Santri Cendekia
Home » Cinta Ramadhan 11: Dengki Yang Boleh

Cinta Ramadhan 11: Dengki Yang Boleh

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَلَى غَيْرِ مَا حَدَّثَنَاهُ الزُّهْرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ قَيْسَ بْنَ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abu Khalid -dengan lafazh hadits yang lain dari yang dia ceritakan kepada kami dari Az Zuhri- berkata; aku mendengar Qais bin Abu Hazim berkata; aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Ilmu, Nomor 71. Pesan yang dapat diambil; bolehnya dengki terhadap dua golongan: Yang kaya kemudian bersedekah dan berilmu kemudian mengamalkan dan mengajarkannya.

Umat Islam saat ini, sedang menikmati sajian surgawi berupa Ibadah kepada Allah dgn penuh kekhusyu’an. Semua aktivitas kebaikkan dicatat sebagai pahala ibadah. Pahala-pahala dijanjikan berlipat-lipat. Bahkan, Allah SWT menjanjikan ampunan dari dosa-dosa kepada siapa yang Puasa dan menghidupkan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala. Selain, itu dijanjikan pula, kavling surga khusus para shaimin dan shaimat, yaitu Ar-Royyan.

Betapa indah Ramadhan ini. Tidur pun ibadah, diamnya dinilai tasbih, amalnya berlipat ganda, doanya diijabah, dan dosanya diampuni. (Lubab Hadis/63)

Namun ada saja sekelompok orang yang enggan. Enggan untuk berpuasa. Enggan untuk bersujud. Enggan untuk bertilawah dan tadarus makna Al-Qur’an. Engga bersedekah. Enggan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Rugi kata Nabi. Yang begitu itu rugi.

Baca juga:  Gugurnya Narasi Tentang Kiamat di Tengah Wabah

Apalagi, dengan tegas Allah bilang “ga butuh puasa orang yg tidak meninggalkan perbuatan buruk”. Betapa banyak orang yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya, selain lapar dan haus.

Nabi SAW memerintahkan kita untuk meninggalkan perbuatan bodoh yang dapat mencacati puasa. Perkataan buruk, perilaku keji, dan lainnya harus ditinggalkan. Termasuk juga rasa dengki. Dalam surat An-Naas, manusia memohon perlindungan, diantaranya kepada para pendengki (wa min syarri hasidin idza hasad).

Namun, ada dengki yang diperbolehkan dan tidak membatalkan pahala puasa kita. Yakni, dengki kepada orang kaya yang bersedekah dan orang berilmu yang beramal dan mengajarkannya.

Dengki kepada dua tipe ini, memotivasi seseorang untuk menjadi seperti yang dia dengki. Menjadi kaya kemudian bersedekah. Menjadi berilmu kemudian mengamalkan dan mengajarkan.

Apalagi dibulan Ramadhon. Memberi makan orang puasa, dapet pahala puasanya. Kalo memberi menu ifthor 100 orang puasa, dapet pahala puasa 100 orang.

Ditambah, banyaknya majelis ilmu di bulan suci ini. Kalo dia kaya dan sekaligus berilmu lebih cakep lagi. Berapa banyak pahala yang didapat?.

Wallahu A’lam.

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar