Santri Cendekia
Home » Beriman di Zona Nyaman

Beriman di Zona Nyaman

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salah satu nasehat populer yang tidak terlalu disukai La Huddu adalah ajakan untuk meninggalkan zona nyaman, comfort zone dan mencari zona baru. Zona yang tidak jelas lima W satu H-nya. Itu sama saja dengan ajakan untuk meninggalkan kasur yang lembut dengan selimut hangat pada sebuah Ahad pagi yang diguyur hujan deras dipeluk dingin Kaliurang hanya untuk mencari kasur lainnya di puncak Merapi. Sejak kapan ada kasur di puncak Merapi? Memang tidak pernah ada. Itulah sebabnya pencarian itu sama saja dengan bunuh diri. La Huddu menyebut ajakan seperti itu sebagai…
“Ini semua adalah dakwah sesat Yub!”
Baiklah, baiklah. Kau sepertinya tidak suka mengizinkan aku membuat narasi lebih panjang lagi, kawan. Tapi tunggu dulu, sesat? Jangan gampang menyesatkan orang lain L!
“Sesat! Memang sesat! Ajakan untuk seperti itu tidak lain adalah konspirasi Illuminati untuk membuat semua orang meninggalkan comfort zone menuju kampret zone!”
Aku suka istilahmu itu, kawan. Tapi apa hubungannya dengan judul tulisan ini. Bukankah ajakan untuk meninggalkan zona nyaman itu biasanya milik para motivator? Apa urusan mereka dengan agama, dengan iman. Dan lagi, saya tidak siap menghabiskan energi untuk debat-debat teologis dengan orang-orang yang bahkan tidak kau undang di forum ini. Aku tidak punya saham intelektual, miskin modal moral untuk berbicara terlalu banyak soal agama.
“Oh jadi kau ingin mengundang mereka? Apa kau pikir bilik otakmu yang berantakan ini pantas untuk menjamu tamu? Lagipula aku tidak akan sudi berhimpitan di bilik sempit ini”
Baiklah, oke, olraigh. Kau ini memang tukang mengeluh, L. Kau tahu? Menurut para ahli Otak lelaki itu 80% digunakan untuk memikirkan sex. Sisanya untuk hal-hal remeh seperti komik, film, anime. Jadi jangan salahkan aku jika ruangan yang kuberikan kepadamu hanya segitu. Jika kau mau ruangan lengang, kembalilah ke semesta alternatifmu dan jangan ganggu aku lagi.  Lagi pula, kau belum menjawab apa hubungan zona nyaman dengan  bahasan agama ini. Kecuali tentang ini, aku tidak akan mengetik keluhanmu lagi. Deal?
“Okai.. okai… deal”
Bagus.
“Yub, sebenarnya ini bukan hanya tentang aku. Mungkin ini adalah masalah kita bersama, juga orang-orang lain di luar sana. Bukankah kau juga tidak terlalu suka diganggu di zona nyamanmu?”
Kadang-kadang. Tapi tergantung juga zona nyaman di wilayah apa yang mereka ganggu. Sebab terkadang kemalasan menyaru menjadi zona nyaman. Menjadi lem berdaya lekat super kuat membutmu enggan meninggalkan kasur zona nyaman. Jika ada yang memaksaku bangkit dari kasur itu, membantuku melepas lem kurang ajar itu, malah kadang aku berterima kasih kepada mereka. Tapi ada pula wilayah yang tidak kusuka jika diusik-usik. Apalagi jika yang mengusik itu hanya manusia usil yang tidak punya tempat alternatif.
“Seperti apa? Siapa tahu kasus kita sama”
Misalnya aku sudah merasa cukup nyaman menjadi lelaki. Aku akan sangat marah jika ada seseorang yang mengajaku meninggalkan zona nyaman ini dan berlabuh ke …
“CUKUP! Menjikikan! Aku sama sekali tidak sepikiran denganmu! Cih!”
Hahahah… Ya gimana lagi, L. Kau yang menyuruhku berpikir macam-macam. Just kidding kok. Salah satu area yang paling menjengkelkan jika ada yang mengganggunya adalah area iman. Iya, saya mulai paham mengapa kau memintaku menulis tentang beriman di zona nyaman malam ini, La Huddu. Tapi memangnya ada yang mengganggumu di area itu?


“Yeah! Dan seperti yang kau bilang, gangguan yang paling menjengkelkan adalah bila ia datang dari mereka yang juga sebenarnya tidak punya alternatif. Hanya sekumpulan orang galau yang mencari sekutu. Kau pasti sering melihat mereka kan, L? Orang-orang bingung yang merasa keren sebab sedang mencari kebenaran tapi anehnya yang mereka kerjakan hanya dekonstruksi kebenaran yang ditawarkan orang di tengah jalan”
Betul sekali. Dan lebih anehnya lagi, mereka terkadang punya prinsip kebenaran dengan “k” besar tidak akan pernah ada, yang ada hanya kebenaran dengan “k” kecil. Jika kau sudah tahu tidak ada kebenaran, untuk apa repot-repot mencarinya? Jika kau merasa luar biasa jika menghabiskan umur untuk mencari kebenaran yang kau tahu tidak ada itu, maka good luck, silakan dan jangan ganggu aku di zona nyaman ini. Kita hidup Cuma sekali, sayang sekali jika hanya dihabiskan mencari kebenaran. Padahal sudah ada banyak sekali kebenaran yang ditawarkan. Mengapa tidak mengambil salah satunya saja dan nikmati sisa umur ini?
“Sepertinya kita mulai sepakat ya Yub”
Aku padamu deh, L. Hehe..Tapi L, bagaimana jika ada yang mengutukmu sebagai si pemalas yang hidupnya tidak bermakna. Mengikuti dengan buta apa kata orang lain. Tidak memutuskan jalannya sendiri.
“Ah, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya mereka yang betah bingung itulah yang malas. Mungkin di tataran abstrak seperti ini mereka terlihat seperti para pekerja keras yang giat menambang kebenaran dimana pun ia berada (yang sebenarnya mereka yakini tidak akan dicapai, absurd), tapi kadang cara mereka mengganggu kita di zona nyaman menujukan siapa yang pemalas”
Misalnya?
“Misalnya aksi mereka membuat kita meragukan otentisitas sistem agama yang kita jalankan kini. Tidak hanya sekali saya mendengarkan orang-orang yang menyatakan bahwa tidak ada lagi agama yang murni. Semua hanya tafsiran sarat kepentingan, tidak ada satu pun penafsir yang mendapaktan mandat dari para nabi…”
Wah! Ada yang berkata demikian, L? Hummm kedengarannya sih keren hehe. Benar-benar berpikir historis!
“Iya, tapi coba kau lanjutkan alur loginya. Jika kita membenarkan ucapan seperti itu begitu saja. Maka sebenarnya kita kini tidak sedang menjalankan suatu agama tertentu. Dalam kasus kita Islam. Dari sudut pandang itu, kita sebenarnya tidak memeluk agama Islam, kita adalah pemeluk agama baru bernama ‘tafsiran si anu atas Islam’ Ini kan sama saja dengan menuduh kita kafir Yub! Menuduh kita tidak lagi mengikuti Nabi Muhammad. Dan lebih jauh lagi, menuduing Nabi Muhammad bukanlah pembawa petunjuk terakhir bagi umat manusia hingga kiamat, sebab petunjuk itu akan hilang ketika beliau wafat dan yang tersisa hanya penafsiran atas petunjuk itu, dan bukan petunjuk itu sendiri”
Astagfirullah. Mengerikan man!
“Hehe, mungkin aku membawanya terlalu jauh Yub. Tapi kan bagi kita yang selalu merasa cukup beriman di zona nyaman tanpa banyak tanya-tanya yang tidak perlu ini, setiap pernyataan atas iman harus dipikirkan kemana arahnya. Sebuah kalimat sederhana bisa bermetamorfisis menjadi wacana raksasa. Jahat tidaknya raksasa itu tergantung dari pandangan-alam seperti apa kalimat tadi berasal”
I feel you, L. Tapi bukankah pernyataan seperti itu ada benarnya juga. Jika kita bicara tentang Islam misalnya, bukankah agama ini memang telah melalui perjalanan seribu tahun lebih dan telah melalui berjuta pintu tafsir. Buktinya ada banyak sekali aliran teologi, aliran hukum. Padahal kita tahu, Nabi Muhammad itu Cuma satu, dan praktiknya pun Cuma satu. Pernyataan semacam itu lahir dari mindset historis dan krits, L. Jangan-jangan justru kamu yang malas dan manja hahaha..
“Soal aku ini malas ya itu benar. Soal  manja pun tidak bisa dipungkir, sebab dulu memang pernah jadi fans berat grup vokal Manis Manja. Tapi simplifikasi seperti itu juga tidak kalah manjanya. Memang agama ini sudah sangat tua dan memang orang-orang berbeda pendapat di hampir setiap seginya. Tapi cobalah lakukan sedikit saja usaha sebelum jadi bingung dan membingungkan orang lain. Jika memang pada akhirnya agama ini hanya tinggal penafsirannya, untuk apa Allah menurunkannya dan apa maksudnya ia akan menjaga al-Qur’an. Jika Allah menjaga al-Qur’an tapi tidak membiarkan  seseorang pun memahaminya dengan sebenar-benarnya, apakah berarti Allah melakukan sesuatu yang tidak perlu? Nauzubillah… ”
“Perbedaan penafsiran atas titah Nabi bahkan wahyu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad dan beliau mengizinkannya. Tapi ada pula tempat-tempat dimana tidak dibiarkan ada penafsiran macam-macam. Ini artinya memang ada wilayah yang terbuka bagi beragam tafsir, tapi ada pula wilayah yang sudah pasti maknanya. Dan jika kau mau meninggalkan zona nyaman kebinguanmu untuk sedikit saja berusaha mencari tahu dari pada ulama, kau akan tahu bahwa pada wilayah aqidah, wilayah tauhid, tidak ada penafsiran yang macam-macam. Tapi pada wilayah hukum, muamalah, ulama memiliki banyak sekali tafsiran dan melahirkan mazhab-mazhab. Pada  zaman nabi, interpretasi beragam oleh para sahabat terhadap titah bersifat hukum itu dibolehkan Nabi. Hadis tentang perintah shalat ashar di pemukiman Bani Qirazah itu sudah sangat terkenal. Bolehnya ada interpretasi ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Tapi seklai lagi, pada masalah tauhid tidak ada tafsiran macam-macam atas “Qul Huwa Allahu Ahad”. Klaim membabi buta bahwa agama kita kini hanyalah tafsiran si anu atas Islam-nya Nabi Muhammad justru ahistoris”
Hahaha, calm down bro…. Tapi bukannya di wilayah aqidah pun ada banyak sekali aliran. Dari yang klasik hingga yang teranyar. Kau bilang Nabi itu berakhir di Muhammad? Oh tunggu dulu Ahmadiyah punya tafsirannya sendiri. Dan bagaiamana dengan perdebatan sengit Syiah-Sunni, Muktazilah dan Asy’ariyah dan buanyak lagi. Eh btw, aku suka istilahmu itu ; “betah di zona nyaman kebingungan” hehe. Jadi sebenarnya bukan Cuma kita yang betah di zona nyaman.
“Hehe, betul juga ya. Siapa tahu memang ada yang merasa nyaman dalam kegalauannya. Ohya, menurutku sih tidak semua aliran itu benar. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan menguji klaim-klaim mereka dengan alat ilmiyah yang tepat ; bahasa Arab dan seperangkat  ilmu lainnya yang telah disusun sedemikian rupa selama berabad-abad. Terlalu cepat untuk menyatakan siapa saja boleh menafsirkan Islam sesuka hatinya justru bentuk kemalasan. Lagi pula, aliran-aliran itu tetap saja punya poin kesepakatan, misalnya tentang keesaan Allah yang mutlak. Jika kita bilang agama Islam kini hanya penafsiran atas Islam-nya Muhammad, termasuk soal tauhid ini, lalu agama kita apa dong?”
Jadi kau tidak sepakat bahwa semua mazhab itu benar? Bukankah Imam Syafi’i sendiri bilang pendapatku benar tapi bisa saja salah pendapatnya anu salah tapi bisa jadi mengandung kebenaran. Imam-imam yang lain juga punya pernyataan mirip-mirip ini. Gimana pak, L?
“Hehe, aku sudah capek ah Yub. Intinya aku juga tidak punya modal cukup untuk diskusi beginian, tapi jika yang menggugat juga tidak punya alternatif hanya mengajak bingung itu juga cukup menjengkelkan. Tentang Imam Syafi’i itu, jelas sekali yang beliau maksud adalah pada ranah hukum, bukan aqidah. Jika Imam Syafi’i berkompormi seperti itu di bidang aqidah, untuk apa dia harus mengungsi  waktu pengausa Abbasiyah memaksakan aqidah batil mereka? Untuk apa Imam Ahmad dan Abu Hanifah rela dipenjara dan disiksa?”
Iya juga si. Mengutip juga tidak boleh ahistoris ya.
“Ho’oh.”
Ah sudah emapat halaman, L. Intinya mungkin semuanya kembali kepada pribadi masing-masing ya. Untuk orang lain, silakan saja jika merasa nyaman bingung tanpa mau menelaah lebih lanjut, monggo saja jika mau curiga kepada para ulama yang katanya sarat kepentingan. Tapi bagi kita, aku dan kamu Yub, sudah betah beragama beriman di zona nyaman dengan kepastian tertentu ini. Agama memang harus dirawat dengan penafsiran, seperti katanya om Ulil Abshar Abdallah, tapi….
“Eh Ulil itu pamanmu Yub?”
Halah! Diam L. Ini lagi keren-kerennya nutup malah diganggu.
“Hahaha.. maaf. Maaf. Tapi apa tadi?”
Tapi penafsiran itu tentulah ada ruang lingkup dan batas-batasnya. Batasan itu sudah ditunjukan oleh al-Qur’an dan sunnah sendiri. Al-Qur’an dipelihara Allah bukan sebagai artefak pajangan, kode rahasia yang tidak bisa dimengerti. Ia adalah petunujuk yang hidup dan menunggu mereka yang tidak malas untuk berusaha memahaminya.
“Sudah?”
Sudah…
“Jadi kini aku bisa memperluas tempatku di otakmu, heh?”
Tidak bisa, maaf!.
“Jadi memang benar kalau 80% otakmu itu gunanya hanya untuk memikirkan gituan?”
Itu kata para ahli. Aku bukan ahli otak dan tidak mau sembarangan ngomong tentang otak! Itulah masalah kebanyakan orang sekarang mereka tidak ahli tap………
“Sudah! Sudah! Sudah!”
Oke
Baca juga:  Tujuan Pendidikan Agama Islam dan Kebodohan Terbesar Menurut Imam Abu Hanifah
Avatar photo

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar