Santri Cendekia
Home » Ceramah Tarwih di UGM, Din Syamsudin Bahas “Islam Nusantara”

Ceramah Tarwih di UGM, Din Syamsudin Bahas “Islam Nusantara”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Wacana Islam Nusantara sekrang ini sedang menjadi topik  yang ramai diperbincangkan. Berbagai kalangan mendiskusikannya, mulai dari masyarakat awam di sosial media, akademisi di kampus-kampus bahkan tak kurang dari Presiden Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla turut meramaikan perbincangan Islam Nusantara.

Secara umum, perbincangan-perbincangan tersebut berusaha mencari, mendefenisikan dan mendedah sebuah corak berislam yang khas Nusantara. Biasanya corak itu lalu dihadap-hadapkan dengan corak berislam Timur Tengah. “Islam Nusantara” dianggap moderat, toleran dan semua atribut indah lainnya, sedangkan “Islam Tmur Tengah” adalah lawan dari semua itu. Bukti yang diajukan adalah kecamuk perang berkepanjangan di Timur Tengah sana. Seolah-olah semua tragedi tersebut terjadi sebab corak berislam. Kerunyaman geopolitik yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia di kawasan kaya minyak itu sepertinya  dianggap kurang relevan.

Azyamurdi Azra  di kolom resonansi Republika yang menelisik “Islam Nusantara” dengan lebih canggih yakni dari segi corak ortodoksinya pun terjebak pada perbandingan serupa. Menurutnya, ortodoksi Islam Nusantara mengandung tiga unsur penting yakni kalam Asy’ari, fikih Syafiiyah, dan sufisme sedangkan ortodoksi Islam Arab Saudi berbasis hanya pada teologi Salafi-Wahabi dan puritanisme sehingga dianggap lebih kering dan kaku.
Perkembangan wacana ini ternyata tak luput dari perhatian Din Syamsudin, salah satu pimpinan MUI. Tanggapan tersebut disampaikannya dalam ceramah tarwih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sabtu, 20 Juni 2015 lalu.   Tanggapan Din menjadi menarik bila mengingat beliau berasal dari Muhammadiyah, sedangkan wacana “Islam Nusantara” selama ini tampkanya mendapat perhatian serius di kalangan tokoh Nahdatul Ulama. Ormas Islam berbasis kalangan tradisionalis ini bahkan menjadikannya bahasan di Muktamar ke-33 mendatang.
Menurut Din, Islam adalah penyempurna tradisi tauhid Ibrahim dan tetap setia menjaganya dengan tegas. Hal itu tercermin di dalam bangunan akidahnya yang tidak kompromi pada campur tangan distorsif manusia. Dalam konteks ini, Islam harus dipandang sebagai entitas tunggal. Adapun pendapat sementara kalangan yang menyebut adanya Islam Arab, Islam Nusantara, Islam Rusia dan seterusnya tidak berarti bahwa Islam menjadi jamak seiring perkembangannya di banyak wilayah. Keragaman “Islam” tersebut memang bisa diterima tapi hanyalah dalam konteks kultural. Dalam urusan akidah, Islam adalah satu dan universal.  Universalitas inilah yang ditekankan oleh Din Syamsudin. Beliau mengingatkan bagaimana beberapa Orientalis yang mencoba mereduksi unversalitas tersebut dengan menyebut Islam sebagai Muhammadanisme.
Lebih lanjut, Din mengingatkan jamaah akan sebuah hadis yang harus menjadi dasar umat Islam diseluruh dunia, termasuk di Nusantara, dalam membumikan Islam. Rasulullah pernah menyifati Islam sebagai “Hanafiyah as-samhah”, sebuah agama yang teguh dalam prinsip-prinsipnya sembari bersikap toleran dan terbuka.  Dengan mengingat sifat Islam ini, maka dimanapun berada, komunitas Muslim memang harus bersikap toleran pada keyakinan yang lain. Muslim juga harus terbuka dan beradaptasi pada corak kebudayaan dimanapun ia berada selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokoknya.
Akhirnya, sebagai sebuah ulasan singkat yang disampaikan dalam wadah cermaah tarwih yang  sangat terbatas,  tentu tanggapan Din Syamsudin ini masih terlalu umum dan perlu dielaborasi lebih jauh. Namun demikian dengan memperhatikan pemaknaan beliau terhadap hanafiyah as-samhah di atas, Din tampaknya ingin menunjukan bahwa toleran, moderat, dan ramah pada budaya lokal merupakan karakteristik inheren ajaran Islam. Kemampuan untuk menelusup hingga sum-sum budaya lokal tersebut dibarengi dengan ketegasan pada prinsip-prinsip pokok terutama tauhid sehingga universalitasnya pun terjaga. Karakter ini menjadikan Islam bisa berkembang dan memberikan warna berbeda pada tiap kebudayaan, termasuk kebudayaan Nusantara tentu saja.
Baca juga:  Budaya Ilmu dan Musuh-Musuhnya

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar