Santri Cendekia
Home » Cinta Ramadhan 13: Islam terbaik itu …

Cinta Ramadhan 13: Islam terbaik itu …

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

 

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”.

 

Hadis riwayat Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Iman, nomor 11.

 

Pesan yang dapat disarikan dari hadis ini, keislaman terbaik seorang muslim, yaitu (i) memberi makan, dan (ii) memberi salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal.

 

Menarik sekali pesan Nabi saw dari hadis ini. Nabi saw ditanya sahabat Islam mana yang terbaik, beliau tidak menjawab “Engkau yang beribadah di Mesjid saja, sholat sebanyak-banyaknya, tilawah sebanyak-banyaknya, ataupun puasa sesering-seringnya”. Tidak, Nabi tidak menjawab demikian.  Jawaban Nabi sederhana dan aplikatif; memberi makan dan mengucapkan salam.

 

Di dalam riwayat yang lain, seutama keislaman seorang yaitu: yang menjaga lisan dan tangannya dari perbuatan tercela dan menyakiti orang lain, yang bermanfaat untuk orang lain, dan yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkan orang lain.

 

Dari berbagai riwayat ini, hanya “yang mempelajari Al-Qur’an” saja yang berdimensi individual. Sisanya berdimensi sosial. Bahkan, di hadis yang sama ibadah sosial tetap dimunculkan. (Khairukum man ta’allama Al-Qur’an wa ‘allamahu).

Baca juga:  Hadist Mutawwatir dan Berbahayanya Covid-19

 

KH. Mustafa Ahli Ya’qub -Allahu yarhamuhu- dalam sebuah kesempatan menegaskan bahwa ibadah sosial lebih utama dari ibadah individual. Tentu pendapat ini didasari dari berbagai riwayat yang mendukung. Dan pada faktanya, manusia itu adalah makhluk sosial, yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia lain.

 

Memberi makan sangat dianjurkan dalam Islam. Kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun. Bahkan, kepada hewan sekalipun memberinya makan bernilai pahala yang bedar dari Allah swt. Apalagi, di bulan Ramadhan. Allah menjanjikan pahala puasa kepada orang yang memberi menu berbuka orang yang berpuasa.

 

Di samping memberi makan, memberi salam pun menjadi tanda keislaman seseorang. Islam adalah agama damai dan mendamaikan. Hidup berislam berarti hidup penuh kedamaian. Dan saling berucap salam, diantara cara menyebar kedamaian.

 

Nabi saw, mengajarkan salam tidak hanya kepada yang dikenal. Juga kepada yang tidak dikenal. Memberi salam kepada yang dikenal itu mudah, namun memberi salam kepada yang tidak dikenal perlu dilatih dan dibiasakan.

 

Konsep persaudaraan Islam teruji di sini. Dapatkan kita termasuk seorang muslim yang mampu menunjukkan keislaman terbaik?.

 

“Rodhina billahi Rabba, wa bil Islamni diina, wa bi Muhammadin Nabiyya”.

 

Wallahu A’lam.

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar