merupakan salah satu tugas dari seorang khalifah (الخَلِيْفَة), atau masalah yang dipertentangkan (الخِلَافِيَة), atau umat pengganti (الخَالِفَة) dan berbagai makna lainya. Khalifah yang dimaksud Allah inilah yang nantinya akan terbebani taklif dari Allah SWT. Oleh karna adanya taklif tersebut, perlu adanya perantara yang menjelaskan dan membimbing manusia untuk mempraktikkan ke-taklifan-nya, itulah fungsi diutusnya para nabi ditengah poros umat manusia ini.

Beralih pada nabi selanjutnya, ialah Nabi Idris yang disebut sebagai keturunan nabi pertama dalam al-Qur’an setelah Nabi Adam dan Syits bin Adam yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an. Nabi Idris merupakan seorang hamba pilihan Allah yang diutus untuk kaumnya. Disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu QS. Maryam ayat 56 karena keengganan kaumnya-lah, Allah SWT kemudian mengangkat beliau dengan martabat yang tinggi yaitu kenabian dan didekatkannya dirinya dengan Allah SWT (وَرَفَعْنه مَكَانًا عَلِيًّا). Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Nabi Idris diangkat ke ketinggian surga, atau diangkat ke langit keempat, langit dimana Nabi Muhammad SAW bertemu dengan beliau saat melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj.

Baca juga:  [Jurnal] Nalar Fikih Baru Muhammadiyah: Membangun Paradigma Hukum Islam yang Holistik

Selanjutnya, penempatan Nabi Idris sebagai nabi yang terdekat dengan Adam melahirkan beberapa silang pendapat juga. Sebagian ulama menilai bahwa nabi kedua adalah Nuh, dikarenakan dari beliau-lah lahir berbagai keturunan nabi-nabi termasuk keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi bapak para nabi dan rasul. Sejalan dengan penafsiraan Wahbah az-Zuhaili, pendapat lain diungkapkan oleh Dr. Yunahar Ilyas (Allahu yarham), beliau menegaskan bahwa dalam ayat tersebut tidak disebutkan Idris sebagai keturunan Nabi Nuh, karna Idris merupakan kakek dari Nabi Nuh.[2]

Selanjutnya, lafadz (وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ) dimaksudnkan bahwa Allah SWT mengangkat orang-orang dalam bahtera besar Nabi Nuh untuk diselamatkan. Inilah sebab bahwa Nabi Nuh disebut sebagai bapak kedua manusia karna darinya akan lahir peradaban baru setelah semuanya dilibas habis oleh musibah air bah (في موج كالجبال) yang diawali oleh tannuur (permukaan bumi yang menjadi mata air). Mengenai musibah ini, para ulama terbagi menjadi dua pendapat lagi, pertama yang menyatakan bahwa air bah menenggelamkan seluruh permukaan bumi kecuali yang dibawa dalam kapal Nabi Nuh, kedua para ulama berpendapat bahwa air bah hanya terjadi pada wilayah Nabi Nuh, yaitu timur tengah dan sekitarnya.

Disamping itu, perlu kita ketahui lebih dulu, bahwa Nabi Nuh memiliki garis silsilah sebagai berikut, beliau adalah Lamik bin Mutawasylikh bin Akhnukh (Idris) bin Yarid bin Mahlail bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam. Beliau adalah rasul pertama yang menyebarkan syari’at Allah tentang larangan menikahi anak perempuan, saudara perempuan, bibi dari jalur ayah dan dari jalur ibu pada kaumnya.

Wahbah az-Zuhaili juga menjelaskan bahwa dalam bahtera Nabi Nuh kelak akan menjadi cikal bakal lahirnya umat-umat di muka bumi. Beliau mendasarkan pada pendapar Abdullah bin Abbas yang mengatakan bahwa ketiga anak Nabi Nuh, yakni Sam, Ham, dan Yafits, kelak akan melahirkan kesukuan manusia di muka bumi ini. Sam adalah bapak bangsa Arab, Persia, dan Rumawi, lalu Ham adalah bapak dari bangsa kulit hitam, dan Yafits adalah bapak dari bangsa Turki. Selain itu, Az-Zuhri menambahkan bahwa orang-orag Arab, Parsi, Rumawi, Syam, dan Yaman adalah anak keturunana Sam bin Nuh. Sedangkan Sand, India, orang negro, afrika, Zuth, Noubah, dan semua bangsa kulit hitam adalah anak dari Ham bin Nuh. Kemudian Turki, barbar, Negara China, Ya’juj Ma’juj, Sicilia, semua dari keturunana Yafits bin Nuh.

Beralih pada kisah nabi setelah Nabi Nuh, yaitu Nabi Hud. Dalam penafsirannya dengan menilik QS. al-A’raf ayat 65 disebutkan bahwa beliau adalah Nabi yang terlahir dari keturunan Sam bin Nuh dan merupakan nabi pertama yang berbicara dalam bahasa arab. Beliau diamanahi Allah untuk berdakwah dan memberi taklif (berupa istighfar dan bertaubat) pada kaum nya, yaitu ‘Ad. Suatu kaum dari kabilah Arab (al-Arab al-‘Aribah) yang dahulu berdomisili di daerah Yaman, Ahqaf dan utara Hadramaut. Kaum ini diambil dari nama ‘Ad bin Aush, yaitu generasi ke enam sebelum Hud.[3] Kaum ‘Ad telah berbuat kerusakan dengan menyembah berhala seperti Shada’, Shamud, dan al-Hatar. Selain itu. ada pula yang menyebut berhala berdasar seperti dalam QS. Nuh ayat 23 yaitu, Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr (وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا) . Akibat kesombongan akan kelebihan yang Allah berikan bagi mereka, yaitu berupa kekuatan fisik dan kemampuan membuat berbagai bangunan sesuai yang telah dijelaskan Allah dalam QS. al-Fajr ayat 6-8 (إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7) الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ) serta kekafiran mereka inilah, Allah menghukumnya dengan angin dingin yang semula mereka kira sebagai awan hujan.

Baca juga:  Konsep Mitigasi Bencana dalam Kisah Nabi Yusuf as

Kemudian, Wahbah az-Zuhaili, menjelaskan Nabi Shaleh sebagai nabi yang melanjutkan tugas Nabi Hud. Beliau adalah rasul kedua dari dari bangsa Arab, yang diutus Allah untuk kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah kaum kedua setelah ‘Ad yang mendiami di kawasan al-Hijr, daerah antara Hijaaz dan Syam.

Sebagaimana dengan kisah kaum ‘Ad, kaum Tsamud berkilah dengan keingkaran mereka terhadap dakwah Nabi Shalih. Mereka meminta bukti khusus berupa keluarnya unta betina dari balik sebuah batu yang mereka tunjuk. Setelah mukjizat itu diperlihatkan Allah SWT, Nabi Shalih berpesan untuk melarang kaumnya membunuh unta itu. Bila tiidak, maka akan muncul adzab dalam kurun waktu tiga hari bagi kaum Tsamud. Ternyata mereka hanya menganggap larangan tersebut  sebagai isapan jempol belaka. Terlebih setelah salah satu kaum Tsamud yang bernama Qaddar bin Salif benar-benar membunuh unta tersebut. Dan benarlah, setelah tiga hari mereka bersenda gurau, berdasarkan QS. Hud ayat 66 Allah kirimkan petir pada hari yang penuh kesialan bagi mereka (وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ). Lalu Allah menyelamatkan Nabi Shaleh dan kaum mukminya yang berjumlah kurang lebih 4000 jiwa dari bencana hina pada hari itu (نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ)

Inilah beberapa ringkasan kisah para nabi dan rasul yang diabadikan dalam al-Qur’an berdasarkan penafsiran tematis dari Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili yang berjudul Tafsir al-Munir. Tidak mudah menjadi seorang waliyullah untuk menginternalisasikan firman Allah SWT secara mendalam (الراسخ) pada diri manusia. Kita terkadang hanya terlena dengan kenyamanan surga yang dijanjikanNya pada nabi dan rasul, bila tidak melihat betapa terjalnya perjuangan mereka. Oleh karna itu, Allah SWT memilih para hambaNya dengan mentalitas luar biasa untuk menanggung beban besar membawa pesan Tuhan. Semoga dikesempatan berikutnya, kami bisa memaparkan kembali penafsiran Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili terhadap nabi-nabi setelah Nabi Shaleh.

waallahu a’lam…

Sumber:

Al-Qur’an al-Karim

Michael H. Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Noura Books Publishing: Jakarta. 2012.

Prof, Dr. Wahbah as-Zuhaili, Tafsir al-Munir Aqidah-Syari’ah-Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk. Gema Insani Press: Jakarta. 2013.

Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syar’iah wa Manhaj, Damaskus: Dar al-Fikr, 2009.

Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA. Kisah Para Rasul Tafsir al-Qur’an Tematis, Suara Muhammadiyah: Yogyakarta, 2006.

Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, Pustaka Progressif: Surabaya, 1997.

[1]  Michael H. Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Noura Books Publishing: Jakarta. 2012.  Hlm. 12.

[2] Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA. Kisah Para Rasul Tafsir al-Qur’an Tematis, Suara Muhammadiyah: Yogyakarta, 2006. Hlm. 24.

[3] Ibid. Hlm. 54.

Aisyah Rosyidah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Muallimat Yogyakarta

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: