Santri Cendekia

Mencari Keberagamaan yang Autentik

mari kita jadikan agama sebagai sumber keamanan, kedamaian dan kemakmuran, bukan malah menjadi sumber kekacauan, perpecahan dan peperangan

Oleh. Rahmat Rusma Pratama*

Dinamika zaman yang begitu luar biasa bergejolak. Umat Islam telah dihadapkan dengan situasi dan kondisi,  yang menjadikan umat Islam se-antero dunia berada pada posisi tatanan perubahan sosial yang kian tidak jelas arahnya kemana.

Apalagi umat Islam yang ada di timur tengah, bagaimana gejolak perpecahan, peperangan, dehumanisasi, egoisme golongan dan lain sebagainya. yang membuat kawasan timur tengah menjadi tertinggal dari pusaran peradaban kemanusiaan.

Padahal, di kawasan timur tengah adalah kawasan yang mulia pada zamannya. Di mana para Rasul dan Nabi telah diturunkan untuk menyebarkan pesan-pesan Allah swt. Tetapi, mengapa? kawasan tersebut terus terjadi gejolak-gejolak yang tidak mencerminkan bahwa, di sana sempat diturunkan para Rasul dan Nabi sebagai satu representasi untuk manusia.

Walaupun, para Rasul dan Nabi diturunkan di wilayah tersebut, tidak menjamin orang di sekitarnya ikut dengan ajaran dan pesan Nabi. Kecuali dengan hidayah yang Allah berikan kepada hamba tersebut. Misalnya saja, paman Rasulullah, Abdul Muthalib yang telah membantu dakwah Nabi Muhammad.  Sampai akhir hayatnya tidak mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandakan bahwa Abdul Muthalib tidak beragama Islam.

Bagaimana dengan kita yang hidup jauh setelah Rasulullah SAW? ini menjadi tanda tanya besar bagi ummatnya, yang sudah berada pada masa akhir zaman. Apakah sudah benar dan sesuai cara beragama kita dengan cara beragama Rasulullah secara autentik atau belum?

Pelajaran dari Perang Shiffin

Satu contoh, untuk kita renungkan bersama, bahwa dalam bingkai sejarah, ada satu fase umat Islam setelah di tinggal wafat oleh Rasulullah SAW, pada tahun 632 Masehi.

Sekitar 25 tahun kemudian, umat Islam berada pada situasi yang gawat darurat dalam bingkai keislaman dan kemanusiaan, yaitu ketika terjadinya Perang Shiffin (657-658 M). Peperangan yang dilakukan oleh sesama sahabat Rasulullah.

Baca juga:  Tentang Berita yang Viral dan Teori Mutawatir

Perang tersebut, di awali dengan terbakarnya sumbu fitnah yang tertuju kepada sahabat Nabi SAW, yakni Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai Khalifah Keempat. Yang kemudian, dianggap tidak mampu menyusut tuntas dan menyelesaikan masalah kematian Khalifah Usman bin Affan.

Sementara di sisi lain ada Muawiyah sebagai Gubernur Syam, yang ingin segera ada hukuman (Qisas) kepada pembunuh Khalifah Usman Bin Affan. Tetapi, Ali bin Abi Thalib menahan hukuman itu, karena Ali melihat ada maslahat yang harus didahulukan yaitu mencegah jatuhnya korban sesama muslim.

Dari sikap tersebut, yaitu menunggu ummat bersatu dulu, baru kemudian memutuskan perkara terhadap pembunuh Usman. Karena Ali khawatir, umat Islam akan berkecamuk, karena dalam situasi kecurigaan yang tinggi sesama muslim.

Dari peristiwa inilah, umat Islam terbagi dalam dua kelompok besar yaitu Golongan Ali selaku Khalifah pengganti Usman dan Golongan Muawiyah selaku Gubernur Syam, saling berperang untuk mencari kebenaran. Bukan berniat membunuh satu sama lain.

Dari kisah singkat di atas penulis hanya merefleksikan, bahwa cikal bakal terbentuknya sekte-sekte dalam Islam ada Sunni, Syiah, Khawarij, Muktazilah dll, itu berangkat dan berawal dari peristiwa tersebut di atas.

Pada intinya, Rasulullah tidak pernah mengajarkan kepada sahabat dan umatnya untuk saling memfitnah satu-sama lain, tidak pernah mengajarkan kekacauan, perpecahan, apalagi saling membunuh satu sama lain inilah yang disebut (Islam Autentik) wallahu a’lam.

Melawan Kebiadaban dengan Kearifan

Salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus ke permukaan bumi adalah menjadi Rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam). Sebagaimana yang termaktub dalam Quran.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.S al-Anbiya’ [21]:107)

Islam sebagai agama yang memiliki konsep rahmatan lil alamin, sudah menjadi barang tentu untuk kemudian terjalinnya persaudaraan dan kasih sayang sesama manusia. Begitu juga pada lingkungan sekitar, ada tumbuh-tumbuhan, hewan dan alam sekitar yang juga adalah bagian dari makhluk Allah SWT.

Baca juga:  Tiga Problem Agama di Masa Pandemi

Namun yang menjadi persoalan umat Islam tiga dekade terakhir ini. Sebagian kelompok yang mengatas namakan Agama Islam, telah mendistorsi Islam dengan melakukan tindakan Radikal Terorisme. Meneror dan merusak tatanan kemanusiaan, yang jelas-jelas Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian (dehumanisasi).

“Apakah radikalisme agama akan efektif untuk mencapai suatu tujuan mulia? sepanjang    pengetahuan saya, radikalisme pada umumnya berakhir dengan malapetaka dan bunuh  diri, sebab prinsip kearifan dan lapang dada yang di ajarkan agama tidak lagi dihiraukan     dalam mengatur langkah. Sejarah pejuangan para Rasul yang pahit dan getir, tetapi ditempah dengan penuh ketabahan, seharusnya menginsafkan kita bahwa cara-cara radikal-emosional untuk mencapai tujuan tidak akan membawa kita kemana-mana,  kecuali pada kegagalan dan kekalahan.” (Ahmad Syafii Maarif, 2019:30)

Berikut ada sebuah ayat, melukiskan tentang Nabi Nuh yang mengeluh dengan umatnya yang sulit untuk diajak kejalan kebenaran.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Q.S Nuh [71]:26-27)

Namun, doa Nabi Nuh tidak dikabulkan oleh Allah swt. mengapa? inilah sebuah teka-teki besar yang sengaja Allah merahasiakannya dalam sejarah agama. Boleh jadi Allah memiliki jawaban tersendiri untuk hambanya, membiarkan kejahatan tetap bertengger di muka bumi.

Melihat fenomena tersebut, menunjukan bahwa Allah menginginkan para Nabi dan Rasul-Nya agar tetap berdakwah dengan cara arif dan bijaksana. Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan memang perjuangan tanpa henti, sampai kemudian dunia ini runtuh seruntuh-runtuhnya. Oleh karena itu, “diperlukan stamina spiritual yang prima, bukan mentalitas nekat dan sempit pandangan.” (Ahmad Syafii Maarif, 2019)

Baca juga:  Di Kavling Masing - Masing

Beragama Dengan Tulus

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ketulusan berasal dari kata tulus yang berarti sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); tidak berpura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas. Ketulusan juga berarti kebersihan hati dan kejujuran.

Menurut al-Quran, para Nabi dan Rasul beragama secara tulus ikhlas, bebas dari penyakit hati, berpura-pura, dan segala penyakit yang membuat bangunan fitrah manusia runtuh. Begitu pula pemeluk agama yang lain, tuhan telah memerintahkan agar berhati tulus dalam memahami dan mengaplikasikan agama masing-masing.

Dengan menguatkan konstruksi paradigma beragama semacam ini. Nampaknya penulis melihat ada mata air peradaban yang telah lama tercerabut dari akar kehidupan umat Islam dan dalam bingkai keindonesiaan.

Oleh karena itu, mari kita jadikan agama sebagai sumber keamanan, kedamaian dan kemakmuran, bukan malah menjadi sumber kekacauan, perpecahan dan peperangan. Penulis merasa, bahwa ini adalah salah satu proses dan langkah untuk meraih cara beragama dan bermanusia secara autentik, yang berlandaskan al-Quran dan Sunnah al-Makbulah.

 *Mahasiswa FAI UM Surakarta dan Kader IMM Cab. Sukoharjo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: