Santri Cendekia
Home » Bersabar Bersama Orang-Orang Shaleh (Al-Kahfi 28 part 1)

Bersabar Bersama Orang-Orang Shaleh (Al-Kahfi 28 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al-Kahfi 28)

 

        Dalam Sahih Muslim, diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqash, “kami berenam pernah bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang musyrik berkata (kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam), ‘usirlah mereka, mereka tidak akan berani melawan kami.” Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan bahwa keenam orang itu adalah dia sendiri, Ibnu Mas’ud, seorang lelaki dari Bani Hudzail, Bilal, dan dua orang lelaki lainnya yang ia lupa namanya. Lalu timbulah dalam diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam apa yang telah menjadi kehendak Allah, lalu beliau berbicara kepada dirinya sendiri, hingga turunlah ayat ini.[1]

     Kita sepakat bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ma’shum. Sebagian besar ulama sepakat bahwa teguran-teguran yang turun melalui ayat-ayat Al-Qur’an kepada Rasulullah terkait dengan ‘kesalahan” yang Rasulullah lakukan adalah “kesalahan” yang sifatnya adalah ijtihadiyah, bukan kesalahan yang bernilai dosa, begitu menurut Ustad Budi Ashari.

         Contohnya adalah pada ayat ini, Rasulullah sempat mempertimbangkan seruan musyrikin quraisy yang hendak menyingkirkan 6 sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang bermajelis bersama beliau. Perlu diketahui bahwa keenam sahabat ini adalah sahabat yang terdiri dari kaum papa dan memiliki posisi rendah di struktur sosial Arab Jahiliyyah saat itu. Sehingga kaum musyrikin saat itu enggan duduk bersama mereka, dan berkata kepada Rasulullah bahwa mereka ingin duduk dan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Rasulullah bacakan apabila Rasulullah menyuruh keenam sahabatnya ini pergi. Rasulullah sempat mempertimbangkan usul kaum musyrikin ini. Pertimbangan ini bukan muncul karena kepentingan pragmatis beliau. Mungkin beliau hanya berpikir apa salahnya sebentar beliau meladeni keinginan musyrikin makkah ini, siapa tahu ayat-ayat Qur’an yang beliau bacakan bisa menjadi asbab hidayah baginya. Namun ternyata Allah punya kehendak lain.

Baca juga:  Observatorium Sekolah dan Pesantren

     Allah mengingatkan Rasulullah untuk bersabar dan tetap membiarkan keenam sahabatnya itu bermajelis bersama beliau. Allah memuji mereka sebagai orang-orang yang senantiasa bermunajat kepada Tuhannya sepanjang pagi dan petang. Rasulullah juga Allah peringatkan, jangan sampai berpaling dari mereka hanya karena ada kepentingan pragmatis berupa dunia dan perhiasannya, meskipun tentu Rasulullah sangat jauh dari akhlak-akhlak yang rendah seperti itu.

    Maka sungguh ayat ini mengingatkan kita. Bahkan berkumpul dengan orang-orang soleh pun pasti ada cobaannya. Karena mereka juga manusia-manusia biasa yang memiliki salah dan khilaf. Atau terkadang orang-orang soleh ini pun bukan orang-orang terpandang di kaumnya, bukan orang-orang yang memiliki kedudukan atau pengaruh tinggi di kaumnya, bukan pula orang-orang dengan harta berlimpah hingga bisa mewujudkan apapun yang kita inginkan. Karena jika mata hendak berpaling dari mereka, kepada siapa lagi kita hendak berpaling? Orang kafir? Orang fasiq? Orang durhaka dan durjana? Atau orang yang tak henti-henti mengajak kita untuk mereguk nikmat dunia yang tak pernah menuntaskan dahaga?

     Siapa sangka orang-orang yang direndahkan dan dihina itu kelak menjadi bintang-bintang jamannya yang tak pernah tenggelam ditelan masa? Sa’ad bin Abi Waqash menjadi seorang panglima perang yang berhasil memimpin muslimin menumpas Persia di perang Qadisiyah. Ibnu Mas’ud kelak menjadi Ulama besar di Iraq yang kelak dari sanad keilmuannya turun menurun muncul salah seorang imam mazhab dari 4 mazhab besar yaitu Abu Hanifah. Bilal bin Rabah menjadi muazin Rasulullah yang membuat Quraisy terhina ketika beliau adzan di atas ka’bah di Umrah Qadha’ dan Fathu Makkah.

       Kita sibuk menjalin relasi sana-sini dengan orang-orang berpangkat, tenar, berpengaruh, berkuasa, berharta, dan sebagainya. Kita berharap dengan semua itu, kita mendapatkan cipratan ketinggian derajat mereka yang sementara itu di tengah-tengah masyarakat. Padahal, sebaik-baik teman adalah teman yang soleh. Menurut Imam Hasan Al-Bashri, “perbanyaklah berteman dengan orang-orang beriman. Karena mereka memiliki syafa’at di hari kiamat”. Ibnul Jauzi pun pernah berkata sambil menangis, “jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan : ‘Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Maka tentu, sebagai orang yang cerdas, perbanyaklah menjalin relasi dengan orang-orang soleh yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah dan hari akhir.

Baca juga:  [Jurnal] Matn Criticism and Its Role In The Evaluation of Hadith Authenticity

“Duhai Sobat, tolong carilah aku jika tak kau temukan aku di surga.”

 

Allahu a’lam bishshawab

 

Referensi:

[1]   “Tafsir Qur’anul ‘Azhim”, Ibnu Katsir

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

1 komentar

Tinggalkan komentar