Santri Cendekia

Berkaca pada Keilmuan Imam asy-Syaukani: Motivasi untuk Para Penuntut Ilmu

Penulis: Ahmad Farhan Juliawansyah*

Pendahuluan

Fenomena pelajar dan mahasiswa saat ini dalam ber-thalabul ilmi (menuntut ilmu) pada beberapa instansi (lembaga) pendidikan tidak lagi murni untuk mencapai derajat a’lim (orang yang berpengetahuan). Banyak di antara mereka  hanya ingin mendapatkan ijazah formal belaka tanpa memperhatikan sejauh mana perkembangan dalam proses Pendidikan tersebut. Hal ini ditandai dengan beberapa perilaku yang ditonjolkan, seperti datang ke sekolah hanya ingin setor muka saja untuk memenuhi absensi sebagai bukti kehadiran, ketika masuk kelas fokus dengan aktifitasnya untuk mengabaikan perhatian terhadap gurunya, atau pergi ke sekolah cuma biar dapat uang jajan untuk digunakan nongkrong-nongkrong, dsb.

Begitu mirisnya melihat fenomena yang terjadi di kalangan anak muda yang seharusnya memanfaatkan waktu mudanya sebaik mungkin untuk menyiapkan bekal dalam menyongsong kehidupan di masa yang akan datang. Ya, karena mereka sebagai generasi harapan bangsa yang dinantikan agar kelak dapat membawa perubahan dan kemajuan pada bangsa ini.

Perlu juga ada perbaikan mindset di kalangan masyarakat agar tidak memandang keilmuan seseorang berdasarkan titel pendidikannya saja, tetapi perlu memandang soft skill yang dimilikinya. Ini karena tidak sedikit orang-orang yang memiliki titel tinggi tetapi soft skill-nya tidak sesuai dengan titelnya. Banyak juga orang-orang yang tidak bertitel tinggi tetapi keilmuannya melambung tinggi melebihi orang-orang yang bertitel. Dengan demikian mari berkaca pada keteladanan sosok Imam asy-Syaukani dalam menuntut ilmu.

Siapakah Sosok Imam asy-Syaukani

Imam asy-Syaukani memiliki nama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani. Beliau lahir pada Hari Senin, 28 Dzulqo’dah 1173 H. / 11 Juli 1760 M. di Hijrah Syaukan, yaitu salah satu suku yang terdapat di Khaulan, Yaman. Jarak antara Hijrah Syaukan sendiri dengan Kota Shon’a sekitar 25 Kilometer dan Hijrah Syaukan merupakan daerah yang masyhur dengan banyaknya cendekiawan (ahli ilmu) dan fuqaha (ahli fikih), seperti: al-allamah al-Husein bin Ali asy-Syaukani, yaitu seorang ulama yang sering menganilisis dan menjawab pertanyaan-pertanyaan umat dengan perspektif Fikih, ada juga al-Qadi al-Husein bin Shalih asy-Syaukani, yaitu salah satu Qadi (hakim) yang terkenal dengan ke-mutqinan-nya dalam Fikih dan berbagai ilmu lainnya, yang beliau diangkat oleh Khalifah al-Mutawwakil ala’ Allah Ismail (Khalifah ke-10 Bani Abbasiyyah). Dijelaskan pula dalam kitab al-Badru at-Thaali, bahwa Imam asy-Syaukani lahir di Syaukan dan besar (tumbuh-berkembang) di Shan’a.

Baca juga:  Membedah Metodologi Fikih Informasi Muhammadiyah

Adapun ulama-ulama baik ulama salaf (terdahulu) ataupun ulama khalaf  (Kontemporer) biasanya lebih masyhur dipanggil dengan sebuah nama yang dinisbatkan kepada nama daerah, laqob (gelar), dan kunyah (julukan, marga, dsb.) dari pada nama aslinya. Misalnya sosok ulama yang masyhur dengan nama daerahnya, seperti Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari), dsb. Sosok Ulama yang masyhur dengan laqob-nya, seperti Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (Hujjatul Islam). Dan ada juga Sahabat Nabi Saw yang masyhur dengan kunyah-nya, seperti Abdurrahman bin Sakhr (Abu Hurairah). Demikian pula sosok Muhammad bin Ali bin Muhammad bisa dipanggil Imam ash-Shon’ani, tetapi lebih masyhur dengan nama Imam asy-Syaukani.

Perkembangan Keilmuan Imam asy-Syaukani

Imam asy-Syaukani semenjak kecil sudah dikenal sebagai sosok anak yang memiliki kecerdasan, kuat dalam hafalan, dan responsif (Cepat tanggap). Beliau menghafal al-Qur’an dengan metode muwā0jahah (setoran langsung) kepada guru-gurunya dan telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an dalam tempo yang begitu singkat, padahal saat itu usia beliau paling muda di antara peserta (murid) yang mengikuti kegiatan tahfiz al-Qur’an tersebut. Setelah sempurna dan mutqin (kuat) hafalan al-Qur’annya beliau langsung menerjunkan dirinya untuk membaca dan mendalami banyak kitab secara lahap, karena hasratnya yang haus terhadap ilmu.

Tidak ada sedikit pun waktu yang beliau sia-siakan, Semua waktu beliau gunakan untuk hal-hal yang berfaedah, di antaranya untuk mendalami ilmu pengetahuan. Saat itu kitab yang mula-mula beliau pelajari adalah mengenai “Adab” dan “Tarikh”. Kemudian, beliau mulai mempelajari berbagai ilmu lainnya kepada ayahnya dan juga kepada beberapa guru dari kalangan syaikh dan ulama terkemuka. Kitab yang dipelajari pertama kali bersama syaikhnya adalah kitab fiqih al-Azhar karangan Imam Mahdi Ahmad bin Yahya al-Murtadlo, salah satu fuqoha Mazhab Syi’ah Zaidiy  (W. 840 H.). Kitab tersebut menjadi kitab induk dan pegangan Mazhab Zaidiy tersebut.

Baca juga:  Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus

Mazhab Zaidiy merupakan salah satu mazhab yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, salah satu keturunan Ali bin Abi Thalib (W. 122 H.) Mazhab ini adalah salah satu Mazhab Syi’ah yang paling lurus dibandingkan mazhab-mazhab Syi’ah lainnya, lebih dekat kepada Ahli Sunnah wal Jama’ah dan juga mazhab ini selalu meyakini bahwa pintu-pintu ijtihad selalu terbuka untuk setiap kondisi dan zaman (waktu). Mazhab Zaidiy tidak begitu mengkultuskan Imam-Imam Syi’ah, berbeda halnya dengan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Rafidhah yang begitu mengkultuskan imam-imam tersebut.

Imam asy-Syaukani tidak hanya mempelajari kitab Fikih Zaidiy saja kepada guru-gurunya, melainkan kitab-kitab Fikih lainnya dari berbagai kalangan mazhab dan juga berbagai kitab lainnya, yaitu Hadis, Tafsir, Lughoh (bahasa), Nahwu (gramatika bahasa), Balaghah, Mantiq (logika), Adab berdialektika, dsb. kepada berbagai guru yang memiliki kepakaran dalam ilmu-ilmu tersebut. Beliau mempelajari semua ilmu secara tekun dan ikhlas sampai-sampai tidak ada satu pun ilmu yang luput (terlewatkan) dari penguasaannya. Beliau pun dikenal dengan sosok yang benar-benar tersibukan karena semua waktunya hampir dihabiskan untuk belajar dan mengajarkan ilmu, menjawab berbagai fatwa, dsb.

Kemasyhuran Imam asy-Syaukani mulai terpublikasikan dikalangan masyarakat pada saat usianya menginjak yang ke-20 tahun. Ini semua tidak lepas dari bimbingan, pengawasan, dan pengajaran orangtuanya beserta guru-gurunya, rahimahumullah. Begitu banyak murid yang belajar padanya saat itu dan masyarakat pun mulai banyak meminta fatwa padanya. Walaupun demikian, kemasyhurannya tidak membuat beliau terlena lalu merasa puas untuk menuntut ilmu, melainkan menjadikan beliau semakin haus ilmu dan semakin sering bermajelis; Bertemu ahli ilmu untuk mengambil faedah dan juga memberi faedah kepada yang lainnya, karena beliau yakin menuntut ilmu itu harus dilakukan sepanjang hayat, tidak kenal kata selesai ataupun berakhir.

Imam asy-Syaukani telah banyak membuat karya berupa kitab-kitab dalam berbagai aspek kelimuan. Sebelum umurnya genap empat puluh tahun, karya (kitab-kitab) beliau sudah mencapai dua ratus kitab yang setiap kitabnya terdiri dari beberapa jilid. Kitab-kitabnya tersebut meliputi Tafsir, Hadis, Aqidah, Ushul, Tarikh, Lughah, Ilmu Mantiq, dan Siyasah. Sebagian dari kitab-kitab tersebut sudah banyak dicetak dan sebagian lainnya masih berupa kumpulan manuskrip-manuskrip. Dengan banyaknya ilmu yang dikuasai dan banyaknya kitab yang dikarangan menjadikan beliau dikenal sebagai seorang mujtahid mutlak, yaitu seorang mujtahid yang berpendapat (menjawab fatwa) tanpa menukil pendapat mujtahid ataupun mazhab tertentu (independen).

Baca juga:  Trilogi Tarbiyah Rasulullah (Al-jumu'ah : 2)

Penutup

Pada akhirnya, sosok Imam asy-Syaukani dan sosok ulama-ulama lainnya begitu memotivasi setiap para penuntut ilmu, agar setiap proses pembelajaran yang dilakukan harus diniatkan karena Allah Swt. dan bertujuan untuk menggapai mardhatillah bukan semata-mata hanya ingin mencari ijazah, gelar, jabatan, ketenaran, ataupun yang lainnya. Hal demikian telah disebutkan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Muhammad Saw. di dalam hadis. Sebagaimana berikut ini:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”

(Q. S. al-Mujadilah: 11)

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surge.” (H. R. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Referensi:

Ad-Dasuqiy, Muhammad.  “Imam asy-Syaukani Faqiihan wa Muhadditsan min Khilali Kitabihi Naili al-Authari”, Qatar: Majalah Markazu Buhutsi as-Sunnah wa Sirah, 1407 H./1987 M.

Thahan, Mahmud. Taisir Musthalah al-Hadits, Riyadh: Maktabah al-ma’arif li an-Nasyri wa at-Tauzii’. 1431 H.

Al-Qur’an al-Karim.

Jami’ Kutubu at-Tis’ah.

*Thalabah (Mahasiswa) Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Semester Empat. Tulisan ini disarikan dari Mata Kuliah Qira’ah al-Kutub: Nail al-Authar.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: