Santri Cendekia
Home » Cara Bijak Merespon Isu Terorisme

Cara Bijak Merespon Isu Terorisme

Ada kegelisahan yang hendak saya tumpahkan di tulisan ini tentang berita duka dari berbagai penjuru dunia beberapa minggu belakangan. Begitu banyak nyawa yang terenggut dengan zalim. Dan betapa zalimnya lagi, aksi-aksi itu dilakukan atas nama agama yang telah mengingatkan rambu paling azasi yang disampaikan setiap Rasul Allah ; sesiapa yang membunuh satu nyawa, biadab dan tercelanya sama dengan menghabisi seluruh umat manusia. Ya, terorisme atas nama Islam, mulai dari Brussel hingga Pakistan. 
pesan rasul-rasul Bani Israil, juga pesan Baginda Rasulullah

Terorisme secara gampang adalah tindakan kekerasan yang dilakukan untuk menegaskan sebuah sikap politik. Dalam hal ini, teroris pencoreng nama Islam itu konon ingin menegakan izzah Islam di bumi ini. Izzah apanya? Padahal korban utama dari semua aksi teror ini, baik secara kuantitas yang kasat mata maupun dampak jangka panjangnya, justru umat Islam sendiri. Saya pernah tersesat ke sebuah blog milik simpatisan kelompok haus darah itu, disebutnya aksi Paris sebagai tindakan mulia dari pemuda-pemuda penuh berkah. Benarkah?

Di serangan Paris itu ada beberapa muslim yang turut jadi korban. Belum lagi gelombang anti-Islam yang meningkat di Eropa. Hidup saudara-saudara kita semakin susah saja di sana. Kelompok kanan-Jauh dan Islamopob seperti Pegida, Wilders dan kelompok rasis lainnya jadi punya alasan merekrut anggota, mengobarkan api Islamophobia. Api itu lalu menjalar dan memamah setiap yang berbau Islam. muslimah berhijab selalu jadi sasaran utama. Di Brussel seorang Muslimah dikeroyok ratusan kelompok rasis. Di Inggris, seorang penjaga toko Muslim bahkan harus meregang nyawa. Menambah daftar Muslim korban kekerasan rasial di Barat sana.

Lalu ada yang bilang, makanya jangan tinggal di negara kafir, segeralah berhijrah ke negri Muslim. Waras pak? Pengungsi syiria saja tidak ada tuh negara Islam yang bersedia menjadi anshar seutuhnya. Negara-negara Arab memang sudah menerima sebagian, Turki mulai kewalahan. Indonesia? bah, kabar buruh China yang akan datang saja kita sudah panik kok. Maka pilihan yang masuk akal memang ke Eropa. Tapi serangan-serangan teroris itu, justru mempersulit pengungsi Syiria.

Baca juga:  Peringatan Tegas Buya HAMKA Tentang UU Pernikahan
Ah, pengungsi Syiria, ya Allah belailah anak-anak bumi penuh berkah itu. Orang-orang ini meninggalkan negerinya yang indah sebab dijadikan medan perang. Lalu ketika mereka hendak lari, kelompok yang membuat kacau negaranya justru membuat serangan lagi di Eropa sehingga orang di sana pun takut dan enggan menerima mereka. Izzah Islam justru berada di titik paling rendah. Lihatlah, orang-orang Syiria yang kebanyakan Muslim itu mengemis-ngemis untuk bisa masuk ke negara-negara “kafir”, takut terbunuh oleh perang di negri yang diberkahi oleh doa Rasulullah. Anehnya, mereka yang merampok cap kerasulan beliau masih bisa merayakan pembunuhan-pembunuhan itu.

Lalu kita lihat reaksi di media sosial. Histeria pray for pray for-an itu. Ada sebuah narasi yang dibangun secara bersama-sama oleh the so called “media Islam” dan banyak netizen Muslim yang menurut saya tidak keren sama sekali. Sebuah narasi baper yang tidak ada gunanya sama sekali. Narasi itu bisa kita lihat dalam judu-judul artikel online atau sekedar status ; “ketika yang jadi korban umat Islam dunia diam” “yang pray for Brussel itu, dimana kalian ketika Turki diserang?” dan sejenisnya.

Reaksi semcam itu kontraproduktif menurut saya. Pertama, memang ini persoalan teologis tapi cukup menggelitik saya. Apa kalian serius berharap orang-orang Barat yang bukan Muslim itu berdoa bagi korban bom Turki? Apa doa mereka betul-betul akan diijabah? Ya memang ini alasan yang aneh, tapi coba pikirkan.

Kedua, dan ini yang serius, narasi semacam itu menunjukan mentalitas “kita vs mereka” yang akut. Mentalitas yang juga dimiliki para teroris itu. Padahal yang seharusnya umat Islam tidak memisahkan diri dari komunitas internasional jika memang ingin melawan terorisme. Persoalan ini adalah soal universal yang tidak boleh disikapi berbeda berdasarkan pelaku dan korbannya. Jika orang-orang Barat masih saja bias dalam reaksi mereka, ya sudahlah! Mereka memang seperti itu. Apa yang kita harapkan? Adapun umat Islam sendiri, ya harus menunjukan sikap yang sama tanpa harus menggugat bias mereka, mengemis-ngemis simpati pada dunia.

Baca juga:  Charlie Hebdo ; Kebebasan atau Kebebalan?

Tunjukan izzah Islam bahwa meski menjadi korban utama terorisme, kita tetap kuat mengahadapinya, tidak butuh tagar histeria dan simpati hipokrit pemimpin-pemimpin dunia! Lagi pula pray for pray for itu tidak mengurangi penderitaan saudara-suadara kita kok. Dukungan dari saudaranya, serta doa-doa kitalah yang bisa meringankan. Maka pantaskan saja diri kita sebagai umat terbaik, yang simpati dan doanya universal sebab kita mengikuti nabi rahmah lil alamin. Jika orang lain ternyata tidak bersikap demikian, ya wajar lah, mereka memang tidak punya konsep rahmatan lil alamin. Ajari mereka kasih universal itu.


Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar