Santri Cendekia

Cinta Ramadhan 29: Tasbih, Takbir, Tahmid, dan Tahlil itu Sedekah

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, “Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka.” Maka beliau pun bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seorang dari kalian pun terdapat sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan nafsu syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?” beliau menjawab: “Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah kalian berdosa? Begitu pun sebaliknya, bila kalian meletakkannya pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala.”

Baca juga:  Cinta Ramadhan 09: Berbuka Dengan Kurma

 

Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zakat, Bab Bayan Anna Isma Shadaqah Yaqau ‘ala Kulli Nau’in minal-Ma’ruf, dengan nomor hadis 1674.

 

Sekedar informasi, Kitab Shahih Muslim pada mulanya tidak terdapat Kitab, Bab, ataupun Sub Bab. Yang melakukan kategorisasi Kitab dan bab tertentu adalah Imam Nawawi, sebagai pensyarah Kitab Shahih Muslim.

 

Hadis ini merupakan protes para shahabat yang tidak masuk kategori shahabat kaya. Mereka resah dan khawatir tidak mendapat pahala sebanyak pahala orang-orang kaya yang berkecukupan. Orang kaya dapat pahala lebih banyak. Mereka shalat, puasa, dan dapat bersedekah dari sisa harta mereka. Sedangkan yang miskin, juga shalat, puasa, namun tidak dapat bersedekah.

 

Hadis ini menunjukan keadilan dalam Islam. Allah swt Maha Adil dalam memberikan ganjaran. Dan Nabi saw manusia paling bijaksana dalam menyampaikan ajaran. Nabi saw dalam hadis di atas menyampaikan hal yang menarik, sekaligus membahagiakan orang-orang yang tidak berkecukupan harta; miskin.

 

Orang-orang yang tidak memiliki harta melimpah dapat memiliki pahala yang sama dengan orang kaya. Nabi menyampaikan; (i) kalimat tasbih, (ii) kalimat takbir, (iii) kalimat tahmid, (iv) kalimat tahlil, yang terucap dengan penuh kesungguhan dalam penghayatan dan pengamalan merupakan sedekah. (v) Amar ma’ruf nahi munkar, dan (vi) dan menunaikan hasrat seksual dengan cara yang benar dan halal merupakan sedekah.

 

Islam tidak membatasi kebaikkan dengan harta. Orang kaya memiliki keutamaan. Pun demikian orang miskin memiliki keunggulan. Orang kaya semestinya banyak bersyukur dengan banyak-banyak bersedekah. Orang miskin semestinya banyak bersabar dengan banyak-banyak ibadah dan ikhtiyar.

 

Yang ngaco adalah orang kaya yang sombong dan pelit. Dan orang miskin sombong dan malas.

Baca juga:  Akhlak Rasulullah Terhadap Penyintas Kejahatan Seksual

 

Pada malam ini, kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir, dan Tahlil harus menggema seantero dunia. Banyak orang dapat bersedekah malam ini. Tidak hanya penduduk bumi, penduduk langitpun bertakbir.

 

Sudah semestinya sebagai muslim yang baik menghidupi malam ini dengan kebaikkan. Menghiasi malam ini dengan cahaya keimanan, bukan petasan. Mengagungkan malam ini sebagai tanda kemenangan. Kemengan selepas mengalahkan nafsu dan syahwat. Kemenangan mengalahkan godaan setan.

 

Semoga, malam ini, kita diwisuda oleh Allah swt sebagai bagian dari hamba-hambanya yang Shaleh. Berpredikat manusia bertakwa; muttaqin. Sebagai tujuan akhir dari Pesantren Ramadhan.

 

Ied Mubarak,

“Taqabbalallahu Minna wa Minkum”

 

Wallahu A’lam

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: