Santri Cendekia

Bolehkan Melakukan I’tikaf di Rumah?

Di antara rukun itikaf adalah menetap di masjid [1]. Akan tetapi di masa pandemik virus semacam ini yang mencegah dilakukan ibadah komunal di masjid serta semua ibadah tersebut diharuskan di rumah, maka apakah kita tetap dapat beritikaf?

‘Masjid’ di Dalam Rumah

Iya, sebab kita dapat membuat ‘masjid’ di rumah.

Asy-Syaikh Qalyubi (w. 1069 H) mengatakan:

إنْ بُنِيَ فِيهَا دَكَّةٌ وَوُقِفَتْ مَسْجِدًا صَحَّ فِيهَا. وَكَذَا مَنْقُولٌ أَثْبَتَهُ وَوَقَفَهُ مَسْجِدًا ثُمَّ نَزَعَهُ

“Jika seseorang membangun semacam panggung kecil kemudian mewakafkannya sebagai masjid, maka sah. Begitu pula jika ia membuat sebuah alas sebagai alas permanen di sebuah tempat kemudian ia wakafkan sebagai masjid, meskipun nantinya ia bongkar.” [2]

Poin ini lebih jelas lagi dalam fatwa Asy-Syaikh Ali Az-Ziyadi (w. 1024 H) sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh ‘Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H):

إِذَا سَمَّرَ حَصِيرًا أَوْ فَرْوَةً فِي أَرْضٍ أَوْ مَسْطَبَةٍ وَوَقَفَهَا مَسْجِدًا صَحَّ ذَلِكَ وَجَرَى عَلَيْهِمَا أَحْكَامُ الْمَسَاجِدِ وَيَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِيهِمَا وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ الْمُكْثُ فِيهِمَا وَغَيْرُ ذَلِكَ

“Jika seseorang menggelar permadani, alas kulit, atau sajadah lalu memakunya di dalam rumah miliknya (yang telah ia beli atau sewa), atau ia membuat panggung kecil atau tempat semisalnya dari kayu, kemudian ia mewakafkannya sebagai masjid, maka sahlah yang demikian itu. Dengan demikian, berlaku padanya hukum-hukum masjid sehingga sah pula beritikaf di sana dan haram pula orang yang berhadas besar untuk menetap di situ.” [3]

Pendapat Mazhab Syafi’i

Fatwa ini juga dinukil dan disetujui oleh para ulama Syafi’iyyah setelahnya, semisal Asy-Syaikh ‘Abdulhamid Asy-Syarawani (w. 1301 H) [4] dan Asy-Syaikh ‘Ali Bashabrin (w. 1305 H) [5].

Nah, selama karpet atau panggung kecil tadi masing terpasang kokoh di sudut rumah kita, bahkan meski rumah kontrakan, maka hukumnya adalah masjid. Jika sudah dibongkar, maka pendapat yang terkuat di internal Mazhab Syafi’i, ialah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam As-Suyuthi (w. 911 H) dalam salah satu fatwa beliau, bahwa sudah tidak lagi berlaku hukum masjid padanya [6]. Ini juga yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Sa’id Ba’asyin (w. 1270 H) [7].

Baca juga:  Ramadhan 2020: Tuntunan dari Muhammadiyah (Sebuah Catatan dari Mark Woodward)

Eit, tunggu dulu. Bukankah Al-Imam Syamsuddin Ar-Ramli (w. 1004 H) dan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), kedua syaikh Syafi’iyyah mutaakhkhirin, seolah menyatakan tidak sahnya mewakafkan sesuatu yang bergerak, tidak tetap, semisal yang disebutkan di atas, sebagai masjid?

Al-Imam Syamsuddin Ar-Ramli mengatakan:

أَمَّا جَعْلُ الْمَنْقُولِ مَسْجِدًا كَفُرُشٍ وَثِيَابٍ فَمَوْضِعُ تَوَقُّفٍ لِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ السَّلَفِ مِثْلُهُ، وَكُتُبُ الْأَصْحَابِ سَاكِتَةٌ عَنْ تَنْصِيصٍ بِجَوَازٍ أَوْ مَنْعٍ، وَإِنْ فُهِمَ مِنْ إطْلَاقِهِمْ الْجَوَازُ فَالْأَحْوَطُ الْمَنْعُ

“Adapun mewakafkan benda bergerak, semisal karpet dan baju, sebagai masjid, maka saya bertawaqquf (tidak mengemukakan pendapat) dalam hal ini. Sebab hal ini belum pernah diriwayatkan dari generasi Salaf. Kitab-kitab ulama Syafi’iyyah pun tidak menyinggung hal ini secara eksplisit, baik pembolehan maupun pelarangan. Meskipun terpahami dari ucapan-ucapan mereka bahwa hukumnya boleh, tetapi yang lebih hati-hati adalah melarangnya.” [8]

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juga mengatakan:

لَا يَصِحُّ وَقْفُهُ مَسْجِدًا لِأَنَّ شَرْطَهُ الثَّبَاتُ

“Tidak sah mewakafkannya (benda bergerak) sebagai masjid karena disyaratkan harus tetap, tak bergerak.” [9]

Benar demikian, tetapi para ulama Syafi’iyyah setelah mereka berdua menjelaskan bahwa tidak sahnya mewakafkan benda bergerak sebagai masjid itu hanyalah jika tidak dibuat tetap, tak bergerak. Adapun jika dibuat tak bergerak seperti dipaku atau dilakban, maka sah. [10]. Ini juga terisyaratkan dari alasan yang dikemukakan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami barusan. Ini juga yang menjadi fatwa Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari (w. 926) [11].

Kesimpulannya, di tengah lockdown ini, mari tetap beritikaf meski di masjid kecil di rumah kita dengan cara yang disebutkan di atas. Kalau boleh saran, jika pakai sajadah, maka pilih yang lebar agar lebih leluasa. Wallahualam wahuwal muwaffiq.

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Al-Bayjuri, Hasyiyah ‘ala Fath Al-Qarib (I/575). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1999 M dan Al-Bakri, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin (II/292). Beirut: Darul Fikr, 1997 M.

Baca juga:  Dilema Sidang Isbat di Tengah Wabah Corona
[2] Qalyubi, Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin (II/97). Beirut: Darul Fikr, 1995 M.

[3] Asy-Syarqawi, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Ath-Thullab (II/370-371). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1997 M.

[4] Lihat: Asy-Syarawani, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (III/465). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M.

[5] Lihat: ‘Ali Bashabrin, Itsmid Al-‘Ainain hlm. 100. Beirut: Darul Fikr, 1994 M.

[6] Lihat: Hasyiyah Ibn Qasim Al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (VI/240). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M.

[7] Sa’ad Ba’asyin, Busyra Al-Karim hlm. 628. Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2015 M.

[8] Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj (V/362-363). Beirut: Darul Fikr, 1984 M.

[9] Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj (VI/238). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M.

[10] Lihat: Asy-Syarawani, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (VI/238) dan Asy-Syibramalisi ‘ala Nihayah Al-Muhtaj (V/363). Beirut: Darul Fikr, 1984 M.

[11] Lihat: Asy-Syibramalisi, Hasyiyah ‘ala Nihayah Al-Muhtaj (III/216).

Jeddah, 17 Ramadan 1441 H

 

 

Nur Fajri Romadhon

Ketua Majelis Tarjih PCIM Arab Saudi, Anggota Divisi Fatwa MUI Jakarta, dan Mahasiswa Pascasarjana King Abdulaziz University

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: