Santri Cendekia

Cinta Ramadhan 30: Malam Takbir, Penuh Kesyukuran

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو وَكِيعٍ الْجَرَّاحُ بْنُ مَلِيحٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

 

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abu Muzahim Telah menceritakan kepada kami Abu Waki’ Al Jarrah bin Malih dari Abu Abdurrahman dari Asy Sya’bi dari An Nu’man bin Basyir ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar: “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur. Hidup berja’amah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab.”

 

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya , Hadis An-Nu’man bin Baysir, dengan nomor hadis 17721.

 

Pesan yang dapat disarikan dari hadis ini; (i) siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, tidak mampu mensyukuri yang banyak, (ii) siapa yang tidak berterima kasih pada manusia, tidak mampu bersyukur kepada Allah swt, (iii) Membicarakan nikmat Allah swt sangat dianjurkan, dan merupakan tanda kesyukuran, (iv) sedangkan meninggalkannya termasuk perbuatan kufur, (v) hidup berjamaah adalah rahmat, dan (vi) perpecahan adalah adzab.

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

….وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

“….. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah: 185)

Baca juga:  Artificial Intellegence Berfatwa?

 

Malam ini merupakan malam yang penuh kesyukuran. Bersyukur karena Allah swt telah memberikan kembali kesempatan menyelesaikan Shaum Ramadhan. Bersyukur karena kita telah berusaha menjadi hamba Allah yang ta’at, ibadah penuh totalitas, dan berupaya mengisi Ramadhan dengan berbagai aktivitas positif, produktif, dan penuh kebaikkan.

 

Allah swt berfirman dengan ayat di atas, agar kita senantiasa mengagungkan Allah swt. Bertakbir menghiasi malam. Bertahmid memuji-Nya dengan penuh kebahagiaan.

 

Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsirnya, menjelaskan maksud dari “Litukabbiru Allah ‘ala ma Hadakum” yaitu Bertakbir pada Malam Ied Fitri. Beliau mengutip perkataan Imam Syafi’i agar menjaharkan gema takbir, begitu juga yang disampaikan Imam Malik, Imam Ahmad, Abu Yusuf dan lainnya. (Tafsir Marah Labid, 1/48).

 

Menghiasi malam ini dengan takbir merupakan bentuk kesyukuran. Nabi swt menegaskan agar kita senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberikan. Banyak nikmat disyukuri. Sedikit nikmatpun tetap harus disyukuri.

 

Kita juga diperintahkan agar berterima kasih kepada manusia. Terutama kepada orang-orang yang telah mensukseskan program Ramadhan kita. Kepada Istri yang telah dengan sabar memasak dan membangunkan kita yang terkadang “kebluk” manja. Kepada para aktivis tim pembangun sahur juga, yang dengan gigih dan ikhlas ikut membangunkan.

 

Kepada para ibu yang juga ikut memasakkan. Kepada tetangga yang telah mensedekahkan ataupun bertukar menu berbuka. Ke semuanya kita wajib berterima kasih. Sebagai bentuk kesyukuran.

 

Maka, malam ini seyogyanya kita bertakbir berjamaah. Menghidupi malam. Menggemakkan takbir. Karena malam ini adalah malam penuh keagungan.

 

Ramadhan telah pergi. Mungkin kita bertemu lagi, atau tidak ketemu lagi. Ramadhan ibarat tamu. Datang disambut penuh kegembiraan. Perginya diantarkan denga penuh kesyukuran. Terima kasih Ramadhan, engkau mendidik kami agar kami menjadi Hamba Allah yang shaleh, dan diwisuda malam ini berstatus Muttaqin, Insya Allah.

Baca juga:  Layangan Putus, Monogami, dan Keluarga Sakinah

 

Kami, penulis Cinta Ramadhan 1-30 memohon maaf atas segala khilaf, seraya memohon ampunan kepada Allah swt atas kebodohan kami. Semoga Amal ibadah kita diterima Allah swt.

Allahumma Aamiin.

 

الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر،

لا اله الله الله اكبر، الله اكبر و لله الحمد.

 

Wallahu A’lam.

Cecep Supriadi

Pembangun Komunitas Halal Mart HPAI: Penyedia dan Pemasar Produk Halal Berkualitas

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: