Santri Cendekia
Home » Cinta Ramadhan 04: Binasalah Aku Nabi!

Cinta Ramadhan 04: Binasalah Aku Nabi!

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Humaid bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: “Wahai Rasulullah, binasalah aku”. Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?”. Orang itu menjawab: “Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu memiliki budak, sehingga kamu harus membebaskannya?”. Orang itu menjawab: “Tidak”. Lalu Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”. Orang itu menjawab: “Tidak”. Lalu Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?”. Orang itu menjawab: “Tidak”. Sejenak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya tadi?”. Orang itu menjawab: “Aku”. Maka Beliau berkata: “Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya”. Orang itu berkata: “Apakah ada orang yang lebih faqir dariku, wahai Rasulullah. Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku”. Mendengar itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata: “Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini”.

Baca juga:  Cinta Ramadhan 30: Malam Takbir, Penuh Kesyukuran

 

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dlm Shahihnya dengan nomor 1.800 -versi lidwa-.

 

Hadis ini mengandung hukum, yaitu kafarat orang yg berhubungan suami isteri di siang hari Bulan Ramadhan.

 

Yang menarik dari kisah ini adalah adanya Sahabat yg melapor kepada Nabi SAW bahwa dia telah berjima’ dgn isterinya, sedangkan dia berpuasa. Seandainya mau, sahabat tersebut tidak perlu melapor kpd Nabi, sehingga tidak perlu menebus kesalahannya dengan kafarat yg ditentukan. Nampaknya, sahabat tersebut menyadari kesalahan besarnya. Dengan segera meminta petunjuk kepada Nabi SAW.

 

Yang lebih menarik adalah cara Nabi menyikapi permasalahan tersebut. Nabi tidak serta merta menghakimi pelapor. Tidak tergesa-gesa menjatuhkan hukuman. Apalagi sampai melabeli pelapor dgn gelaran yg buruk; pendosa, ahli maksiat, ataupun ahli neraka.

 

Berbeda dengan manusia masa kini. Baru belajar agama satu atau dua guru, menjelajah dibuku-buku, dan berkeliaran di dunia maya, dengan serta merta menghukumi yg berbeda, melabeli dengan label yg amat buruk. Padahal, tahap perbedaannya masih dalam hal yg furu’.

 

Nabi SAW mencontohkan sikap tenang dlm mengambil keputusan. Kejernihan fikiran dan hati. Padahal kejadian tersebut berlangsung saat Nabi dan sahabat yg lain sedang berkumpul.

 

Poin penting dari hadis ini, (i) Jika melakukan kesalahan sesegera mungkin bertobat, (ii) kejujuran untuk kebaikkan dunia dan akhirat, (iii) Sikap tenang dlm menghadapi masalah, tidak terburu-buru ataupun tergesa-gesa untuk menghukumi sesuatu. Menimbang baik dan buruk.

 

Akhirnya, keharusan mencontoh Nabi haruslah menyeluruh. Totalitas penuh keikhlasan, terutama cara Nabi memperlakukan saudanya muslim yg lain.

 

Wallahu A’lam

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar