Santri Cendekia
Home » Berhati-hati Memilih Makanan

Berhati-hati Memilih Makanan

Sebagai seorang muslim, kita tentu terikat dengan segala aturan yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita. Namun meski berupa “ikatan” ia tidak memberikan kita beban yang berat atau menyusahkan, justru sebaliknya, Islam telah memberikan kita petunjuk untuk hidup dengan baik, meninggal dengan baik dan dibangkitkan kelak di akhirat dengan baik. Singkatnya, untuk kebahagiaan kita dunia dan akhirat.
Salah satu tuntunan utama dari agama kita ini adalah mengenai urusan perut, alias urusan makan. Ada dua persyaratan utama bagi makanan yang layak telan bagi setiap muslim : Halal dan thayyib. Allah Yang Maha Pengasih memberi kita tuntunan :
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ [٥:٨٨]
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.  (al-Maidah : 88)
Halal adalah segala sesuatu yang tidak ada larangan memakannya di dalam nas-nas al-Qur’an atau Sunnah. Thayyib, secara bahasa berarti baik, artinya hendaknya kita makan makanan yang baik bagi diri, bagi kesehatan. Daging kambing misalnya,  jelas tidak thayyib bagi mereka yang menderita hipertensi.
Memilih makanan yang halal dan baik ini bukan perkara remeh,  pada ayat  di atas ia bahkan disejajarkan dengan takwa. Takwa sendiri adalah sikap ekstra hati-hati agar tidak terperosok kedalam perkara yang membuat Allah murka. Jika memilih makanan termasuk kedalam lelaku takwa, maka dalam memilih makanan pun tentu harus berhati-hati. Sebenarnya makanan yang jelas haram di dalam al-Qur’an tidak banyak, bahkan sangat-sangat sedikit jika dibandingak dengan jumlah makanan yang mungkin kita temukan di muka bumi ini.
Jika disimpulkan dari beberapa ayat, maka makanan yang jelas haram hanya ; 1) bangkai 2) darah 3) babi 4) binatang yang disembelih selain menyebut nama Allah, atau untuk berhala/upacara ritus agama lain atau ritual bid’ah 5)hamer atau minuman/zat-zat yang memabukkan. Namun demikian, perkembangan teknologi dan pertukaran budaya yang demikian pesat menyebabkan kelima kategori di atas beranak pinak dan menjadi problematis. Salah satu yang akan kita bahas kali ini adalah makanan Fast Food, atau junk food,terutama yang berbahan daging sapi seperti Ham Burger dan kawan-kawannya.
Mungkin jika masuk ke restoran-restoran cepat saji, kita sudah merasa tentram karena adanya label halal pada makanan-makanan tersebut, tanpa pikir panjang pun kita lalu melahapnya. Saya tidak bermaksud meragukan labeling halal MUI, tapi pada posting kali ini saya Cuma mau berbagi info seputar “kebusukan” perusahaan makanan-makanan cepat saji ini. Info ini pun bukan fitnah, tapi dari sebuah buku yang oleh pe-review di Amazon.com diakui sangat “based on well research”. Buku tersebut berjudul   “FastFood Nation: The Dark Side of the All-American Meal” ditulis oleh Eric Schlosser.  
Oke, mari mengurai sedikit fakta yang dibeberkan oleh admin Greed for Ilm berdasarkan bukunya Schlosser ini (penjelasan audionya bisa didengar di sini _bahasa inggris_):
1.         Agar sapi-sapi di “pabrik daging” mereka gemuk, maka sapi-sapi malang itu disuntik hormon secara terus menerus. Efeknya sapi-sapi itu menjadi tambun gemuk walaupun masih sangat muda secara umur. Ini masih oke, walaupun sudah tidak berperike-hewanan. Tapi saya mulai bertanya-tanya apakah ada hubungan antara anak-anak pemakan fast food  yang begitu cepat tumbuh besar meski scara umur masih muda?
2.         Karena kebanyakan diberi hormon, para sapi pun menjadi sakit-sakitan. Solusinya, mereka lalu disuntik antibodi/obat-obatan sebanyak-banyaknya. Ibarat sayur-mayur yang kelangsungan hidupnya ditopang pestisida, tentu sapi-sapi ini pun menjadi tidak begitu sehat lagi dagingnya. Apakah sampai disini anda masih beraqidah  “oke no problemo sing penting deliciouso??” tunggu fakta berikutnya.
3.         Rerumput segar tentu tidak gratis adanya, gratispun, butuh biaya untuk menyediakannya. Untuk penghematan biaya produksi, perusahaan-perusahaan jahat itu menempuh jalan yang sangat tidak berperike-sapi-an ; sapi-sapi itu dipaksa memakan sampah, koran-koran bekas, dan tedeeengngngng….. BANGKAI ANJING DAN KUCING! Bukan sembarang anjing-kucing, tapi menurut penelusuran  Schlosser anjing and kucing yang tewas karena sakit atau terlantar. Sapi malang melahap jasad anjing dan kucing malang, tragis!
4.         Tidak sampai disitu saja penderitaan para sapi. Karena perusahaan hendak berhemat, maka tenaga kerja yang dipakai pun adalah jenis murahan. Para buruh berstatus imigran (entah gelap atau legal) dari Mexico dan sejenisnya. Mereka berpendidikan rendah dan diberi tugas untuk membantai sapi-sapi itu seefektfi mungkin.
5.         Dan lain-lain…. silakan beli bukunya di amazon.com atau dengarkan audiobooknya, atau ringkasan beberapa faktanya di greedforilm.com
Dari fakta-fakta di atas, maka status daging-daging lembut yang menjadi lapis ternikman buntalan Ham Burger pun menjadi dipertanyakan. Saya sendiri belum tahu apa standar label halal MUI untuk produk-produk sejenis ini. Namun jika standarnya hanya prosedur penyembelihan, maka ia hanya memenuhi status halal saja. Itu pun Cuma halal secara fikih dengan penafsiran yang paling sempit (disembelihnya udah pake bacaan Islam kok). Melihat perlakuan kepada para sapi selama masih hidup, jelas kethayyiban daging mereka menjadi benar-benar menghawatirkan.  Akhirnya, andalah yang menentukan, apakah masih tetap percaya diri memakan semua yang bisa dimakan atau mulai berhati-hati. Jelas, sikap hati-hati jauh lebih selamat. Mari kita renungkan pesan Sang Kekasih Yang Dikasihi Allah :
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ   [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Baca juga:  Kritik Terhadap Struktur Hierarki Mujtahid (Bagian 2)

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar