Santri Cendekia
Home » Cinta Ramadhan 05: Puasa Yang Sia-sia

Cinta Ramadhan 05: Puasa Yang Sia-sia

 

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi telah menceritakan kepada kami Sa’id Al Maqbariy dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya”.

 

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 1770, Imam Abu Dawud no. 2015, dan Imam Tirmidzi no. 641.

 

Hadis ini mengandung pesan, sesiapa yang berpuasa namun tetap berkata buruk dan berbuat keburukan, maka Allah SWT tidak memerlukan puasanya itu.

 

Nabi SAW dalam kesempatan yang lain juga mengatakan banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh apa-apa, selain lapar dan haus. Tentu ini harus menjadi perhatian penting bagi setiap ummat Islam, agar tidak terjatuh pada kesia-siaan.

 

Bulan Ramadhan dipersiapkan sebagai bulan penyucian diri dan hati. Selain membersihkan diri dari berbagai penyakit; lahir dan batin, Bulan Ramadhan juga menjadi ajang harmonisasi hubungan mu’amalah antara manusia dengan manusia lainnya, dan juga hubungan Manusia dengan Rabb-nya.

 

Allah rindu tumpahan istighfar dari lisan hamba-Nya. Allah rindu tetesan air mata tobat dari hamba-Nya. Dan juga Allah rindu segala pinta dan munajat hamba-Nya.  Dengan kerinduan tersebut, Allah SWT jadikan Ramadhan bulan penuh rahmat, maghfirah, dan membuka selebar-lebarnya pintu langit.

Baca juga:  Hermeneutika Hadis dan Kejanggalan Nomenklatur (Bagian II)

 

Meski demikian, tidak banyak yang menyadari betapa indah bulan Ramadhan, sehingga banyak yang lalai darinya. Banyak yang belum merubah sikap dan kebiasaan lama. Banyak pula yang nampaknya acuh akan kehadirannya.

 

Baginya Puasa atau tidak puasa sama saja. Bahkan, ada juga yang menganggap puasa sebagai beban yang mesti diabaikan. Sehingga, dia tidak meninggalkan perbuatan buruknya dan tidak pula meninggalkan perkataan kotornya.

 

Ghibah masih dilakukan. Mencaci dan memaki masih didawamkan. Hak orang lain tidak diperhatikan. Amanah tidak ditunaikan. Sholat dan tilawah ditinggalkan.

 

Apalagi biasanya Ramadhan diramaikan petasan. Mengganggu kenyamanan dan ketentraman. Membuat gaduh tidak karuan. Yang dewasa mengabaikan. Akhirnya ibadah tidak karuan. Mau tilawah sering kagetan. Jadinya banyak kesalahan terucapkan.

 

Padahal, seandainya hamba itu tau banyak keagungan Ramadhan, dia berharap seluruh bulan adalah Ramadhan. Tiada hari dengan kesia-siaan. Tiada waktu bermalas-malasan. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir yg dirasakan.

 

“Allahumma innaka Afuwwun tuhibbul-afwa fa’fuanna”

 

Wallahu A’lam.

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar