Santri Cendekia

Buku Terbaru Prof Syamsul Anwar untuk Mengisi Hari-hari Ramadan

Bagaimana status puasa orang yang dalam keadaan junub atau hadas besar? Apakah sah puasa orang yang melakukan vaksinasi Covid-19? Bagaimana jangka waktu durasi lama berpuasa di negara-negara yang dekat dengan Kutub Utara?

Syamsul Anwar menerbitkan buku terbaru seputar fatwa-fatwa di bulan suci Ramadan. Dari persoalan klasik yang masih diperselisihkan sampai persoalan kontemporer yang belum banyak dibahas. Niki Alma Febriana Fauzi selaku editor mengungkapkan bahwa buku karangan ulama Muhammadiyah ini dapat menjawab segala problematika itu.

Pada awalnya, buku karya Prof Syamsul ini diterbitkan secara berkala di kolom tanya jawab agama koran Republika tahun 2015. Dengan pertimbangan meraup pembaca yang lebih luas serta pembahasan yang lebih mendalam, Niki mengusulkan kepada Prof Syamsul Anwar agar dikompilasikan menjadi sebuah buku utuh.

“Buku ini ingin menampilkan nilai-nilai dasar Islam dalam ibadah khususnya puasa di bulan Ramadan. Misalnya, prinsip taysir atau kemudahan, juga tidak lupa pula menampilkan tauhid sebagai dasar pertimbangan hukum,” terang kepala Pusat Tarjih UAD ini pada Jumat (12/03).

Jadi tidak hanya berisi pedoman praktis, namun buku ini juga menjelaskan aspek-aspek filosofis yang semakin memperkaya pengetahuan kita seputar ibadah di bulan suci Ramadan. Aspek filosofis ini akan sangat membantu kita dalam menjalankan ibadah puasa agar lebih bertenaga dan lebih berwawasan. Karenanya pembahasan di dalamnya akan selalu relevan dengan segala kondisi mengingat bulan Ramadan senantiasa hadir setiap tahun.

“Adanya pembahasan mengenai nilai-nilai dasar sebenarnya adalah upaya Prof Syamsul Anwar untuk mengisi kekosongan pembahasan seputar puasa yang selama ini luput dari perhatian. Selama ini buku-buku puasa hanya mengupas aspek praktis tentang bagaimana hukumnya, namun kadang melupakan nilai-nilai dasar yang sesungguhnya memayungi pedoman praktis tersebut,” jelas Niki.

Baca juga:  Euthanasia dalam Pandangan Sekular Barat dan Agama Islam

Niki juga menambahkan bahwa meskipun buku fatwa seputar Ramadan ini ditulis oleh Prof Syamsul selaku ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, namun hal tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai Fatwa Majelis Tarjih. Kendati demikian, ungkap Niki, buku ini mengisi kekosongan persoalan ibadah puasa yang belum dibahas oleh Majelis Tarjih, sehingga dapat menjadi pedoman atau menambah cakrawala pengetahuan agama.

“Bagi saya ini lebih pas disebut sebagai fatwa personal dari seorang pakar hukum Islam. Karenanya tidak bisa buku ini disebut sebagai Fatwa Tarjih. Meski demikian, fatwa-fatwa Prof Syamsul ini justru menambahi apa yang belum dibahas oleh Majelis Tarjih,” tutur Niki.

Bagi yang berminat dengan buku terbaru Prof Syamsul Anwar seputar ibadah puasa di bulan Ramadan dapat dipesan secara pre-order melalui link whatsupp http://wa.me/6285330204385.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: editor.santricendekia@gmail.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: